Sinau Menjadi Keluarga Berencana yang Bergembira

Liputan Sinau Bareng CNKK di Alun-alun Satya Negara Sukoharjo, 30 Oktober 2018

Pada Sinau Bareng di Alun-alun Sukoharjo malam ini, saya datang lagi bersama Dwi. Sekadar mengulang ingatan, Dwi adalah rekan saya yang pernah ikut Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di alun-alun Sragen Mei silam.

Kalau dulu Dwi masih ‘magang’ di Universitas Maiyah, alhamdulillah menurut saya sekarang ia telah menempuh semester 1 (Mei-Oktober 2018). Apa indikasinya? Ada beberapa. Kini, ia sudah ndak hobi kebut-kebutan di jalan. Alasannya, ia tak mau lagi mencelakakan diri dan orang lain. Pekerjaan sebagai tukang pos yang digelutinya sekarang pun sangat disyukuri. Sebab profesi tukang pos itu menyangkut hajat orang banyak, dan Dwi gembira ketika ia bisa melayani masyarakat luas. Juga akhir-akhir ini Dwi aktif sekali nyemplung di berbagai komunitas dan organisasi. Bahwa kekancan dan kebersamaan itu nyenengkeh tenan katanya. Pokoké susah senang bareng-bareng. Itulah mungkin sedikit gambaran orang yang pernah ‘kuliah’ di Maiyah. Jembar atiné. Merdeka uripé.

Tiba di lokasi pukul 20.45 WIB, kami disuguhi deretan panjang kendaraan roda dua dan empat yang berjajar rapi di seputaran Alun-alun. Sebuah indikasi bahwa antusias masyarakat untuk Sinau Bareng sangat tinggi. Berbanding lurus dengan nominal rupiah yang berhasil dihimpun para juru parkir. Juga pedagang alas duduk, penjual kopi, rokok, minuman, bakul angkringan dll. Maiyah memang membawa berkah bagi semua.

Baru saja saya memesan kopi, mobil yang membawa Mbah Nun tiba di belakang panggung. Lantunan lagu Indonesia Raya bergema menjadi pembuka acara Sinau Bareng CNKK dalam rangka Advokasi Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (PKKBPK). Acara ini terselenggara atas kerjasama BKKBN, Polsekta, Espero dan Poltekkes Bhakti Mulia. Berlokasi di Alun-alun Satya Negara, Jl. Veteran, Kab. Sukoharjo.

Sesi awal langsung hangat oleh sambutan bapak Wardoyo Bupati Sukoharjo yang gembira dengan adanya acara Sinau Bareng malam ini. Pak Bupati juga menilai Mbah Nun sosok yang tepat untuk memberi ‘sangu’ dalam membina sebuah keluarga.

Dilanjutkan sambutan bapak Sugiyono perwakilan BKKBN daerah Sukoharjo yang mengapresiasi bapak Bupati, di mana kabupaten Sukoharjo sangat concern dan komit dalam mewujudkan program keluarga terencana berencana. Sebagai hadiah, pantun spontan diberikan pak Sugiono untuk sang Bupati. Membelah kayu pakai kapak belati. Kami doakan bapak semoga terus jadi bupati.

Harap maklum, tulisan ini saya ketik di sela-sela mencari celah untuk mencari tempat duduk. Tapi gagal. Jamaah benar-benar membludak di depan, di kiri, kanan, sampai belakang panggung. Alhasil saya hanya dapat menyaksikan Mbah Nun beserta tamu undangan via layar lebar.

Di sesi berikutnya, Mbah Nun mempersilakan 3-5 jamaah untuk bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Program Keluarga Berencana. Beberapa pertanyaan muncul, di antaranya kenapa program KB terus digalakkan sejak era Soeharto hingga sekarang. Apakah program tersebut gagal? Kemudian ada yang bertanya centil, kenapa harus Mbah Nun yang diundang ke sini bukan kiai yang lain. “Mergo aku wis mbah, liyane hurung”, jawaban Simbah membuat para jamaah tertawa.

Ada juga mbak-mbak yang bertanya sedikit menggugat. Begini, sebenarnya KB itu halal atau haram sih. Kalau bicara halal-haram mesti ada data-datanya lho ya, timpal Mbah Nun. Jawaban Mbah Nun tersebut kembali mengundang tawa sekaligus memancing logika kita untuk berpikir dulu sebelum bicara. Bahkan ada ibu-ibu yang membawa berkas, menyampaikan langsung keluhannya kepada bapak Bupati perihal nasib suaminya yang saat ini sedang di penjara.

Masing-masing pertanyaan dijawab secara proporsional oleh para narasumber. Sedangkan Mbah Nun secara cerdas menuntun, mencerahkan, menawarkan solusi-solusi, penanganan-penanganan yang tepat untuk menyikapi setiap permasalahan. Entah kenapa jamaah selalu dibuat girang, tertawa lepas, dan gembira lewat kata-kata (jokes) yang dipaparkan oleh Mbah Nun. Sialnya, saya selalu terlambat tertawa karena sedang menggerakkan dua ibu jari di layar pintar. Maka liputan singkat ini saya cukupkan sekian. Saya juga ingin tertawa. Sebab, di Sinau Bareng yang utama adalah menemukan kegembiraan. Gembira yang menggembirakan diri dan disukai Tuhan.

Buku Cak Nun