Sinau Nusantara KH Ahmad Dahlan, Al-Fatihah dari Rumah Maiyah

Catatan Diskusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 November 2018

Bayangkan bahwa anda berada pada masa peralihan di atmosfer kolonial. Keberhasilan ekonomi liberal akhir abad 19 menciptakan kelas menengah baru pada awal abad 20. Urbanisasi mengalir ke pelosok perkotaan mengisi kebutuhan akan struktur-struktur baru di pusat-pusat ekonomi, perdagangan  sampai ke instansi-instansi pemerintahan. Sistem pendidikan dibuat untuk memenuhi tuntuan industri dan birokrasi akan tenaga kerja. Sementara secara psikologis, manusia desa yang sedang menyerap stuktur dunia baru ini masih membawa ‘dialek’ dari desa kelahiran.

Dunia industri dan birokrasi memliki jam kerjanya sendiri, itu berbeda dengan waktu luang pada masyarakat pedesaan agraris maupun maritim, di mana jam kerja ditentukan oleh alam dan sosial. Ini yang melahirkan banyak tradisi dengan ubo rampe beragam warna bentuk dan melibatkan sebanyak mungkin warga, tradisi menjadi kepercayaan. Mitos bahwa akan kualat kalau tidak melaksanakan seratus harian keluarga yang meninggal, menyediakan sesajen, bahkan kalau tidak menyempatkan pulang untuk ikut rewang-rewang jelas adalah tabrakan kultural yang menyimpan beban sendiri bagi kelas menengah baru pribumi yang tersudut di pojok perkotaan.

Kelas menengah Londo tidak mengalaminya, karena jauh dari desa yang mereka tinggalkan nun di seberang benua sana. Tapi kita masih punya kesadaran berada di tanah yang sama. Sistem kekerabatan warga desa tidak bisa hilang begitu saja sementara dunia sedang bergerak pada bekunya logam-logam industri. Dia dingin, dia tidak mau tahu. Cara bertahan hidup manusia desa yang komunal, menghadapi raksasa dunia yang sepi dan penyendiri.

Pada dunia seperti itulah KH Ahmad Dahlan berkiprah dan pada masyarakat pekerja ekonomi serta pegawai birokrasi di Kauman, dekat pada pusat pemerintahan Keraton Ngayogyakartahadiningrat yang sedang menjadi kota metropolitan. Beliau mendirikan Muhammadiyah yang masyhur itu. Pada kondisi ekosospolbud itulah Mohammad Darwis–nama muda beliau–sebagai seorang kelahiran priyayi agamawan keraton, mengambil posisi wong sepuh yang mengayomi hati para warga. Di desa-desa masalah selalu beres karena sistem komunalnya, tapi bagaimana dengan masyarakat perkotaan yang sedang yatim kebudayaan? Ada strategi budaya sendiri untuk menghadapinya.

Memerdekakan manusia dari kecemasan adalah selalu tugas utama tauhid, dan KH Ahmad Dahlan menjadi pembebas dari kecemasan masyarakat urban yang sedang galau antara menjadi bagian dari kota industri dan kultur birokrasi sambil masih perlu menjadi bagian dari warga desa kelahiran di daerah-daerah manca. Itulah kenapa Muhammadiyah kelak dikenang lebih sebagai gerakan anti tradisi budaya. Padahal sebenarnya, bila kita mengerti konteksnya, Muhammadiyah adalah gerakan budaya juga, dia budaya Islam yang lahir di jantung perkotaan.

Mas Haidar Musyafa, penulis muda yang sangat produktif, baik sekali menjelaskan berbagai fenomena sejarah mengenai sosok KH Ahmad Dahlan yang beliau tuangkan menjadi novel biografi. Ini sudah kesekian kalinya Mas Haidar diundang untuk membedah buku karya beliau pada diskusi Sewelasan. Kali ini diadakan di lantai dua perpustakaan EAN. Di lantai bawah, warung Syini Kopi sedang aktif melayani pelanggan sementara Rumah Maiyah di jantung pendopo sedang semarak oleh gerak tubuh, komposisi panggung serta warna-warna dialog dalam rangka persiapan menuju pementasan #Sengkuni2019. Satu pementasan yang akan melatih kita melihat segalanya lebih imbang, segalanya berarti diusahakan semuanya sejangkep mungkin. Itu yang selalu kita latih di berbagai majelis Maiyah dan itu perjuangan kita.

Untuk mengimbangi pembacaan data sejarah dari Mas Haidar, disksusi sewelasan kali ini juga mengundang Pak Wahyudi Nasution. Nama ini jelas sudah akrab bagi para JM, beliau menemani perjalanan Mbah Nun dan KiaiKanjeng sejak lama. Saya masih ingat ketika beliau kapan hari di Mocopat Syafaat berkelakar, bahwa pementasan Lautan Jilbab awal 90-an menjadi ajang rezekinya karena bertahun-tahun kemudian ketika jilbab menjadi kultural dan fenomena hijab mensamudera, beliau menjadi pedagang hijab yang sukses di wilayah Klaten. Kali ini kita bertemu Pak Yudi untuk peran beliau yang juga aktif di pergerakan Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah gerakan dan memang selalu bergerak. Karena budaya bukan sesuatu yang statis.

Nama KH Ahmad Dahlan sangat berkesan bagi saya pribadi, tanpa mengurangi rasa hormat pada sosok-sosok besar Islam lainnya. Tapi bagi saya, KH Ahmad Dahlan adalah gambaran kejeniusan budaya. Maka saya walau bertugas hanya sebagai pencatat kegiatan Sewelasan juga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya pada dua narasumber pada malam hari itu.

Buku Cak Nun