CakNun.com

Sinau Bebarengan Agar Suporter Tetap Manusia

Reportase Sinau Bareng Macan Muria Kudus, Alun-Alun Kudus, 2 Oktober 2018

Tingkah nakal Mas Urip Utoyo dibalas dengan kenakalan juga oleh Mbah Nun, disentil berbagai candaan. “Nek iki pengajian ra pantes ngene iki, tapi ini bukan pengajian, ini Sinau Bareng. Di Sinau Bareng kita terima semua manusia”

Kita mesti belajar, muta’allimul ghaibnyinauni opo sing kowe rung ngerti”, sinau terus. Seringnya naluri pembelajaran kita terdistorsi oleh nafsu untuk mengajari. Maka Sinau Bareng tidak bersifat nuturi melainkan memberi benih-benih yang bisa disemai pada lahan akal dan hati masing-masing individu.

Satu-satunya cara nyinauni adalah “asy-syahadah” menyaksikan dan mengakui segala sesuatu sebagai apa adanya Dia. Kita kemudian diajak bertualang pada manajemen “robbunnas, maalikinnas, ilaahinnas”. Dari situ kita menempuh proses asmaul husna: mu’min, muhaimin, ‘aziizul-jabbar. Semua kontekstual dengan posisi sebagai pemomong bagi para sesepuh, juga sebagai manusia dan suporter sepak bola.

Sepertinya saya perlu sedikit mengoreksi pandangan saya mengenai sifat para suporter sepak bola. Mungkin hingga sekarang belum benar-benar berubah. Tapi saya juga perlu proses untuk belajar dan membongkar pemahaman saya yang lama. Ada sedikit rombakan pemahaman itu ketika kelompok-kelompok suporter mempresentasikan hasil diskusi mereka malam itu.

Semua punya harapan baik. Rata-rata mereka paham posisi dan pentingnya berlaku kebaikan, belajar dan eling lan waspada terhadap kahanan. Adanya kasus-kasus negatif yang terjadi dan dilakukan oleh suporter lain mereka jadikan bahan untuk muhasabah, bercermin dan memperbaiki diri. Bila sudah bicara satu-satu seperti ini, tampak bahwa manusia sudah tidak mungkin dijadikan sekadar massa. Semua punya pikirannya yang unik dan otentik. Memang juga ada beberapa pemuda yang masih kurang pas menyusun artikulasi hingga bahasan melebar ke mana-mana, tapi itu juga proses belajar.

Artinya hasrat untuk sinau, tholabul ‘ilmi dan menggapai kemesraan selama ini selalu besar di antara kita. Hanya sayangnya wadah yang tersedia baik dari ormas, parpol, institusi pendidikan hingga bentuk-bentuk pengajian belum ada yang siap memandang manusia sebagai manusia per individu dengan otentisitasnya.

Tradisi pengajian dan pembacaan kitab kita masih tradisi Persia yang diserap dinasti Islam yang mabuk kemegahan Romawi. Segala bentuk yang berlaku di negeri ini hingga sekarang masih tinggalan era kolonial, Orla dan Orba yang pandangannya masih seolah butuh jumlah massa, followers dan pengikut. Butuh militansi pada golongannya hingga selalu berlebihan dalam menampakkan jasa saat menang dan dramatis lebay menampakkan derita saat kalah terinjak. Semua itu masih mental suporter era lampau.

Ternyata malah pada suporter sepak bola malam itu saya lihat keberdirian, ketangguhan untuk mateg aji, teguh jadi manusia bukan jadi massa. Sinau Bareng bukan produk kolonial. Maiyah bukan ormas rutin pengajian yang terbentuknya mesti berdamai dengan pengesahan dari Hindia-Belanda atau NKRI.

Maka yang tumbuh dalam Sinau Bareng adalah benih-benih yang organik, bukan dari pupuk atau obat kuat anggaran negara. Ada tidak ada negara, manusia-manusia ini akan tetap belajar. Sinau Bareng, manusia lahir. Manusia yang bisa mandiri berpikir, berdaulat atas keputusan-keputusannya sendiri, tidak melulu merengek dan manja pada kaum intelek agamawan, atau menuntut terus pemaknaan dari kitab-kitab abad lampau yang sudah lapuk menguning dan berlumut. Tapi juga mereka akan siap merawat kitab-kitab, sanad dan nasab bukan untuk menganutnya setengah mati tapi demi menghargai capaian generasi-generasi pendahulu. Kemudian dikontinuasi. Saya hampir tak percaya bisa melihatnya ada pada diri suporter sepakbola.

Group shalawat malam itu juga yang asli dari Kudus melantunkan sholawatan khasnya, Kiai Kanjeng bisa mengikuti dan memperhalus lantunan nada. Para suporter bertekad untuk membuat satu manifesto yang berguna untuk menegaskan kuda-kuda langkah mereka ke depan dan itu sangat diapresiasi oleh Mbah Nun. Diam-diam sepertinya mereka bertekad agar manifesto itu sudah selesai beberapa hari ke depan. Sebab Sinau Bareng akan kembali ke Kudus pada tanggal 5 Oktober nanti.

Di berbagai tempat, manusia-manusia lahir dari Sinau Bareng. Di berbagai tempat, baitul maqdis makin menunjukkan keberadaannya yang sejati.

Lainnya

Radikalitas Maiyah

Radikalitas Maiyah

Apa itu, radikal? Kenapa kata itu menjadi penting sekarang sampai dibahas di media dan antar kelompok, organisi agama bahkan institusi pemerintahan?

Ziarah di Makam Syaikhona Kholil

Ziarah di Makam Syaikhona Kholil

Sebelum acara Sinau Bareng di Pondok Pesantren Ibnu Kholil di Bangkalan Madura malam ini (Minggu, 31 Maret 2019) dalam rangka memeringati haul KH.