Sinau Candi Belahan untuk Membangun Masa Depan

Reportase Majelis Maiyah Sulthon Penanggungan 25 Agustus 2018

Begitu banyak negeri kujalani, yang masyhur permai dikata orang…
Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku merasa tentram…

Kalimat di atas merupakan kutipan syair lagu Nasional yang berjudul Tanah Air. Kira kira seperti itulah perasaan yang tergambar dari senyum Cak Jasmani, saat tiba di markas Sulthon Penanggungan dan bersalaman dengan para Pegiat SP yang sore itu menaikkan segala peralatan dan kebutuhan untuk acara rutin Maiyah yang kali ini diselenggarakan di komplek candi Belahan.

Cak Jasmani adalah warga Pasuruan yang bertahun-tahun berada di negeri ginseng, dan sempat melingkar di simpul Maiyah Tong il Qoryah di Korea. Kecintaannya pada Maiyah telah mengantarkan beliau menemukan simpul Maiyah Sulthon Penanggungan. Melingkar dan Sinau Bareng bersama SP adalah salah satu dari beberapa motivasi besar yang membuat ia semakin bersemangat untuk kembali menghirup udara negeri merah putih ini. Terhitung tiga hari setelah kedatangannya dari Korea, kegiatan bepergian perdananya adalah dengan mendatangi markas SP.

Seperti kebiasaan orang Maiyah, suasana keakraban dan kemesraan langsung terasa, ia langsung bersinergi bersama para Pegiat SP.

Sekitar pukul 16.30 WIB mobil pengangkut perlengkapan berangkat menuju candi Belahan, diiringi beberapa Pegiat yang berangkat mengendarai motornya.

Sepanjang perjalanan terlihat pemandangan alam sekitar Penanggungan yang terlihat eksotis di bawah temaram senja. Memasuki kawasan Candi Belahan, terlihat beberapa Pegiat yang berada di atas mobil berdoa, ‘uluk salam’ dan kirim Fatihah yang ditujukan untuk semesta Belahan.

Setiba di area parkir candi Belahan, rombongan disambut beberapa jamaah Belahan yang dipunggawai oleh Cak Sama’i. Dengan kompak segala perlengkapan segera diturunkan dan ditata sesuai rencana.

Setelah istirahat sejenak untuk sholat Maghrib, kegiatan ‘mbeber kloso’ dilanjutkan dan selesai tepat waktu meski mengalami sedikit kendala instalasi listrik.

Maiyahan kali ini terasa sangat spesial, pesertanya menggambarkan dengan jelas tentang sinergi generasi muda dan generasi tua. Yaitu rombongan dari sebuah padepokan dari Mojokerto yang diasuh Ki Wiro Abdur Rohman dengan ciri khas blangkon dan udheng nya. Kemudian anak-anak muda Maiyah dengan ciri khas kopyah merah-putihnya.

Dari para generasi tua terpancar luasnya pengetahuan tentang nilainnilai luhur masa lampau, sesuai semboyan “memayu hayuning bawana”.

Dari kopyah merah-putih yang dipakai oleh jamaah Maiyah, mengingatkan benak pada sebuah hadits yang berbunyi, “Dari Tsauban, Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah melipat bumi untukku hingga saya dapat melihat timur serta baratnya. Sebenarnya kekuasaan ummatku bakal meraih apa yang sudah dinampakkan untukku. Aku diberi dua perbendaharaan besar yaitu warna merah dan putih. Aku bermohon kepada Tuhanku untuk ummatku supaya Dia tak membinasakan mereka dengan kekeringan menyeluruh dan supaya Dia tidak memberikan kuasa kepada musuh terkecuali diri mereka sendiri yang menyerang sesama mereka.” (HR. Muslim)

Dari hadits tersebut dapat menjadi gambaran bahwa mereka generasi Maiyah adalah generasi yang terus menebar salam, dengan perpaduan antara keberanian dan kesucian (as syaja’ah wa nadhafah) yang tak pernah kekeringan akan cinta kepada Allah, Rasulullah, dan sesama makhluk.

Pukul 20.00 WIB, acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al Qur’an dilanjutkan dengan pembacaan sholawat Nabi yang terasa begitu hikmat seolah telah berpadu dengan kesakralan situs patirtan Sumber Tetek.

Setelah membuka acara, Cak Hasan selaku moderator kemudian mempersilahkan para sesepuh untuk memperkenalkan diri dan memberi sambutan.

Suasana cair terasa saat Cak Sama’i membawakan puisi tentang Mpu Bharadah dan Airlangga, yang berisi pesan pesan indah yang terangkai dari huruf-huruf awal nama kedua tokoh tersebut. Kemesraan berlanjut saat suara merdu mbak Lia melantunkan lagu “Deen assalam” disambung dengan lagu Kebyar-Kebyar yang spontan langsung diikuti koor audiens. Suasana makin menghangat saat semua yang hadir berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Cukup banyak ilmu yang didapat dari tema “Semesta Belahan” kemarin. Mulai dari sejarah Prabu Airlangga, kejayaan Nusantara di masa lalu, hingga konsep kepemimpinan para leluhur zaman dahulu.

Makna relief, dan simbolisasi dari arca-arca yang berada di area candi juga dijelaskan dari berbagai sudut. Mulai dari sisi spiritual yang menjelaskan tentang salah satu arca Dewi yang sekarang tidak lagi memancarkan air karena terlalu sering dipakai untuk ritual yang bersifat negatif. Kemudian dari sudut sains yang menyebutkan tentang penelitian kandungan zat mineral dari air candi Belahan, yang kemudian melahirkan sebuah spekulasi tentang kebijakan para leluhur untuk melindungi kandungan bumi agar di hari depan tidak terjadi eksploitasi dengan membangun bangunan sakral di atasnya. Dari sisi teknologi dijelaskan tentang sistem penempelan batu atau bata yang dipakai dalam pembangunan candi dengan sistem ikatan antar pori-pori.

Dari penjelasan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan, spiritual, dan teknologi para leluhur Nusantara sebenarnya begitu penting untuk digali sebagai bekal membangun negeri ini di masa yang akan datang.

Para sesepuh sangat mengapresiasi kegiatan Maiyah yang mengangkat tema Semesta Belahan malam kemarin, senada dengan tanggapan dari Babinkamtibmas yang juga hadir bersama petugas Babinsa.

Kehadiran rombongan sedulur dari Simpul Maiyah Paseban Majapahit Mojokerto di tengah acara seolah melengkapi ke-‘spesial’-an acara malam itu.

Tepat tengah malam acara resmi diakhiri setelah sebelumnya membaca doa khotmil Qur’an dan sholawat penutup yang dipimpin cak Taufiq, dilanjutkan Doa oleh Gus Nur Wahid dari Sidoarjo.

Di antara sejuknya udara candi Belahan yang menerbangkan partikel partikel air yang memancar dari arca Dewi Laksmi lambang kemakmuran, terlihat wajah wajah bercahaya penuh dengan semangat pensucian diri dan perjuangan menapaki kemuliaan.

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, Bangsaku, rakyatku, Semuanya… Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya…

“Makanlah dari rezeki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya!’. Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofûr”.

Fasubhanalladzi biyadihi malakutu kulli syai-in wa ilaihi turja’un.

Buku Cak Nun