Sinau Bebarengan Agar Suporter Tetap Manusia

Reportase Sinau Bareng Macan Muria Kudus, Alun-Alun Kudus, 2 Oktober 2018

Kata Quds dalam bahasa Arab sepertinya punya kedekatan makna dengan bahasa Ibrani. Dalam bahasa Ibrani sejauh yang kita ketahui sekarang, setiap huruf punya rumus perhitungan epigramnya, dan setiap kata memiliki makna substansi, makna negatif serta makana positif. Semua bergantung konteks dan perhitungan matematis. Al-Quds, dalam bahasa Ibrani bisa “khadesh” atau “khodesh”. Satu artinya “pelacur” yang satu artinya “suci” dan secara substansi artinya “terpisah”. Tentu saja ini hanya bisa dijelaskan secara simplistis dalam tulisan huruf latin seperti ini sebab bentuk penulisan juga berpengaruh.

Kata bermakna negatifnya itu, didasari konteks pada era Greco-Syrian (Siria-Yunani, ketika menjajah Judea, mulai dinasti Antiachus IV Epiphanes) hingga mungkin sampai era penjajahan Romawi. Ada beberapa golongan perempuan yang meyakini pencapaian spiritual melalui hubungan badan dan menjajakan diri di reruntuhan bekas kuil-kuil keramat. Fenomena itu mungkin mirip dengan di beberapa tempat di Jawa, di gunung dan beberapa pantai. Karena konteks itu sudah lewat, pemaknaan itu tidak kita pakai di sini.

Kerumitan intelektual bahasa kaum Yahudi ini kemungkinan besar adalah efek dari sekian lama terjajah oleh berbagai bangsa di luar mereka. Itu membuat mereka punya sangat banyak waktu untuk mengutak-atik setiap kata, setiap huruf dalam Taurat (Torah) para kaum ulama mereka yang dididik dalam Yeshiva, institusi pendidikan pesantren para rabi dengan sanad ilmu yang harus bersambung hingga ke (konon) Musa as.

Mereka menyusun rumus-rumus bahasa sendiri, membuat kitab-kitab yang pada akhirnya menjadi naik kelas seperti setara dengan Taurat atau minimal didaku sebagai prasyarat mutlak, semacam kitab kuning, nahwu-shorfu, balaghoh, mantiq dll untuk mengerti Taurat. Namun pada bahasa Ibrani memang jauh lebih rumit daripada bahasa Arab. Tentu saja seperti semua bangsa yang pernah merasa rendah diri, mereka mendaku bahwa penyusunan kitab-kitab ini dibimbing oleh kekuatan ilahiyah. Bahasa Ibrani mengalami fenomena pengkitaban yang tentu juga konsekuensi logisnya adalah naik pangkat kewalian bagi para penyusun kitab, jauh hari sebelum era Isa as (Yesus).

Mungkin karena inilah ada sebutan “ahli kitab” dalam Al-Qur`an. Eksklusivisme budaya, isolasionis bermula dari sini. Satu hal saja yang luput dari mereka, bahwa tak ada budaya yang bisa bertahan hingga sekarang bila tanpa bersentuhan dengan budaya lain. Budaya murni tanpa kelindan dengan budaya lain tidak mungkin ada, semua adalah hasil dari pertemuan-pertemuan baik dari perdagangan, perbudakan hingga peperangan.

Tapi baiklah, ini hanya soal kata Quds, Sinau Bareng malam ini digelar di kota Kudus makanya saya teringat kajian bahasa Ibrani soal kata ini. Fenomena pengkitaban, naik pangkat kewaliannya orang-orang suci, pengkeramatan hingga kultus individu nampaknya belakangan mulai terasa juga di kaum muslim negeri ini. Isolasionis Islam, purifikasi Nusantara dan cawapres dari kaum agamawan, ah itu sudah ribuan tahun pernah terjadi dengan artikulasi yang berbeda. History repeats itself.

Dalam sejarah Al-Quds di pulau Jawa, didapati bahwa pada masanya dia adalah kekuatan yang memisahkan diri dari Demak. Pada era yang tidak lama, penentuan letak tepatnya Al-Quds dan Al-Aqsa, juga baru bermula. Bahwa yang dimaksud Rasulullah Saw sebagai Baitul Maqdis adalah yang di Palestina, itu baru keputusan di era Turki Utsmani.

Rasulullah Saw sendiri tampaknya tidak menunjuk tempat tertentu sebagai baitul maqdis. Manusia setelahnya bahkan berabad-abad setelahnya yang membakukan hal tersebut. Umar Ra ketika mengunjungi Palestina pun tidak berani mengklaim hal tersebut.

Ada yang selalu saya rindukan di Kudus, ada eksotisme rahasia masa lalu yang terpendam dan memang, cantik menjebak. Bikin rindu. Seperti gadis yang terlalu cantik kalau tidak dijadikan kekasih, namun juga tidak mungkin. Tapi Kudus, malam itu adalah sekumpulan suporter sepakbola, berkumpul bersama masyarakat industri-modern. Kudus sudah Kota Kretek, pusat industri rokok.

Sinau Bareng, kemesraan dan sapuan-sapuan ilmu. Nada-nada berpadu dengan tawa, pekik-pekik perjuangan, gairah, seseorang dengan kostum Macan Muria berjoget. Sinau Bareng, sesuatu yang merombak kesalahkaprahan dan tumpukan tikungan sejarah tak selesai selama berabad-abad sedang berlangsung. Baitul Maqdis lahirlah!

“Semua orang adalah kekasihku,” seru Mbah Nun. Lambaian, tepuk tangan dari para pemuda, hadirin serta para suporter cukup memberi gambaran cinta itu sedang bertakbir.

Lainnya