Sinau Ngaku Lepat sebagai Bekal untuk Laku Papat

Catatan Majelis Ilmu Maiyah Balitar Juni 2018

Malam 9 Syawal 1439 H, 23 Juni 2018, Majelis Maiyah Balitar (MMB) kembali menggelar ‘hari raya’-nya. Setelah 34 hari berpuasa untuk tak bersua, malam itu mereka sejenak berbuka berkumpul bersama. Sejenak mengantongi energi yang terpancar dari kebersamaan Maiyah untuk menjalani puasa kembali di hari-hari berikutnya.

Suasana lebaran masih sangat terasa. Bertoples-toples kue lebaran turut menemani kebersamaan mereka. Seolah doa yang terkandung dalam tema MMB pertama dua tahun lalu itu diijabahi. Sambung Rasa, Sambung Paseduluran. Selalu ada saja wajah-wajah baru yang hadir dalam setiap Maiyah Balitar digelar. Seperti malam itu, Aria, misalnya. Ia hadir dengan mengajak ketiga temannya yang belum pernah ikut melingkar di Maiyah Balitar sebelumnya. Selain itu juga ada Mas Wawan, jamaah asal Surabaya yang kebetulan ikut mudik ke Blitar menemani istri tercinta. Semua berkumpul dalam ruang dan waktu yang sama, saling memancarkan atmosfer cinta kasih yang kian menghangatkan ikatan paseduluran di antara mereka.

Antara Benang Horizontal dan Vertikal

Mengawali diskusi, Mas Komed sedikit menyinggung soal fenomena hari raya. Menurut Mas Komed, akhir-akhir ini hari raya Idul Fitri cenderung diartikan tak lebih dari hanya sebatas seremonial belaka. Kesadaran untuk benar-benar saling memaafkan seolah teralihkan oleh atribut-atribut hari raya. Senada dengan itu, Mas Jeffi juga menyuarakan keprihatinannya. Bahwa di momen hari raya Idul Fitri yang identik dengan saling bermaafan seperti ini, malah tak sedikit yang mewarnainya dengan debat politik yang saling menjatuhkan dan tak jarang memancing perpecahan.

Berbicara mengenai Ngaku Lepat, Mas Komed sempat bercerita mengenai pikiran nakalnya yang sempat terlintas di masa kanak-kanaknya dulu kala. “Aku i ra tau nduwe dosa karo wong kuwi, nyapo kok ndadak njalok sepura?” Aku tidak pernah berbuat salah dan dosa kepada orang itu, kenapa harus minta maaf? Begitu protes Mas Komed kepada bapaknya saat diajak bersilaturahim kepada sanak saudara yang Mas Komed sendiri belum pernah bertemu sebelumnya.

Menurut Mbak Hilwin, momen saling bermaafan di hari raya ini juga bagian dari pendidikan. Terdapat pesan dan ajaran untuk menumbuhkan kerendahhatian dari ritual ini. Saling berkunjung ke rumah sanak saudara dan kerabat untuk meminta maaf mengajarkan dan mengenalkan akan pentingnya selalu belajar rendah hati mengakui kesalahan sejak dini. Sejak kecil kita sudah diajar untuk mengakui bahwa yang salah bukan hanya mereka, tetapi juga kita. Kalaupun sekarang praktiknya pesan ini masih belum benar-benar tersampaikan, kalaupun saling bermaafan ini hanya berlangsung formalitas belaka dan meniadakan esensinya, barangkali ada yang kurang pas dari kita dalam memandang dan memperlakukannya. Tak ada salahnya kita menghitung-hitung kembali, apa gerangan yang menyebabkan ketidaktepatan ini.

Masih tentang meminta maaf, Mas Danang pun memaparkan pendapatnya. Sekalipun kita merasa tidak berbuat salah dan dosa kepada yang lainnya, kita tetap perlu meminta maaf kepadanya. Siapa tahu, pada suatu waktu kita pernah menyakiti hatinya tanpa kita sengaja dan kita sendiri pun juga tidak menyadarinya.

Yang perlu diingat kembali, secara garis besar ada haqullah dan haq ‘adamy. Ada hak Tuhan dan juga hak sesama makhluk Tuhan. Dalam meminta maaf yang tak lain adalah bagian dari perjuangan untuk menuju kesucian, kita tak bisa hanya meminta maaf kepada salah satu pihak saja. Kita perlu meminta maaf kepada Tuhan dan sesama makhluk-Nya.

Mas komed membahasakannya dengan ada wilayah yang memang itu urusannya kita dengan Tuhan. Ada pula wilayah yang di situ Tuhan sudah ‘lepas tangan’, karena ini memang wilayah kita dalam seserawungan dengan liyan. Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang sudah sangat sekarat, tapi ia tak kunjung dipanggil juga. Usut punya usut, sosok lelaki tersebut tak kunjung diambil nyawanya karena masih ada dosanya yang belum diampuni oleh ibunya. Lelaki tersebut baru bisa menghembuskan napas terakhirnya setelah mendapatkan ampunan dari sang ibu. Cerita dalam hadits ini seolah ingin mengingatkan, bahwa tidak akan diampuni dosa di antara sesama manusia, kecuali mereka telah saling mengikhlaskan untuk memaafkan satu dengan yang lainnya.

Sedang jika berkaitan dengan Tuhan, kenapa kita harus meminta maaf, bukankah Tuhan itu Maha Pengampun? Tanya Mas Bayu. Mas Rio, penggiat BBW yang berkesempatan hadir karena sedang mudik ke Blitar ini, mencoba merespons pertanyaan Mas Bayu. Tentunya kita tetap perlu, bahkan sangat perlu untuk selalu meminta ampunan Tuhan. Lhawong, apa yang kita lakukan setiap hari belum tentu benar-benar benar seratus persen. Pasti ada mleset-mlesetnya.

Sementara itu, Mbak Hilwin memandang meminta maaf kepada Tuhan ini sebagai kebutuhan. Sekalipun Tuhan Maha Pengampun dan telah memaafkan segala dosa dan salah kita, kita tetap perlu meminta maaf sebagai perwujudan keromantisan kita dengan Tuhan. Tak lain, ini menjadi bagian dari usaha kita untuk menjaga kerinduan kita dengan Tuhan. Agar kita tetap bisa bermesraan dengan Sang Pemilik dan Pengendali kerinduan.

Meski Berat, Harus Tetap Dipanjat

Mas Nashir menuturkan bahwa makna ngaku lepat ini sangatlah berat. Kalau kita benar-benar bisa ngaku lepat, tak akan ada lagi koruptor. Sedang saat ini, setiap kita adalah koruptor. Meskipun korupsi yang kita lakukan tak selalu sama wilayah dan skalanya.

Mengamini apa yang telah disampaikan Mas Nashir, Mas komed berpendapat bahwa ngaku lepat ini memang tak mudah. Selama ini yang kita lakukan hanya sebatas meminta maaf, tapi sangat sedikit dari kita yang mengakui apa kesalahan kita. Hanya sekadar meminta maaf dengan yang mengakui segala kesalahan dan meminta maaf, tentu rasanya tidak akan sama. Semacam ada beban tambahan saat kita mencoba mengakui kesalahan kita. Dan sayangnya, selama ini kita masih jarang mengakui dan menyatakan kesalahan kita yang sebenarnya. Entah enggan, atau memang kita belum punya cukup keberanian.

Setidaknya, masih menurut Mas Komed, ngaku lepat ini bisa menjadi pijakan awal untuk kita belajar melakoni laku papat; lebar, luber, lebur, dan labur. Lebar, selesai. Ini mengajarkan kita untuk belajar mengikhlaskan yang sudah-sudah. Luber, kita belajar untuk memberikan maaf dan ampunan yang melimpah kepada siapapun saja. Seperti yang telah dicontohkan Mbah Nun dan juga Kanjeng Nabi. Bahwa Mbah Nun dan Kanjeng Nabi ini selalu memberikan maaf kepada siapapun saja. Dengan saling memberikan maaf yang seluas-luasnya kepada sesama, harapannya kita akan mendapatkan ampunan dan keberkahan yang tak terhitung jumlahnya dari Yang Maha Segalanya. Segala kesalahan kita, baik dengan sesama manusia maupun dengan Sang Maha dilebur. Hingga kita pun bisa kembali bersih dan suci, layaknya tembok orang Jawa yang dilabur menyambut datangnya hari raya Idul Fitri.

Malam itu, sebagaimana teman-teman lain, Mas Jeffi membagikan wawasannya, yakni mengenai sejarah kupat yang merupakan singkatan dari ngaku lepat. Menurut Mas Jeffi, kupat atau makanan ketupat ini sudah ada jauh sebelum ajaran Islam masuk ke Indonesia. Hanya saja, Sunan Kalijaga mencoba menggunakan kupat ini sebagai media dakwahnya. Kanjeng Sunan menyisipkan ajaran-ajaran Islam melalui simbol ketupat itu sendiri. Mas Jeffi merinci jenis-jenis ketupat. Bahwa ketupat itu ada banyak macamnya. Antara ketupat yang digunakan sebagai suguhan saat lebaran dengan ketupat yang digunakan untuk larung saji di pantai selatan itu sudah tak sama bentuknya.

Di luar tema Idul Fitri dan Lebaran, ada hal lain. Sebagai penggiat Maiyah yang cukup lama, Mas Rio mengungkapkan kebahagiaannya melihat bagaimana Maiyah Balitar, simpul kecil yang sedang berjalan ke usia tiga tahun ini, berjalan. Meskipun hampir semua jamaahnya hanyalah anak-anak muda, nyatanya ini tak menjadi penghalang mereka untuk sinau bareng, mempelajari sesuatu secara mendalam. Sedikit banyaknya jamaah, tua muda, tak menyurutkan semangat mereka untuk terus belajar bergerak. Mencoba mencari apa yang memang seharusnya dicari. Mencoba mengumpulkan dan menyatukan apa yang masih terserak di sekitar diri.

Mengawali dan menyudahi sinau bareng malam itu dengan melantunkan asma Tuhan dan Kekasih-Nya, menjadi salah satu usaha agar perkumpulan malam itu mendapat ridla Tuhan. Tak lain, ini hanyalah bagian dari usaha jamaah untuk menghadirkan Gusti dan Kanjeng Nabi dalam kebersamaan mereka. Agar mereka pun tetap terjaga dalam jalinan indahnya segitiga cinta. “Semoga majelis ini menjadi majelis yang Engkau ridlai.” Kurang lebih begitulah bagian dari do’a penutup yang dihaturkan Mas Komed malam itu. Sebelum akhirnya, jamaah saling bersalam-salaman saling mengikhlaskan segala kesalahan, dan disambut dinginnya angin fajar yang menemani setiap perjalanan pulang.