Sinau Bebarengan Mengamankan Diri dari Mabuk Thaghut

Catatan Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 November 2018

Malam tanggal tujuh belas bulan November 2018 M kali ini, di majelis Mocopat Syafaat kita sedang berkumpul kembali seperti tanggal tujuh belas setiap bulannya. Berkumpul dengan semangat jamaah bukan menjadi massa yang sekadar manut pada arahan komando elit cendekiawan maupun agamawan, kita berkumpul dengan mengaktifkan segala daya akal dan batin.

Cak Fuad tiba ke panggung dengan iringan lantunan Shalawat Badr dari KiaiKanjeng. Semangat perang badr terus menyala dalam sunyi setiap kaum muslimin, selalu menyala sebagai api gairah perjuangan, jihad hidup. Hanya sayangnya kita memang berabad-abad lamanya, salah memetakan musuh perang badr kita sehingga kita saling menyingkirkan, membinasakan, membakar dan mengusir-usir setiap yang dianggap tidak satu garis seperjuangan dengan golongan kita.

Pada majelis-majelis Sinau Bareng, pada setiap fenomena Maiyah, kita berjuang untuk menjadi ruang yang menampung semua makhluk tanpa mendramatisasi kesetujuan maupun ketidaksetujuan. Kita berjuang menjadi ruang, dan ternyata seperti itu adalah juga bentuk perjuangan dalam melawan thaghut.

Ini saya simpulkan dari pemaparan Cak Fuad, dan tentu pembaca yang budiman berhak punya kesimpulan sendiri. Cak Fuad mengawali pembahasan mengenai sikap berlebih-lebihan yang diperingatkan pada kita melalui surah Al-Kahfi ayat 28. Ayat tersebut memang diakhiri dengan peringatan agar jangan mengikuti orang yang melampaui batas, orang yang berlebih-lebihan. Tapi bagaimana sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas itu? Seperti apa konteksnya? Atau, adakah dia hubungannya dengan ayat selanjutnya? Karena ternyata pada ayat setelahnya Allah Swt justru langsung memulakan dengan kalimat “wa qulli haqqu min robbikum”. Bahwa setiap kebenaran datangnya dari Allah sendiri. Nah, apakah jangan-jangan kita sedang mabuk kepayang dan berlebihan dalam merasa benar?

Jangan-jangan kita selalu dramatis pada kebenaran, dengan narasi seolah adalah perjuangan menegakkan agama Allah, tapi malah lebih meninggikan posisi golongan, ormas dan para idola kita. Idola agamawan maupun idola tokoh politik, idola pergerakan, idola pemikiran dan idola apapun sehingga tanpa terasa menjadi sesembahan alias thaghut itulah.

Thaghut itu apapun yang disembah selain Allah,” papar Cak Fuad. Tentu saja semua kaum muslimin dan muslimat merasa tidak menyembah siapapun dan apapun selain Allah. Tapi seandainya ini adalah perjuangan yang mudah, ngapain Allah sampai memperingatkan manusia dengan bahasa yang sangat serius? Jangan-jangan kita bisa berpotensi melahirkan thaghut-thaghut tanpa kita sadari sedang kita thaghut-kan.

Dan rupanya sikap keberlebih-lebihan inilah yang oleh Cak Fuad dianggap berpeotensi melahirkan thaghut-thaghut dalam pikiran. Berlebihan ini bisa pada banyak hal, dari berlebihan pada militansi golongan, berlebihan dalam mensuci-sucikan dan mengkultuskan tokoh, berlebihan membakukan madzhab tarekat, bahkan berlebihan dalam kegiatan-kegiatan yang dianggap kegiatan beragama itu sendiri. Kita menjadi “seperti mabuk tapi tidak merasa mabuk”.

Cak Fuad menyontohkan, bagaimana trend zaman di mana orang membakukan kegiatan agama dari ukuran-ukuran fisik belaka. Jumlah pahala dikalkulasikan dengan matematis, jumlah wiridan, dan bahkan ada saja orang tua yang ingin masuk surga dengan cara praktis seperti membangun investasi dengan cara memaksa anak-anak mereka menghapal Al-Qur`an. Perhitungannya karena anak yang soleh adalah jaminan surga, padahal kita hidup dalam keadaan yang mesti selalu waspada. Salah satu kelebihan Al-Qur`an menurut Cak Fuad memang di antara kitab lain dia paling mudah dihapalkan. Kita juga sangat perlu mengapresiasi para tahfidzul qur`an tapi juga jangan berlebihan dibakukan.

Jadi memang pada berbagai bidang kita sedang mabuk, sedangkan wa ma huwa mabuk kalau bukan pikiran yang sedang limbung, kehilangan keseimbangan, minim presisi dan tidak proporsional? Karena begini-beginian inilah kita selalu melahirkan kembali sesembahan yang selain Allah Swt. Tanpa sadar kita menyembah agama, tafsir agama, elit agamawan. Menyembah ritual dan tradisi beribadah, menyembah institusi, tarekat-isme, ideologi. Maka perjuangan meruntuhkan thaghut dalam diri, kalau kita coba simpulkan adalah, perjuangan yang tidak kenal batas waktu. Selalu eling ben waspada, bahwa sedikit saja kita luput kita bisa terpeleset. Hidup manusia memang semendebarkan berjalan di atas titian setipis rambut dibelah tujuh, bukan?

Hal ini kemudian nyambung juga pada pemaparan dari Mas Karim pada penghujung malam yang hangat ini. Kalau secara cuaca, agak gerah sih sebenarnya. Bahwa dari pengamatan beliau orang Maiyah selalu punya ciri berpikirnya mencari titik imbang itulah yang membuat Mas Karim tertarik meneliti Maiyah sebagai salah satu bentuk pengamanan melalui agen non-negara.

Lainnya

Maido Hasanah

1:11

Manusia Ruang

Buku dan Merchandise