Sinau Nusantara KH Ahmad Dahlan, Al-Fatihah dari Rumah Maiyah

Catatan Diskusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 November 2018

Mungkin pembacaan narasi sejarah saya agak berbeda dengan Mas Haidar, tapi tentu itu lebih disebabkan karena bacaan sejarah saya tentu tidak sekomperhensif beliau. Saya masih punya pikiran bahwa andaikata Mbah Ahmad Dahlan itu frontal pada tradisi desa (tahlilan, yasinan dan lain sebagainya) itu adalah wajar dan sangat mungkin memang begitu, karena posisi beliau yang sedang menenangkan hati warga perkotaan.

Namun bagi Mas Haidar, Mbah Ahmad Dahlan pastilah sangat menghargai tradisi-tradisi itu dan menggiring perubahan perlahan-lahan karena latar belakang beliau sebagai seorang Jawa tulen yang mengerti unggah-ungguh. Saya rasa semua bergantung pada dari mana kita melihatnya dan opsi apapun tidak mengurangi sedikitpun keta`dhiman pada beliau. Kadang orang-orang yang belajar sejarah punya dramatisasi pada bagian beban fakta, tapi dengan kesadaran yang sering kita bangun di Maiyah bahwa kebenaran bukanlah segalanya, perasaan terbebani fakta sejarah itu tidak begitu terasa.

Mas Haidar tentu lebih banyak menjelaskan kemudian proses kreatifnya, sanad buku-buku yang mendahului dan menjadi rujukan seperti buku biografi KH Ahmad Dahlan versi Kiai Sujak atau Sang Pencerah. Filmnya tidak usah jadi rujukan, menurut saya orang kita tidak begitu berbakat membuat film biopict sebab kesadarannya dalam mengenang tokoh masih kesadaran mengenang dewa-dewa, artinya kesadaran sejarah kita belum manusiawi betul. Dan betapa gembiranya saya ketika Mas Haidar memaparkan bahwa dalam buku ini memang beliau ingin menghadirkan sosok KH Ahmad Dahlan yang semanusiawi mungkin.

Mengenang sosok dengan tetap menjadikannya manusia memang masih tantangan berat pada kondisi kita. Dan rasanya, inilah sesungguhnya kelebihan Muhammadiyah. Yakni pada kondisi masyarakat yang senang dengan kultur relasi magis-mistis, sosok KH Ahmad Dahlan tidak diglorifikasi dengan kisah-kisah magis, untuk konteks sosio-kultural di Jawa itu adalah prestasi yang tidak sembarangan.

Saya sendiri yakin bahwa pada tingkatan beliau tentu ada juga karomah-karomah kewalian, tapi kalau itu hanya berpotensi melahirkan kultus lagi, maka memang pilihan untuk tidak mereproduksinya secara berlebihan adalah sungguh tepat. Lagipula, Muhammadiyah ini apa bukan bentuk karomah sendiri? Bahwa sepeninggal beliau hingga sekarang keturunan beliau juga tidak menduduki pucuk kekuasaan Muhammadiyah, itu juga tentu adalah karomah dan tidak sembarang tingkat kewalian yang bisa begini.

Inilah perlunya kita kenal konteks zaman beliau berkiprah, dan inilah pentingnya kita menggali sejarah bukan sekadar narasi pemujaan sosok atau glorifikasi heroisme golongan. Seringnya kita bilang ingin belajar sejarah tapi aslinya hanya mau membesar-besarkan dua hal ini saja: sosok dan heroisme golongan. Tapi begitu juga tak apa.

Pertanyaan yang paling sering saya dapati hingga sekarang adalah, makam Kiai Ahmad Dahlan di mana? Hal yang indah adalah, justru pertanyaan tersebut sering diajukan oleh sahabat-sahabat saya yang berlatar belakang Islam tradisionalis, yang ingin menghormati KH Ahmad Dahlan dengan cara mereka. Kita masih mesra kok pada tingkatan bawah dan tetap akan selalu mesra. Pertengkaran hanya ada pada mereka yang bertempur dengan amunisi kota-kontinental, yang merasa segala-galanya adalah perang ideologi. Itu jelas bukan kesadaran masyarakat agraris-maritim-tropis-khatulistiwa.

Bu Roh secara langsung memediatori acara diskusi yang hangat pada malam tanggal 11 November ini. Ketika hujan mulai turun, suhu sedang dingin dan di bawah Syini Kopi sedang menayangkan pertandingan sepakbola Liga Inggris, ada beberapa pertandingan tapi saya lupa itu tim apa saja. Yang saya ingat hanya ada dua tim yang sedang berlaga satu namanya Manchester United dan satunya Manchester City, itu saya ingat karena setelah acara diskusi selesai saya sempat lihat ke layar tivi dan tanpa sengaja berkomentar ke kawan saya, Veri dia sedang berulang tahun, “Sama-sama Manchester kok tanding yah?” Komentar saya ini diketawain olehnya. Padahal saya aslinya mau melanjutkan dengan bilang, “Sama-sama konyol koq nyapres?” Tapi saya ndak jadi bilang begitu.

Lainnya

Buku dan Merchandise