Simpul-Simpul dari Raudloh ke Sewelasan

Sudah sejak sepekan sebelumnya Bu Roh, sesepuh kita di Rumah Maiyah mengabarkan pada kawan-kawan Raudloh. Bahwa pada hari Jumat tanggal 11 Mei 2018 akan ada serangkaian kegiatan diskusi, workshop penulisan dan disambung dengan Diskusi Sewelasan pada malam harinya.

Raudloh, adalah nama yang akhirnya akrab disematkan untuk kawan-kawan yang berjamaah jumatan di Rumah Maiyah dan disambung diskusi kecil-kecilan bakda jumatan. Nama itu mungkin belum benar-benar officially dipakai. Ada sejarah sendiri kenapa nama Raudloh akhirnya sering digunakan. Kapan-kapan saja kita bahas soal nama Raudloh ini. Oiya, siapapun bebas untuk ikut mendiskusikan beragam hal di sini. Bahkan teman-teman selalu makin senang bila ada tambahan sudut pandang.

Entah bagaimana pengaturannya, tapi nampaknya rangkaian dan runtutan lingkar di Rumah Maiyah pada Jum’at tanggal 11 kali itu menemukan kebersambungan satu sama lain. Padahal tidak ada kesepakatan resmi.  Hanya Bu Roh mengabarkan saat sepekan sebelumnya itu saja. Selebihnya semua berjalan alamiah. Alam, memang punya setting-annya untuk beresonansi dan meresonansi gelombang-gelombang.

Sudah cukup lama kawan-kawan Raudloh sedikit menggelisahkan soal dokumentasi tertulis mengenai diskusi-diskusi yang pernah dan akan terus dilangsungkan. Teman-teman Raudloh memang ingin belajar menulis dengan lebih tertata. Maka sangat antusias kawan-kawan Raudloh mengikuti acara Workshop Kepenulisan di lantai 2 Perpus EAN pada sore hari itu. Tampil sebagai pembicara, Mbak Eryani Widiastuti seorang Jamaah Maiyah asal Jawa Timur.

Mbak Eryani sudah menulis beberapa novel. Dan dengan murah hati berbagi pengalaman beliau tentang kepenulisan. Salah satu novel beliau mengangkat cerita yang diakuinya berbalut kisah ala drakor (drama Korea). Tapi dengan tambahan nilai-nilai cinta yang lebih ruhaniah. Berjudul “That Korean Who Cooked Me Bulgogi Noodle”. Saya rasa setelah ini saya akan mencari novel itu di toko buku.

Jujur saja, agak beban juga buat saya yang bukan penulis beneran ini untuk menulis reportase mengenai kegiatan workshop penulisan. Beban pikiran semacam; aduh bagaimana kalau reportase yang saya buat tidak memenuhi standard? Tapi justru, dalam workshop penulisan inilah, Mbak Eryani menyemangati para peserta untuk mau dan berani menulis. Jadi, reportase ini anggaplah buah dari keberanian menulis yang ditularkan oleh Mbak Eryani sendiri. Oh iya, isi rangkaian acara ini juga sudah dimuat dalam website Rumah Literasi Mataseger.

Sikap positif untuk berani menulis, juga kemudian lanjut dielaborasi dengan sangat ciamik oleh Mas Rosyid. Seorang relawan senior Perpus EAN yang juga sudah tidak asing dalam dunia kepenulisan. Jadilah sore itu para peserta mendapat berkah ilmu, kemesraan serta bekal mental untuk maju tak gentar dalam berkarya. Coba lihat itu, Mas Ardi yang sehari-harinya bekerja sebagai dokter hewan. Belakangan juga aktif dalam pengolahan dan pengelolaan bakteri. Beliau tampak bersemangat sekali mencatat poin-poin keilmuan yang disampaikan. Dan juga memanfaatkan kesempatan untuk merespons balik saat dibuka sesi dialog.

Acara workshop berakhir saat hari telah disenjakan oleh sang waktu. Teman-teman dari Raudloh pamit. Juga peserta lain. Mbak Eryani kembali ke penginapan untuk bersiap melanjutkan acara diskusi Sewelasan pada malam hari nanti, bakda isya’. Namun bagi saya pribadi, satu hari ini adalah rangkaian Sewelasan itu sendiri. Rasanya kita patut bersyukur karena Perpus EAN bersedia menggelarkan forum bertabur hikmah dan keilmuan yang selalu tersaji segar setiap bulan. Dengan materi pilihan dan pembicara yang berkompeten di bidangnya masing-masing.

Sambil menunggu, saya coba refresh lagi apa-apa saja yang seharian ini telah dibahas. Pada Majlis Raudloh siang tadi, kawan-kawan banyak membahas soal metode pendidikan dan parenting yang kira-kira cocok diterapkan pada masyarakat kita. Ini lahir dari kegelisahan bahwa metode parenting yang dikenal selama ini tampak kurang memperhitungkan kultur masyarakat kita.  Dan titik beratnya lebih seperti hukum baku “lakukan ini dan jangan lakukan itu”. Padahal ada otentisitas di antara tiap keluarga. Dan konsep keluarga yang dianut masyarakat Jawa-Nusantara juga tidak berhenti sekadar Ayah-Ibu-Anak. Tapi lebih luas. Di desa-desa, orang tua bagi anak adalah seluruh orang dewasa. Ini jadi bahasan seru dan belum final. Daur II-147Balita Di Dunia menjadi lambaran diskusi.

Daur yang dibahas pada majelis Raudloh siang tadi bila dibaca sekilas sebenarnya tidak begitu mengarah pada konsep parenting. Hanya kemudian diskusinya yang menagarah ke sana. Daur II-147 ini, menurut saya, lebih banyak mengajukan pertanyaan soal definisi ulama. Siapa dan bagaimana orang yang disebut ulama? Apakah ketika ada ayat atau hadits mengenai ulama, kaum ulama seperti yang kita kenal secara impresi sekarang ini–misal: Kiai, Ustadz Pimpinan thoriqoh, komandan ormas keagamaan dllsb–sudah eksis?

Masa iya sih ada yang berani mengklaim diri, atau menerima klaim sebagai ulama ketika Rasulullah Saw masih hadir sejara jasmani di tengah masyarakat? Apakah ulama adalah sama dengan kaum agamawan seperti yang dikenal oleh agama-agama pra Islam? Kalau sama saja, jadinya ngapain ada Islam? Mbok benerin agama yang sudah ada saja dulu. Wah, satu edisi Daur ini saja rasanya bisa dibabarkan dalam satu kitab sendiri.

Serupa tapi tidak begitu beda. Rupanya bahasan ini juga mencuat ketika Diskusi Sewelasan resmi dimulai di pendopo Rumah Maiyah. Materi utamanya adalah bedah buku “Ki Hadjar Sebuah Memoar”. Tampil sebagai pembabar bahasan adalah sang penulis sendiri. Yakni Mas Haidar Musyafa. Mas Haidar sempat menyatakan bahwa Ki Hadjar Dewantara ini sebenarnya berasal dari kalangan santri yang telah khatam dengan kitab-kitab para ulama klasik. Namun itu semua beliau olah untuk menjadi sajian yang pas pada zamannya. Di sini, bisakah kita berpendapat bahwa, sosok Ki Hadjar sebenarnya juga adalah ulama walau mungkin bukan kategori ulama sebagaimana umumnya?

Mas Haidar sempat menjabarkan bahwa Ki Hadjar enggan berafiliasi dengan salah satu ormas keagamaan bukan karena alasan agamanya. Tapi karena organisasi tersebut masih menerima dana bantuan dari Belanda. Ini masuk akal, karena kalau kita telusuri hampir semua–kalau tidak mau dibilang semuanya–organisasi keagamaan legendaris yang ada di negeri ini hingga sekarang, lahir pada kisaran era setelah 1910 hingga akhir dekade 1920-an. Masa itu, sebelum Gebernur Jendral De Jonge (Bonifacius Cornelis de Jonge, bukan De Jong yang pemain bola) tanah Hindia-Belanda memang sedang gembur untuk pergerakan angkatan awal dan tumbuhnya organisasi-organisasi.

Ki Hadjar berangkat dari otentisitas. Jalan dan pencariannya otentik dan rumusan pendidikan yang dilahirkannya juga titik beratnya adalah pada otentisitas individu per individu. Maka itu namanya Taman Siswa. Taman, di mana segalanya tumbuh menjadi dirinya sendiri. Hal ini disampaikan oleh Ibu Wahya yang menerapkan hal senada itu di SALAM. Bu Wahya menyampaikan, era kita sekarang ini otentisitas individu tidak dihargai karena kita selalu ingin segalanya distandardisasi. Dan kemudian, langsung maupun tidak langsung, menjadi penyeragaman. Maka bangsa ini perlu mengenal sosok Ki Hadjar. Agar busa kembali belajar bahwa menjadi otentik itu bukan utopia yang susah dicapai. Inilah pentingnya buku ini.

Sedangkan Mbak Eryani, yang sore tadi baru saja menjadi pembahas dalam workshop kepenulisan, juga melihat sisi otentik itu pada gaya kepenulisan Mas Haydar. Menurutnya sangat lincah mengambil sudut pandang dan sangat jeli melihat data apa yang perlu masuk ke dalam bukunya. Lalu semua itu diracik dengan bahasa yang menarik. “Seperti baca buku sejarah tapi novel, baca novel tapi juga penuh data sejarah”. Ini buku yang mengasikkan dan berisi memang.

Sambil malam, sambil tersedia kopi dan camilan seadanya. Sambil penggalian dan pertanyaan diajukan. Sambil beberapa anak berceloteh riang. Sementara acara diskusi berlangsung. Tampaknya acara Diskusi Sewelasan pada Mei 2018M kali ini, menjadi seperti kelahiran kembali Taman yang diidam-idamkan oleh Ki Hadjar.

Tampaknya, setiap hadirin mendapat temuan sendiri-sendiri malam itu. Saya juga. Saya dapati, malam itu rupanya ditakdirkan menjadi kesimpulan dari apa yang telah diolah sejak siang di Rumah Maiyah ini. Kesimpulan maksud saya, simpul-simpul tersambung dengan jodoh panggonan konteksnya pada diri masing-masing. Yang ketika acara selesai pun menjadi senyum simpul di wajah yang menggali simpul keilmuan di diskusi Sewelasan.