Sinau Bareng, Mijeti Hati dan Pikiran Generasi Alfa

Liputan Sinau Bareng CNKK di Politeknik Negeri Malang, 3 Desember 2018

“Masa depan membutuhkan generasi muda yang tajam, cerdas dan membuka cakrawala ilmu-Nya Allah subhanahu wata’ala.”

Mbah Nun sampaikan itu di hadapan ratusan, eh ribuan eh puluhan ribu? Entah, berapa banyak ini yang hadir pada Sinau Bareng di kampus Polinema, Senin 3 Desember 2108 M. Malam, Malang seperti biasa sejuk adem dan ngangenin.

Inilah generasi utama, Mbah Nun katakan. Generasi yang tidak lagi meneruskan kerusakan-kerusakan pendahulunya, berusaha kaffah dan men-jangkep. Melengkapi segala perangkat keilmuan yang dibutuhkan untuk mengenal dirinya sendiri, “Sebab setelah renaissance, kita diajari oleh Eropa untuk belajar keluar. Kita belajar mencari ke dalam diri.”

Ini hari keenam Mbah Nun dan KiaiKanjeng berperjalanan ke timur, untuk minggu ini, sudah dari Ponorogo-Madiun-Magetan-Surabaya-Malang. Itu masih diselingi beberapa jadwal yang memencar misalnya ketika acara di Surabaya sebelum ini, siangnya Mbah Nun masih di UMM Malang. Sinau Bareng di Magetan dengan situasi serba darurat, genset mati dan hujan angin mungkin yang paling berkesan.

“KiaiKanjeng ini juaranya blusukan,” ungkap Mbah Nun. Saya di tengah rerimbunan manusia yang mengalir datang tak henti-henti, coba mengingat-ingat apa ada tokoh atau kelompok dengan jadwal sepadat dan sepanjang ini jam terbangnya? Presiden atau wakil presiden, anggora DPR, agamawan dan politisi nasional jelas sudah tidak masuk pada hitungan komparasi saya, yang muncul dalam kepala saya adalah jadwal tour band-band rock n roll macam Guns n Roses atau Queen atau untuk yang kekinian mungkin Nine Inch Nails dan MUSE, sepertinya tidak sepadat ini juga. Itu belum kita masukkan variabel seberapa luas kebermanfaatan yang ditabur. Kalau ini lomba-lombaan, dan kalau blusukan diprestasi-prestasikan, rasanya gelar “Juara Blusukan” memang layak ke KiaiKanjeng. Tapi tenang, KiaiKanjeng tidak berminat diperlombakan dengan sekadar orang politik NKRI, ndak kelas juga.

“Aku ngelakoni ngene iki untuk mijeti awakmu rek, mijeti pikiranmu, mijeti atimu,” karena posisi wong sepuh, posisi pengayoman dan pelayanan tidak ada yang mau mengambilnya saat ini. Posisi yang banyak diambil sekarang oleh banyak orang adalah posisi komando ideologi, patron tanpa pengayoman, pengarah massa dan pengajar tutur-tinutur tanpa sesrawungan. Lini kosong dalam hidup berbangsa seperti sekarang inilah yang diisi oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Sebelumnya tadi, KiaiKanjeng melantunkan kemesraan-kemesraan dengan nomor semacam Ya Thaybah, Salam Dari Desa, Lawang Swarga dan beberapa nomor lainnya.

Mbah Nun sendiri memberi cantolan pada malam ini dengan membaca surah An-Nas. Dari surah tersebut kita diinformasikan bahwa setan yang paling berbahaya adalah setan yang berasal dari dismanajemen hati dan pikiran manusia sendiri.

Sedangkan generasi yang sedang tumbuh ini, generasi utama ini, perlu mewaspadai dismanajemen-dismanajemen sebagaimana yang terjadi pada pendahulu mereka. Generasi utama, generasi yang berkumpul, tidak atas dasar apa-apa selain karena mencintai Allah dan Rasul-Nya. Generasi utama, alpha. Mbah Nun menghadiahkan pembukaan sholawat Alfussalam.