Sidik Paningal

Mukadimah Jamparing Asih April 2018

Sidik Paningal? Pengelihatan yang lanthip, teg, tepat, akurat, presisi dan jelas ke titik. Dalam bahasa Arabnya ya ‘Ainun Nadjib’. Tidak blero-blero seperti kebanyakan orang zaman sekarang atau mungkin ribuan tahun lalu di tiap masanya. Lah kok blero-blero? Di zaman teknologi maju pesat dan segalanya bisa dengan mudah dilakukan secara instan di mana robot dengan mudah tercipta di berbagai tempat?

Pangkas ilmunya, injeksi perintah program yang harus dijalankan tanpa ada kemungkinan tolah-toleh, tangan kaki terantai. Mata terbuka serta alat indranya berfungsi tetapi tak terhubung antara kepala dan badannya. Hingga muncullah ayat Iqra` bismi rabbikalladzi kholaq. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Di Gua Hiro itulah Muhammad bin Abdullah menjadi perintis Manusia Iqro`, bukan robot!

Nabi Khidlir pun dalam Paningal-nya diperjalankan Allah bertemu Musa, lalu membunuh anak kecil, melubangi kapal, dan menegakkan tembok yang roboh. Hingga membuat Musa tidak lulus menjadi murid karena dalam Paningal Musa hal seperti itu tidak lazim atau bertentangan dengan pengetahuannya. Padahal di perjalanan lain, Nabi Musa dengan tongkatnya pun dengan Paningal-nya berjalan menuju lautan ketika dikejar Firaun, yang bagi kaumnya itu hal bodor menurut Paningal mereka.

Lalu Sidik Paningal itu seperti apa? Hingga tercipta kisah dalam Lauhul Mahfudz seperti itu. Sidik Paningal atau Silau Paningal-kah itu? Tersilaukan karena terlalu dekat tanpa source hardware serta software yang mumpuni kah? Yang dengan source itu maka Silau itu pun tersibak hingga jelas titik itu. Nur ‘ala Nur

Bagaimana menentukan presisi koordinat kita? Lalu mungkinkah positioning peran tiap ciptaan-Nya saling memiliki Sidik Paningal-nya masing-masing seperti wujud sidik jari manusia yang berbeda satu sama lain? Bahkan kembar identik pun memiliki ketidakidentikannya. Yang jago mengolah makanan dengan istiqomah meracik komposisi bumbu, memproses hingga bisa disajikan dengan kasih sayang, yang keahliannya bisa menyetir pun mengendalikan tunggangannya dengan apik serta mengantarkan penumpangnya agar aman serta nyaman hingga tujuan, dan masih banyak lagi.

Ataukah seperti ‘ceunah‘ wakil kita yang mengatur tata tanah nusantara peninggalan leluhur kita ini, yang mengemong dengan cara membujuk Mbah Tanah agar mau dimadu dengan lembaran-lembaran cetakan nilai tukar? Kakang pohon yang rela mengalah ketika wakil makhluk terbungsu ini mengubah wujudnya menjadi abu? Abah Air yang biasa ikhlas mengamalkan ilmu ‘kantong bolong’ kepada semua makhluk, dipaksa, diperas dan diperkosa lalu diperdagangkan keikhlasannya?

Mari kita melingkar dan melepas rindu bersama-sama saling mengasah presisi serta menentukan koordinat diri dan Sidik Paningal kita hingga memperjalankan kita menuju Putus Pamrikso dan kemesraan dengan-Nya. Yuk kita ngopi bareng di riungan Majelis Maiyah Bandung 27 April 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok Pesantren Anak Jalanan At-Tamur, jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung. Di Ruang rindu… Kita bertemu…

Sidik Paningal? Pengelihatan yang lanthip, teg, tepat, akurat, presisi dan jelas ke titik. Dalam bahasa Arabnya ya ‘Ainun Nadjib’. Tidak blero-blero seperti kebanyakan orang zaman sekarang atau mungkin ribuan tahun lalu di tiap masanya. Lah kok blero-blero? Di zaman teknologi maju pesat dan…