Seruling Pak Is Saja Mengalami Perjalanan Spiritual

Padhangmbulan Dzikral Ahibba` 2 berlangsung Jum’at malam Sabtu lalu dengan makin mengantarkan jamaah pada kesimpulan bahwa memang Empu seruling KiaiKanjeng Pak Ismarwanto tidak ada duanya dan tidak tergantikan. Ia adalah maestro. Satu set seruling buatan terbarunya, atas inisiatif KiaiKanjeng, dilelang malam itu kepada seluruh jamaah. Proses lelangnya pun berjalan segar, lucu, dan menggembirakan.

Alhamdulillah sampai pada harga yang sangat cakep bianget seruling itu telah berpindah tangan kepada seorang muda milenial, dan sssttt diam-diam ini membuat kawan-kawan hadirin lainnya yang sunyi, karena tak kunjung menyalib penawaran terakhir pemuda ini. Jadi teridentifikasi daya ekonominya hehehe. Hasil lelang itu diserahkan sepenuhnya kepada Bu Is. Adapun satu set seruling yang biasa Pak Is pakai ke mana-mana Sinau Bareng itu akan disimpan di rumah Maiyah Kadipiro sebagai saksi dan ingatan akan kemaestroannya.

Benar kata Mbah Nun bahwa kalau seseorang telah pergi, kita baru lebih sadar akan arti keberadaan seseorang itu. Kita tahu Pak Is adalah penyuling istimewa, tetapi ketika beliau telah meninggalkan kita, baru makin tampak jelas pada diri kita keistimewaan-keistimewaannya. Dalam perjalanan menuju Menturo untuk Padhangmbulan malam itu, Mbah Nun sempat mendengarkan seruling Pak Is pada album Wirid Padhangmbulan, dan itu bikin beliau geleng-geleng kepala: cen ampuh Pak Is.

Saya yang sungguh nol putul soal musik masih ingat kuat akan suara seruling dangdut Pak Is pada Album KiaiKanjeng yang berjudul Perahu Nuh. Pada nomor yang liriknya ditulis Mbah Nun (vokalnya juga Mbah Nun sendiri) ada berbunyi, “Ya ampun lalimnya manusia…ya ampun buta mata hatinya…” Enak didengar. Dangdut yang sederhana, pas, dan elegan. Dangdut yang bergizi, dan meninggalkan habitat budaya dangdut yang kita lihat selama ini. Dan ngomongin seruling Pak Is ini tiga hari lalu saya mendapatkan satu perspektif dari Pak Toto Rahardjo dalam membaca perjalanan suling Pak Is di KiaiKanjeng.

Intinya, ada tiga wilayah seruling Pak Is di KiaiKanjeng. Pertama, seruling Pak Is ketika awal kali dibutuhkan untuk menggarap Album Raja Diraja di mana suara seruling dangdut menjadi salah satu nuansa menonjolnya. Sesudah album ini, lahirlah nomor-nomor yang diiringi atau melibatkan seruling termasuk nomor-nomor musik shalawat. Termasuk pula musik-musik shalawat pada era perjuangan gerakan shalawat oleh Hamas pada masa formasi MiniKanjeng. Pada titik ini, sungguh indah dan unik menyaksikan bahwa Pak Is yang tidak ada sedikit pun pengalaman budaya santri–sebagaimana sebagaian besar personel KiaiKanjeng yang wong cilik–ikut keliling shalawatan, justru ikut mengingatkan kelas-kelas santri akan kekayaan budaya mereka sendiri. Dari citarasa dangdut ke eksplorasi tradisi shalawatan. Sebuah lompatan tersendiri pada pengalaman seruling Pak Is.

Kedua, wilayah berikutnya dari perjalanan seruling Pak Is adalah ketika KiaiKanjeng menggarap nomor komposisi atau aransemen Gundul-Gundul Pacul. Ini adalah awal ketika Pak Is menggunakan serulingnya tetapi bukan untuk nomor dangdut maupun shalawatan. Ini sesuatu yang baru yang menuntut nuansa kreatif lainnya. Turunan sekian tahun kemudian dari komposisi Gundul-Gundul Pacul ini adalah nomor komposisi One More Night-nya Maroon Five yang belakangan kerap menghibur kita semua dalam Sinau Bareng.

Ketiga, wilayah terakhir atau puncak seruling Pak Is adalah ketika memasuki nomor-nomor yang Pak Toto Rajardjo menyebutnya nomor upacara atau ritual. Nomor-nomor baku spiritual KiaiKanjeng. Di sini Pak Is belajar banyak untuk mengiringi Mbah Nun yang coba memasuki rasa spiritual tertentu yang menep, yang bertekanan pada do’a, yang kuat rasa magisnya, dan kekuatan-kekuatan spiritual yang kita bisa turut rasakan. Nomor ritual ini bukan lagi bicara tentang kreativitas, melainkan rasa spiritual, dan Pak Is berhasil memenuhi itu.

Ketiganya tidak tepat disebut fase mungkin, melainkan mungkin tingkatan musikal yang dirambah oleh alat-alat musik KiaiKanjeng di mana seruling Pak Is ada di dalamnya. Jika dikerucutkan pada seruling Pak Is, pendek kata, perjalanan musikal seruling Pak Is bisa digambarkan mencakup wilayah Dangdut, musik shalawat, menuju ritual atau upacara. Seruling Pak Is yang selama sebelum di KiaiKanjeng lebih banyak untuk musik dangdut, mengalami perluasan wilayah begitu masuk di KiaiKanjeng. Tidak berheti di dangdut, tetapi mencapai pada musik yang jero, yang orang Maroko menyebut musik KiaiKanjeng ini sebagai Sacred Music.

Contoh musikal pada wilayah ritual atau upacara yang paling kuat adalah nomor Takbir Akbar, kemudian rangkaian wirid pada album Wirid Maiyah Nusantara, dan sejumlah komposisi di era Maiyahan seperti Sohibu Baity, Wirid Wabal, dan nomor-nomor khusyuk lainnya. Di wilayah spiritual ini, kreativitas bukan tak penting, tetapi menjadi sedikit bergeser, karena titik utamanya sekarang berfokus menghadap ke Allah dan Rasulullah. Bukan seni atau esetetika itu sendiri, melainkan adalah kedalaman spiritual. Entah salah atau benar, tentang wilayah upacara (ritual, spiritual) ini saya ingatnya kata “musik sufistik”, yang coba mengantarkan orang yang mendengarnya untuk masuk ke dalam diri untuk kemudian masuk ke kedalaman spiritual itu.  Tetapi KiaiKanjeng menempuh formula tersendiri yang berbeda. Dan Pak Is ada di situ.

Kalau dibahasakan secara antroposentris, seruling Pak Is yang selama ini ditiup di THR atau panggung-panggung pentas dangdut ternyata ditakdirkan untuk mengalami perjalanan spiritual bersama KiaiKanjeng. Puncaknya adalah mengiringi nomor-nomor spiritual Mbah Nun.  Serulingnya saja mengalami perjalanan spiritual, mosok yang niup tidak. Dan yang niup pun tak selalu harus paham kan? Sebagaimana Mbah Nun pernah bilang: “Jati dirimu bisa kamu temukan tanpa kamu sendiri sadar akan itu, sebab yang utama terletak pada perbuatanmu bukan kesadaran bahwa ‘aku sudah menemukan diriku’ yang rasa-rasanya kok kita tak bisa dengan mantap mendaku kesadaran seperti itu.”

Juga, menurut ilmu Maiyah kalau disebut perjalanan spiritual jangan lantas diserem-seremkan, diekslusif-ekslusifkan, ditaraf-taraf tinggikan sehingga kita malah hilang keseimbangan dan proporsionalitas. Duh kok malah berani-beraninya saya masuk ke teori ini. Pokokmen gini, kalau seruling Pak Is saja menapak perjalanan spiritual, masak kita nggak tho Bro…

Yogyakarta, 4 Maret 2018