Shalawat dan Kesehatan

Yang paling khas dan rutin dari acara Maiyah adalah lantunan-lantunan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Pujian-pujian shalawat atas Nabi, baik dari shalawat baku seperti Shalawat Ibrahimiyah atau ijtihad budaya karya-karya dari ulama klasik yang sudah dikenal, lalu diaransemen dalam nuansa-nuansa etnik serta diiringi gamelan KiaiKanjeng.

Ada juga misalnya, gubahan syair indah yang dibuat Cak Nun, Shohibu Baiti, yang terdengar dan terasa begitu magis, menyayat, mengharu biru saat dilantunkan. Informasinya, inspirasi lirik itu dibuat spontan (merupakan permohonan yang secara langsung diijabah Allah) saat Cak Nun tengah berada di atas panggung.

Shohibu Baiti, Shohibu Baiti¸ Shohibu Baiti
Ya Shohibu Baiti
Imamu Hayati, Imamu Hayati, Imamu Hayati,
Ya Imamu Hayati,
Mursyidu imani, anta syamsu qalbi, qamaru fu’adi
Ya Qurrotu aini
Syafi’u nashibi, Ya mawla jihadi, ufuqu syawqi
Ya babu Akhiroti

Terjemahannya:

Tuan rumah (hati)ku, Tuan rumah (hati)ku, Tuan rumah (hati)ku,
Wahai Tuan rumah (hati)ku,
Pemimpin hidupku, Pemimpin hidupku, Pemimpin hidupku,
Wahai Pemimpin hidupku,
Penuntun imanku, engkau matahari kalbuku, Rembulan hatiku
Wahai penyejuk mataku
Penolong nasibku, wahai muara perjuanganku, cakrawala rinduku
Wahai pintu keabadianku.

Jauh sebelum Haddal Alwi, Sulis atau Opick populer dikenal sebagai pelantun shalawat di dunia musik rekaman tanah air, boleh dibilang Cak Nun-lah sesungguhnya sosok yang lebih pionir yang mengangkat shalawat naik ke “dapur rekaman” hingga booming dalam level nasional. Peluncuran kaset “Kado Muhammad” di tahun 1995, memopulerkan syair Tombo Ati karya klasik Sunan Bonang yang diaransemen kembali bersama gamelan KiaiKanjeng menandai diterimanya sholawat secara luas oleh publik ketika itu.

Namun, bershalawat yang dilakukan di Maiyah berbeda dengan “menjajakan shalawat”. Bershalawat tidak menjadikan shalawat sebagai komoditas secara materiil. Bershalawat di Maiyah adalah aktivitas membangun cinta segitiga antara Allah, Rasulullah Saw dan di antara kita sesama hamba. Bershalawat adalah melangitkan bumi, upaya membangun dialektika dunia akhirat.

Shalawat adalah sebuah ekosistem kehidupan. Orang Maiyah percaya bahwa manusia tidak akan terlepas dari tiga model pergaulan trilogi hubungan antara Allah, Muhammad Saw dan sesama kita (manusia). Pada hakikatnya dalam kehidupan ini, kita akan tetap berada dalam tiga lingkup pergaulan tersebut.

Hakikat kesejatian bershalawat bukan mendoakan agar Nabi memperoleh keselamatan. Ungkapan shalawat faedahnya pada akhirnya akan kembali pada kita. Ini merupakan model kemesraan dalam Islam, di mana ketika kita mendoakan Rasulullah Saw, maka doa tersebut akan terpantul kembali kepada kita.

Muhammad Rasulullah dibaratkan seperti gelas yang penuh terisi air, sementara shalawat yang dikirimikan kepada beliau seperti menuangkan seteguk air yang menyebabkan air itu akan kembali tempiyas kepada kita. Seperti kata Cak Fuad, yang butuh didoakan itu kita bukan Nabi, karena sekali kita mendoakan Nabi maka puluhan malaikat akan mendoakan kita kembali. Cinta yang saling memantul-mantulkan cinta.

Hubungan Shalawat dengan Kesehatan

Mengutip keterangan Al-Qur`an, bahwa seluruh isi alam semesta in–burung yang terbang, ikan yang berenang, semut yang merayap, gunung, lembah, laut dan matahari semuanya apapun itu–melakukan suatu aktivitas memuja-muji Sang Pencipta; “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada satu-pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka…” (Al-Isra`: 44). Maka bacaan-bacaan apapun yang merupakan lafadz-lafadz sakral yang merupakan bagian puja pujian kepada Ilahi dari bagian bacaan-bacaan Qur`an yang dilantunkan seseorang menjadikan seseorang memiliki gelombang resonansi yang sama dengan alam semesta.

Di samping itu, Qur`an secara khusus juga menyatakan hal yang senada terhadap shalawat. Bahwa Allah sendiri dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, “…bahwa Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi” (Al-Ahzab: 56). Jika ada pertanyaan iseng, apa pekerjaan Malaikat Jibril ketika wahyu tidak turun lagi sekarang ini? Atau apa pekerjaan harian malaikat Israfil peniup sangkakala saat kiamat “masih lama”? Jawaban mungkin yang valid berdasar nash adalah “shalawat!”.

Nama Muhammad Rasulullah bergema di seluruh semesta raya ini. Paralel dengan di planet bumi nama beliau juga senantiasa dikumandangkan di menara-menara ketinggian oleh para muadzin di seluruh waktu yang sahut bersahutan berkesinambungan dalam azan.

Hakikat shalawat yang Allah lakukan untuk Nabi, tentu tidak sama dengan shalawat yang kita ucapkan untuk beliau. Tapi, yang menarik adalah, jika Allah SWT memerintahkan kita melaksanakan ibadah-ibadah seperti sholat, dzikir dlsb ia tidak ikut mencontohkan dalam perintah syariat itu, tapi khusus shalawat, Allah memelopori keteladanan untuk bershalawat kepada Nabi.

Saat kita sendiri atau bersama-sama melantunkan shalawat-shalawat kepada Nabi, maka hal yang sama juga tengah dilakukan para malaikat di alam raya ini. Aktivitas ini akan memberi resultan frekuensi yang sama, menyambungkan getar energi yang simultan, antara kita dengan mahkluk-mahkluk spiritual itu. Asumsinya mungkin chemistry itu juga berpengaruh terhadap fisik jasmani kita.

Meminjam khazanah dalam ilmu epigenetik, bahwa “sinyal-sinyal non materi seperti getaran, frekuensi dan gelombang memengaruhi tubuh manusia sejuta kali lebih cepat daripada sinyal materi seperti makanan atau bahan kimia”. Dalam ilmu epigenetika, reseptor sel dianggap mampu menangkap sinyal kuantum (sinyal energi) yang bersifat non-material. Jika kita bertasbih dalam dzikir, bershalawat kepada Nabi, maka semua yang dilakukan itu akan terekam dalam diri kita. Pengulangan-pengulangan atas pembiasaan itu pada akhirnya tersimpan dalam arsip memori DNA, ikut “berdenyut” dalam getar tasbih yang sama dengan seluruh semesta alam.

Ada satu tautan teori menarik dari Dr. Muhammad Asim Mahmod Khan tentang pengaruh membaca Qur`an atau pengucapan lafaz kalimat-kalimat thayibah–termasuk juga lafaz-lafaz shalawat tentunya–terhadap kesehatan. Efek kesehatan dapat terjadi menurut Mahmod, dilatarbelakangi dua hal: gerakan lidah dan efek gelombang suara.

Beberapa lafaz ayat atau kalimat-kalimat suci yang bila diartikulasikan membentuk gerakan lidah yang spesifik. Yakni gerakan ujung lidah menyentuh apa yang disebutnya sebagai “magic spot” yang berlokasi di atas langit-langit mulut (palatum durum) di belakang gusi dan gigi seri bagian atas (lihat gambar dengan tanda bulat di tengah mulut). Cobalah amati atau rasakan kata seperti “Allah” atau kalimat “Laa Ilaha Illallah” atau “Laa haulaa wala Quwwata illa billahil-‘Alliyil-‘Adhim“. Atau redaksi-redaksi shalawat seperti “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”. Maka kalimat-kalimat tersebut akan menggerakkan ujung lidah menyentuh bagian atas langit-langit di belakang gigi seri atas tempat lokasi “magic spot” tersebut.

Berdasarkan studi yang dilakukan Norma F. Capra dari Departement of Oral and Craniofacial Biological Science, University of Maryland USA, Mahmod menguraikan bahwa pada dinding langit-langit mulut terdapat sekian banyak ujung syaraf sensorik berupa “mekanoreseptor” yang dalam kesehariannya ikut bertanggung jawab terhadap manajemen mengunyah, menelan makanan dan persepsi dari gerakan oral.

Ketika kita mengucapkan kalimat-kalimat sakral tersebut, maka ada stimulasi mekanoreseptor oleh ketukan ujung lidah secara lembut pada magic spot 10-12 kali per 3 detiknya secara ritmik. Hipotesisnya, stimulasi berulang-ulang ini akan mengaktivasi pengeluaran sejumlah neurotransmitter dan neuromodulasi di otak yang bermanfaat buat kesehatan. Menarik bila dibandingkan dan diperhatikan pada kalimat-kalimat yang kita pergunakan sehari-hari, lokasi yang diistilahkan Mahmod sebagai titik ajaib (magic spot) ini tidak sebanyak atau seintensif kalau kita membaca Qur`an, berdzikir, merapal wirid, bershalawat atau mengucapkan kalimat-kalimat thayibah.

Jika kita nderes Al-Qur`an atau bershalawat kepada Nabi, akan ada getar “rasa lain” di dalam diri kita. Setidaknya hadir perasaan damai dan tenang, yang akan langsung kita terima. Bahkan untuk sekedar mendengarkannya juga memiliki efek serupa. Transmisi suara dan fibrasi dari huruf-huruf Al-Qur`an atau bacaan shalawat menstimulasi perasaan akan kekuatan, ketenangan, konsentrasi, keagungan dan pencerahan jiwa bagi pembaca maupun pendengarnya.

Nabi selalu menekankan membaca Qur`an dengan mengeluarkan suara dan dalam hati sambil berkata “Perbandingan membaca dalam hati dengan mengucapkannya seperti sebotol parfum bila tertutup dan terbuka (H.R Bukhari). Tilawatil Qur`an menurut Cak Nun adalah estetika tertinggi dari seni, oleh karena itu tilawah Qur’an tidak layak diringi oleh musik. Cak Nun menganjurkan jangan banyak bicara jika tidak perlu. Selalulah dalam kesibukan berdzikr ke manapun dan di manapun kita berada serta selalulah mengirimkan shalawat kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Ibadah seperti ini tidak terlalu terikat dimensi ruang dan waktu, relatif dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Ketika Allah dihadirkan dalam diri kita, maka jiwa kita akan tenteram, demikian pula ketika menghadirkan Rasulullah. Itu semua sudah merupakan janji Allah di Al-Qur`an.

Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (Ar-Ra’d: 28).

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (Al-Anfal: 33).

Sangatta, Februari 2018