Short Story About ‘Gempal-Gempal Maiyah’

Reportase Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Februari 2018

Yang semestinya saya tulisakan reportasenya di sini adalah mengenai beragam fenomena pada majelis ilmu, kegembiraan, dan kemesraan Mocopat Syafaat tanggal 17 Februari 2018 di TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul.

Tapi sebelum itu, saya mau cerita tentang kejadian beberapa tahun lampau. Itu adalah ketika pertama kalinya saya dan istri akan menghadiri acara Maiyahan di pondok pesantren Rohmatul Umam, asuhan Kiai Muzammil. Saya dan istri sama sekali tidak tahu letak pesantren tersebut waktu itu. Berbekal alamat pesantren dan gambaran dalam kepala saja, saya dan istri melajukan motor melintasi jalan Parangtritis.

Di tengah jalan, motor kami disalib oleh motor lain yang dikendarai dua orang lelaki. Tidak ada masalah, nyalibnya juga baik-baik saja. Hanya herannya, dalam kepala saya tiba-tiba muncul gagasan yang langsung saya utarakan ke istri saya saat itu juga, “Kita ikutin Mas-Mas itu, mereka mau Maiyahan”.

Istri saya manut. Tentu saja manut, dia posisinya sedang di boncengan, sedang “kanca wingking” istilahnya. Saya tingkatkan kecepatan dan misi ngikutin Mas-Mas berbadan besar di depan kami sukses dilakukan tanpa mereka mengetahui keberadaan kami. Lebih sukses lagi karena ternyata mereka yang kami ikutin itu, memang menuntun kami sampai ke lokasi ber-Maiyah.

Di parkiran istri saya bertanya apakah kenal sama dua orang itu, atau apakah pernah ketemu di Maiyahan? Seingat saya sih tidak. Istri saya agak terkejut mengetahui kami tadi mengikuti orang yang tidak dikenal. Kenapa ngikutin mereka?

Ini jawaban yang tercetus dari mulut saya, tanpa saya sendiri sempat memikirkannya waktu itu, “Postur tubuhnya itu lho, gempal-gempal Maiyah”.

Saya juga terkejut dengan jawaban itu, kami orang Bugis ini (dalam kasus saya, blasteran Tolaki pula) memang suka asal njepat ngomong dulu baru mikir, sepertinya mulut kami punya otak sendiri.

Ada gitu istilah “Gempal-gempal Maiyah”?

Pengalaman yang tadi saya ceritakan, mungkin tidak terlalu ada hubungannya dengan berbagai femonena, gejala, nuansa, getaran yang mengalir dan aliran yang bergetar di Mocopat Syafaat bulan Februari kali ini.

Saya teringat kejadian tersebut, ketika pada malam itu para JM diajak untuk melatihkan gerakan dan wirid Shalawat Nur. Mas Angga dan Mas Ramli yang diamanahi untuk membimbing laku gerak para jamaah. Butuh presisi titik ketepatan antara ucap dan gerak, pada saat kapan tubuh mengayun ke kiri ke kanan, kapan berdiri, menunduk dan sejenisnya.

“Di Maiyah ini yang banyak diolah soal pikiran dan batin. Itu kadang membuat teman-teman lupa melatih tubuh. Terlihat agak kaku tadi….”

Kalimat Mbah Nun itu saya kutip, seingat-ingat saya. Semoga tidak melenceng terlalu jauh. Untuk detail dan ketepatannya, rekaman video bisa jadi rujukan pembaca yang budiman. Tapi saya mau bilang bahwa tepat di situlah saya teringat kejadian beberapa tahun lampau yang tadi saya kisahkan di paragraf awal.

Mungkin benar juga. Mungkin itu, plus produksi hormon endorfin, hormon kebahagiaan, itukah yang menghasilkan “gempal-gempal Maiyah”?

Bukan Thariqat Peradaban Resep

Melatih wirid dan gerak? Wah, apa Maiyah ini akan jadi thariqat? Atau kumpulan ideologi kebatinan? Gerakan tasawwuf pendamba ma‘rifat-pencerahan? Kumpulan orang pengin jadi wali, santo atau bodishatva apa gimana? Dapat pencerahan biar apa? Biar bisa nuding bahwa pihak lain masih pada tahap permendungan? Padahal, mendung dan cerah kan ada indahnya sendiri-sendiri, bahkan badai. Kecuali kalau kesadaran kita masih seperti Suku Galia zaman dahulu, yang melihat badai seperti musuh sehingga mereka menyambut badai dengan perlengkapan perang mereka yang sederhana. Itupun, Suku Galia dengan kepolosannya yang total, ternyata justru merupakan lawan paling merepotkan bagi Julius Caesar dengan segala kelengkapan instrumen perang negeri adidaya Imperium Romawi kala itu. Penundukan Galia justru dengan pesan-pesan kebaikan, toleransi, pluralisme dan perdamaian pernah saya coba tuangkan dalam tulisan berjudul “Men-Haqim-i Pluralisme”.

Maiyah ini bisa dan wajar untuk disebut perkumpulan, tapi tidak seperti perkumpulan-perkumpulan yang lain.

Maiyah ini layak dan boleh disebut korps, klub, geng, paguyuban, perhimpunan, persatuan, atau apapun sebutan lain yang pernah ada, tetapi Maiyah tidak sebagaimana itu semua.

Maiyah ini silakan saja disangka semacam ormas, aliran tarekat, bahkan tidak keberatan disangka madzhab atau dituduh sekte, tetapi Maiyah sama sekali tidak sama dengan semua yang pernah ada”

Begitu petikan dari Kepemimpinan Warga Negeri Maiyah yang ditulis Mbah Nun dan dibacakan bergantian oleh Mas Jamal dan Mas Helmi. Mbah Nun ditemani tim Redma naik panggung sejak sekitar pukul 20.00 malam itu, tepat setelah selesai pembacaan ayat suci oleh Mas Ramli.

Begitu di atas panggung Mbah Nun langsung mengajak jamaah untuk mengolah pikir dan rasa. Ini adalah sebelum kemudian mas Ramli dipersilakan naik kembali ke panggung (kali ini bersama Mas Angga) untuk mengomandani laku gerak dan pembacaan Shalawatun Nur.

Maiyah, Maiyahan di mana-mana memang selalu cair. Bukan saja cair mungkin, karena bagaimanapun cairan tetaplah materi. Lebih tepat mungkin Maiyah adalah alirnya. Istilah yang lebih filsafati mungkin seperti tarian yang tidak bergantung pada penarinya. Penari bisa berhenti menari, namun tarian tetap berlangsung.

Seperti laku gerak dan wirid shalawat yang diajarkan malam itu, Mbah Nun sendiri menegaskan bahwa ini bukan laku khusus dengan pagar kepastian. Yang terpenting adalah keikhlasan hati masing-masing dan batasannya adalah temuan setiap individu terhadap pencariannya sendiri. Walau ada pakem gerak beserta jumlah bacaan, namun semua itu sangat terbuka pada respons kondisi dan kebutuhan arah pencarian masing-masing pelakunya. “Boleh dikurangi, boleh ditambahi. Diapakan terserah anda, asal jangan lebay juga”, ungkap Mbah Nun.

Rupanya, walau di Maiyah diajarkan beberapa bentuk wirid dam shalawat yang bisa sangat berguna dalam berbagai lini hidup pengamalnya, tapi dia tidak serta merta mewarisi kesadaran mental ‘peradaban resep’ yaitu sebutan untuk kesadaran semacam: “Baca anu berapa kali supaya anu, lakukan begini begitu supaya begono”.

Mungkin dari sini, pembaca yang budiman bisa menarik kesimpulan sendiri di mana letak pertemuan antara fenomena sekte-sekte kebatinan, grup tasawuf atau thariqat dengan Maiyah. Pun juga di satu sisi, dengan sendirinya bisa ditarik pula batas pembedanya. Karena kalau sama persis dengan yang sudah-sudah, buat apa? Variabelnya bisa ditambah, misal dengan perkumpulan, komunitas, organisasi, pergerakan, purifikasi budaya dan lainnya.

Kepemimpinan Warga Negri Maiyah yang butir-butirnya sempat dibacakan oleh Mas Helmi dan Mas Jamal di panggung, waktu itu belum beredar luas. Namun sekarang sudah terdapat di web caknun.com, sangat perlu kita semua sebagai bagian dari Maiyah untuk membacanya dengan seksama, teliti dan waspada. Mari “iqro bismi rabbikalladzi khalaq”, mBacalah, dengan nama Rabbmu yang Maha Mencipta. Dia jugalah yang-meminjam kalimat dari judul DAUR – “Yang Maha Menciptakan Maiyah”.

Beragam fenomena di Maiyah memang selalu menarik. Saya cukup tahu di Mocopat Syafaat kali ini, selain wajah-wajah yang terasa akrab, juga ada beberapa jamaah yang saling janjian di grup-grup WA, ada yang datang dari timur ada yang dari barat. Ada juga yang rombongan, ada yang berperjalanan sendiri, berkendaraan maupun jalan kaki. Masing-masing dzat dalam Maiyah selalu berusaha mengkreatifi dan memprakarsai terbentuknya tali-tali simpul silaturahim, menyenangkan.

Maiyah Menegaskan Kaliber Diri

Maiyah memang berjalan lurus dengan sabil, siroth dan thariqat-nya. Lurus tanpa tedeng aling-aling menuju kepada Sang Maha Tujuan Sejati. Maiyah tidak menumpang pada gerbong-gerbong dan kendaraan-kendaraan yang sudah ada.

Mbah Nun memberi contoh pada kita bagaimana sewajarnya, berjalan pada jalur yang otentik tanpa juga perlu mencela jalur-jalur lain yang terlanjur ditempuh banyak orang lain. Tak ada masalah dengan kendaraan-kendaraan dan gerbong yang sudah ada itu, hanya sayang penumpang gelap yang berkepentingannya sudah kebanyakan sekarang ini.

Sepeninggal Gus Dur, bahkan Gus Dur menjadi barang jualan, dikapitalisasi, kalimatnya dipenggal, bahkan dijadikan gambar-gambar komik sekadar untuk jadi legitimasi pesan pihak-pihak tertentu, seringnya bahkan oleh orang yang mengaku sebagai pengagum dan penerusnya. Menyedihkan.

Tapi di luar sana biarlah, Maiyah berjalan sunyi-sunyi saja. Kalau kemudian Maiyah sedikit-banyak tahu soal fenomena-fenomena di luar dirinya, entah itu negeri sebrang bernama NKRI, NU, Muhammadiyah, Bank Dunia, IMF, politik global, aktivisme, parpol pilu-pilu pemilu atau makhluk-makhluk sejenis yang berada di kubangan politik dan korporasi. Itu adalah sekadar agar Maiyah lebih presisi memetakan titik koordinatnya sendiri.

“Maiyah harus tahu kalibernya, jangan tanggung-tanggung. Di luar sana banyak yang tanggung. Jahat tapi maunya berkesan sederhana, merakyat. Hatinya penuh ambisi tapi ingah-ingih”, tegas Mbah Nun.

Saya pribadi bahkan sepakat kalau orang mau jahat mbok yang sekalian jahatnya, biar enak melawannya juga. Tapi di luar sana ya ampun, tanggung serba tanggung segala-galanya. Mengudeta pemerintah atau melakukan revolusi juga bukan hal yang membanggakan saat ini. Ndak prestisius, biasa saja. Makanya males.

Maiyah menegaskan kalibernya sekarang. Seberapa kadar kaliber peluru, menentukan seberapa besar daya ledaknya. Daya ledak menentukan seberapa lesat dan seberapa jauh, serta seberapa stabil peluru itu menempuh perjalanan menuju sasaran.

Maiyah memiliki definisi sendiri yang otentik mengenai banyak hal, yang di luar sana sudah terlanjur membaku dan beku. Maka bisa saja apa dan siapa yang disebut “ulama” oleh Maiyah tidak dianggap begitu oleh dunia luar terutama negeri sebrang dan bisa juga sebaliknya. Begitupun, definisi-definisi lain. Apa dan bagaimana itu bangsa yang besar? Apa itu keberhasilan? Apa itu dan bagaimana kejayaan? Belum lagi agama, nasionalisme, dien, syariat, thariqat, haqiqat, makrifat, dlsb.

Tak jarang kemudian definisi di-lebay-kan, diideologikan, diselebrasi. Istilahnya dalam teater, gerakan yang diproyeksikan; Gerak tubuh yang ‘dibesarkan’ agar tampak oleh penonton. Dan kita tahu secara teori realisme, semakin besar gerak tubuh, semakin jauh dia dari realis. Bisakah kita katakan, orang Maiyah bekerja mengembalikan kewajaran-kewajaran hidup yang telah lama terlanjur rusak?

Karena tidak ada pilihan selain menjadi diri sendiri. Dan “be yourself” di Maiyah juga bukan slogan yang kemudian dijadikan semacam political corect, untuk membenar-benarkan pemahaman diri sendiri dan menggugat-gugat norma masyarakat.

Otentisitas Madura Kepada Bangsa Vulcan, Apalah Surga Tanpa Musthofa

Seotentik Kiai Muzammil berorasi perihal fiqih dengan gaya berapi-api Madura. Kyai Muzammil juga banyak berpesan soal beda orang baik dengan orang pintar. Saya malah teringat suku bangsa Vulcan di Star Trek.

Itu bangsa planet Vulcan yang penduduknya bentuknya mirip manusia, tapi telinganya lancip dan salamnya “may you have long live and prosper”.

Mereka (bangsa Vulcan, BUKAN suku Madura) ceritanya adalah bangsa yang percaya bahwa logika rasional adalah segalanya. Maka sepanjang perjalanan evolusi peradaban mereka, mereka berusaha menghilangkan faktor emosi. Dengan jalur logika yang terus disempurnakan variabelnya, bangsa Vulcan menemukan pentingnya sopan santun, kejujuran dlsb. Intinya mereka menemukan akhlaq mulia.

Bahkan mereka menemukan kemampuan yang di luar pemahaman mereka sendiri, seperti telepati lintas galaksi maupun kemampuan yang mereka sendiri takuti sehingga jarang digunakan. Yakni masuk ke dalam pikiran makhluk lain.

Pada barisan armada Starfleet, bangsa Vulcan selalu diandalkan dalam bidang xenoanthroplogy (antropologi antar planet). Nah, kenapa dari Kyai Muzammil yang orang Madura asli saya malah ke Star Trek ini? Entahlah, may you all have long live and prosper my dear brothers and sister Jamaah Maiyah.

Juga tentu seotentik pembacaan puisi Pak Mustofa W. Hasyim yang seberapapun saya menikmati puisi-puisi beliau, namun masih selalu gagal menuliskan detail-detail performa pembacaan puisi yang puitis itu. Karena, bagaimana merumuskannya pun masih sangat sulit, tapi juga sungguh nikmat menyaksikannya memang. Sampai-sampai Mbah Nun berkomentar, “Apalah artinya surga, bila tak ada Mustofa di dalamnya”.

Kalau kalimatnya dilepas begitu saja, mungkin orang akan mengartikan kata-kata Mbah Nun sebagai ekspresi filsafat-sufistik mengenai kecintaan terhadap Al-Musthofa, Muhammad saw. Tapi karena diucapkan ketika Pak Mus sedang beraksi di panggung, maka tawa-tawalah yang membahana.

Maiyah; Bahagia-Waspada, Mengasyiki Segala Bidang

Banyak kebahagiaan di Maiyah dan Maiyah juga rasanya tidak terlalu berniat menjadikan dirinya ideologi yang harus disebar-sebar, dihegemoni, disuntikkan ke orang-orang lain. Kalau ada yang perlu ditularkan, mungkin adalah kegembiraan dan kemesraan, serta semangat pencarian tanpa henti.

Hormon endorfin yang disebut hormon kebahagiaan paling utama. Sebenarnya juga adalah hormon yang melahirkan kewaspadaan dan pada kadar berlebih juga kecemasan. Tak ada zat baik atau zat buruk di alam dan di dalam tubuh, semua zat presisi kegunaannya pada kadar dan takaran yang tepat. Seperti juga tak ada energi negatif maupun energi positif, energi ya energi saja. Manusia yang sukanya mengantagoniskan atau meng-hero-kan sesuatu sesuai kepentingannya.

Cemas, bahagia, waspada, tidak begitu bertentangan. Kadarnya saja yang perlu diatur, dia dihasilkan (dan menghasilkan) produksi hormon yang itu-itu juga. Itulah kenapa hampir di seluruh dunia, masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi cenderung menghasilkan budaya dan tradisi yang rancak dan riang. Itu juga kenapa, bangsa-bangsa yang lama mengalami penjajahan selalu lebih tinggi kadar bahagianya namun juga jatuh pada paraniod berlebihan tentang teori konspirasi. Bahwa konspirasi itu ada, boleh diyakini tapi jangan sampai membuat kita enggan berbuat apa-apa.

Sebelum saya melantur lebih panjang, saya hanya mau bilang, kecemasan dan kebahagiaan sering membuat kita malas bergerak. Lemak pun menumpuk, jadi deh “Gempal-Gempal Maiyah”.

Keluar dari zona nyaman, setelah Mocopat Syafaat ini saya mau kembali berolah raga. Saya mengukur kebesaran sesuatu dari seberapa kapabel dia diaplikasikan dalam bidang lain dalam hidup. “Orang Maiyah itu thariqatnya adalah pada bidang, keahlian dan minatnya masing-masing sampai dia benar-benar expert dan menemukan bakatnya sebagai jalan menuju Allah”, begitu kata Mbah Nun.

Beberapa kali saya coba mengaplikasikan Maiyah dalam menganalisa data-data langkah catur (Spasky vs Fischer, tahun 1978. Kemenangan Fischer saya simpulkan adalah kemenangan karena kemampuannya berpuasa, menahan peluncur untuk tidak tergoda pada sasaran yang ‘lezat’ di depan mata) atau bagaimana mengaplikasikan sudut pandang yang silmi (yang lembut) dalam membedah film (kapan-kapan semoga bisa, dalam produksi film) setelah ini. Saya mau kembali ke fitness center dan ingin menjajal, bagaimana ilmu Maiyah diaplikasikan ketika ngegym, selain juga karena menyaksikan tubuh sendiri yang makin dekat pada definisi “Gempal-Gempal Maiyah”.

Pembaca yang budiman tentu juga punya, pencarian, eksperimen dan temuan dalam hidupnya masing-masing, begitu itu asyik. Maiyahan memang asyik. (MZ. Fadil)