Sinau Bareng, Tanah Basah, dan Caruban yang Sedang Bersolek

Liputan Sinau Bareng CNKK di Pendopo Ronggo Djoemeno, Caruban, Madiun, 7 November 2018

Tanah basah, baru saja disepuh hujan. Stasiun kecil, petugasnya tak berapa banyak. Hanya satu dua yang tampak, sepi. Maghrib baru saja berlalu, tapi seperti kata satu larik syair yang saya lupa judulnya, “gerimis mempercepat malam” atau mungkin saya salah ingat, entah. Saya melangkah keluar kereta di stasiun Caruban. Dan langsung gembira saja. Imajinasi saya, membayangkan saya sedang berada di kota kecil antah-berantah, seperti setting daerah-daerah frontier dalam film-film western. Bangunan stasiun yang masih bernuansa batu-batu tebal dengan warna pudar yang gradatif, jelas adalah tinggalan trend arsitektur beberapa dekade lalu.

Tak seperti stasiun-stasiun di kota besar yang kuli dan tukang ojeknya sangat ngotot, ketika saya keluar dari stasiun, hanya ada beberapa tukang ojek yang menawarkan “Ojek Mas?”. Saya gelengkan kepala, mereka paham dan lanjut ngobrol kembali. Enak sekali, tidak perlu menolak berkali-kali.

Di luar, jalanan sepi. Hanya satu warung bakso yang buka, dengan dua warung makan kecil, yang agak terang ala kota palingan satu konter hape kecil. Selebihnya adalah, tanah basah yang sepi. Bahkan lampu jalan hanya bertugas dengan sekenanya.

Saya cek hape, jarak antara stasiun Caruban dengan lokasi Sinau Bareng malam ini, tanggal 7 November 2018 M, tidak begitu jauh. Harga yang tertera sekitar sembilan ribu rupiah untuk taksi online. Kuota saya masih memadai, dan badan agak lelah karena paginya masih melatih outbond di Yogya. Saya pesan.

Mobil Avanza hitam dengan nomer AE 1335 EN datang. Supirnya langsung mengajak berbincang, “Mau ke acaranya Cak Nun ya Mas?” Koq tahu? Rupanya sang supir baru saja mengantarkan satu rombongan dari Jombang. Mereka memesan dari stasiun Madiun ke lokasi acara. Jadi saya perlu berterima kasih pada rombongan tersebut, karena kalau tidak ada mereka, mungkin akan sulit mendapatkan taksi online dari stasiun kota kecil yang romantis ini.

Pak sopir menjelaskan, sebenarnya jauh lebih dekat ke lokasi Sinau Bareng, di pendopo kabupaten Madiun yang terletak di sekitar alun-alun kabupaten, ya dari stasiun Caruban ketimbang lewat stasiun Madiun. “Kabupaten kan sudah pindah Mas, dulu kota dan kabupaten Madiun jadi satu tapi sekarang dipisah, kabupaten sekarang di sini.” Saya tanya, sejak kapan berlakunya. Menurut Pak sopir itu dua-tiga tahun belakangan.

Jalan kecil, sepi. Namun begitu keluar dari belokan, tiba-tiba terpampang suasana yang berbeda. Satu kompleks bangunan masjid megah menjulang dengan riuh lampu neon menyorot menara dan kubah-kubahnya. Ini alun-alun, pusat pemerintahan kabupaten Madiun. Pendopo kabupaten tak kalah megahnya, ornamen Jawa dipertahankan tapi tiang besar, jendela, pintu yang jauh dari kebutuhan, jelas adalah spirit Romawi.

Caruban rupanya sedang bersolek, dia telah dipinang oleh kemegahan. Tak ada yang salah, dunia sedang senang dengan kemegahan. Sudah mudah terbayangkan, bahwa perubahan status menjadi pusat kabupaten ini juga akan berdampak, merembet, membentuk struktur-struktur ekonominya sendiri. Stasiun kecil yang tenteram, sepi dengan tanah basah yang tenteram itu kelak akan melangkah pada lampu berpijar, megah, neon dan riuh rendah, wisatawan mungkin. Perdagangan tentu juga akan berputar.

Sekitar alun-alun sudah ramai, para pedagang membuka lapaknya. Istri saya selalu pesan, untuk setidaknya beli satu-dua barang yang diniatkan untuk shodaqoh. Saya beli masker saja, tadinya mau beli kaos kaki tapi ndak jadi. Keliling-keliling, thowaf kecil, saya lihat satu warung pecel. Saya kira nanti juga akan banyak warung pecel lain, ini kan Madiun pikir saya. Tapi ternyata itu satu-satunya warung pecel. Beberapa penjual pentol kumpul di situ, rombongan pentol Maiyah, itu istilah saya untuk mereka. Sebab di tiap Sinau Bareng di wilayah Jawa Timur, mereka selalu hadir.

Jajanan lain banyak. Burger, jagung bakar, hot dog, kebab, pentol (tentunya), beberapa warung kopi dan banyak sekali lainnya. Tapi saya harus ke pecel, ini Madiun, kan? Penjual pecel seorang ibu dengan anak gadisnya dan seorang bungsu putri juga, saya perkirakan awal SD. Si ibu agak latah dan anak gadisnya pendiam, yang SD bermain-main. Mas yang berjaga tempat mainan anak sedang ngopi dan menggratiskan anak bungsu ibu untuk bermain di “enjot-enjotan”. Si ibu mau bayar karena “kan nganggo solar”. Tapi ndak boleh. “Ada yang main apa ndak kan solarnya tetep jalan to bu,” masnya seruput kopi. Nikmat.

Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng malam ini, diadakan di Mejayan, di Caruban yang sedang bersolek, menjadi ibukota kabupaten Madiun. Kuda-kuda mesti mantap, agar tak terperangah dengan silau pekaknya sorot modernity. Sejak dulu, kita melangkah pada modernitas tanpa mengambil jarak. Tingkat adaptasi kita–manusia Nusantara–pada kahanan memang sangat tinggi. Itu kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatan karena kita mengalami semua dengan natural. Tapi kelemahan karena seiring berjalan waktu, kita tidak menyadari apa yang sedang kita jalani.

KiaiKanjeng melantunkan nomor-nomor lagu nasionalis, biasanya saya kurang nasionalis. Tapi malam ini, dengan sisa tanah basah dan kota kecil yang akan ditinggalkan oleh zaman, saya izinkan diri saya sedikit romantis nasionalis.

Mbah Nun dari panggung menyapa, “Saya senang berada di Madiun, ini adalah kampung halaman kedua saya…”

KiaiKanjeng melantunkan nomor “Walau Mentari”. Sebuah lagu yang syair shalawatnya dielaborasi Mbah Nun, terinspirasi dari peristiwa ketika Muhammad Saw ditawarkan “bulan dan mentari”.

Bukankah, kita semua sekarang ini sedang ditawarkan bulan dan mentari? Kita berada pada pilihan, romantisme masa lalu atau janji harapan modernitas yang menyilaukan. Adakah pilihan lain, selain teguh me-Muhammad-kan diri? Di situlah kenapa kita butuh Sinau Bareng.