Sepotong dari Kitab yang Akan Melegenda

Reportase Bedah Buku "Sepotong Dunia Emha", 23 Mei 2018

Negara tak hadir di Rumah Maiyah. Ndak perlu juga memang. Wah terdengar agak anti nasionalis ya saya. Padahal dianggap begitu juga boleh. Kan hubbul wathon minal iman? Kan wathoniah ikatan kepada tanah air dan bukan sekadar administrasi negara? Iya ndak sih?

Sudahlah, saya sebenarnya hanya mau melukiskan kondisi pada malam tanggal 23 Mei di Rumah Maiyah. Bakda maghrib dan berbuka puasa, sudah cukup banyak manusia berkumpul. Sebagian ngopi-ngopi, di Syini Kopi. Saya sama istri juga di situ. Jumlah manusia sudah cukup untuk sholat berjamaah, Isya dilanjut taraweh. Ada acara bedah buku. Nanti.

Pemimpin terbaik tidak mengaju-ngajukan diri. Tapi dipilih manakala kualitas ummat sudah mumpuni untuk menelaah kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan. Maka tak ada yang mengajukan diri jadi imam saat adzan telah rampung dikumandangkan di Rumah Maiyah malam itu. Apakah panitia kurang matang menyiapkan susunan acara? Tidak juga. Ruangan telah tertata dengan baik. Panggung dan sound sudah beres. Kenapa panitia tidak menunjuk satu imam? Seperti menunjuk satu bintang dalam lagunya Sheila On 7? Jelasnya, pada wilayah itu jamaah memang perlu mandiri.

Mandiri melahirkan imam dari kalangan sendiri. Mandiri memetakan dan menentukan mekanisme penentuan imamnya sendiri. Jangan mau terus-terusan dibodohin demokrasi. Dengan pilihan-pilihan menu yang sudah dari sononya. Seperti di warung cepat saji ala Amrik. Sudahlah. Demokrasi dipakai tidak pernah ada pembahasannya lebih dulu. Pemimpin yang lahir darinya kemudian juga selalu orang asing yang tidak kita kenal. Si ini tau-tau baca proklamasi. Itu tau-tau kudeta. Eh tau-tau reformasi. Eh tau-tau begini. Ih tau-tau begitu. Serba apa tau-tau, tapi kita tidak tau apa-apa. Maafkan ini ngedumel jelata non-intelek.

Entah bagaimana ceritanya, seorang pemuda pun tiba-tiba didapuk menjadi imam sholat. Awalnya untuk mengimami sholat Isya. Namun ketika selesai Isya juga tetap tidak ada yang mau menggantikan. Maka lanjutlah sang pemuda menjadi imam taraweh malam itu di Rumah Maiyah. Saya sempat mengira (dan berharap), tarawehnya bisa merangkum kecepatan ala NU plus jumlah rakaat minim ala Muhammadiyah. Jadi lebih cepat dan paktis.

Light Weight vs Heavy Weight dalam Fitness Sufistik

Taraweh NU (terutama di wilayah Yogya) yang rakaatnya banyak tapi kecepatan gerak-bacaan kilat. Dengan taraweh Muhammadiyah yang jumlah rakaatnya minim tapi bacaan surahnya panjang dan gerakannya lama. Kalau dalam Gym fitness, itu seperti beda antara tipe latihan beban: light weight dengan heavy weight. Light weight (beban ringan) biasanya dipadankan dengan jumlah set dan repetisi yang banyak. Sedang heavy weight (beban berat) biasanya jumlah set dan repetisinya rendah atau medium (5-6rep) . Bagus mana? Ya bagus semua dan cocok-cocokan. Tiap tubuh ada tipe sendiri. Kadang mood juga berpengaruh. Target fitnessnya itu mau apa? Dan sebagainya.

Tiap aliran ada trainer yang sudah makrifat kekar-kekar. Jadi sungguh semua sudah terbukti. Tinggal kita yang harus mandiri di hadapan semua itu. Karena kita punya pemahaman dan pengalaman kita sendiri. Selainnya, bolehlah jadikan referensi latihan. Jangan keburu anti sama satu cara, tarekat, madzhab atau firqoh dan pemikiran fitness apapun. Nanti malah membatasi diri kita sendiri dari penyerapan data. Kalau kurang data, mau eksperimen juga jadi kurang liar.

Maiyah agaknya lebih liar soal eksperimen. Karena tolok ukur capaian Maiyah rupanya tidak begitu tergoda dengan kekar-kekar spiritual seperti trainer kiai fitnessan. Di Maiyah kita belajar menikmati apapun jenis beban dan ragam gerak. Konsen pada muscle and mind connection. Nikmati setiap momen dan peluh. Istilah ngarabnya: khusyuk. Disastrakan sedikit: khusyuk pada liarnya kehidupan. Selalu takjub, tidak gumunan. Jadi, kekar dan tercerahkan itu efek saja.

Lho ini kenapa kita jadi bicara soal seni ngegym fitness sufistik? Maaf kalau bagian ini agak saya panjang-panjangkan. Karena pengamatan situasi yang bisa saya lakukan paling mentok sampai berakhirnya sholat taraweh. Saya masih sempat menghampiri Mas yang mengimami. Rupanya nama beliau adalah Mas Vega. Seorang santri yang sehari-hari bekerja di sebuah warung makan di Gondomanan. Latar belakang Mas Vega sebagai santri di sebuah pondok di Wonokromo ini mungkin yang membuat ritual taraweh malam itu jadi sangat NU. Light weight dengan repetisi maksimal plus seruan-seruan sholawat dan puji-pujian membahana.

Momen ini yang paling bisa saya kemukakan dalam reportase. Selainnya mungkin banyak luput. Karena malam itu, saya termasuk sebagai salah satu pembahas untuk acara diskusi dan bedah buku “Sepotong Dunia Emha” karya Mas Latief S Nugroho. Sang penulis tampil malam itu, bersama Pak Aprinus Salam. Acara ini dimodetarori oleh Cak Kandar.

Negara tak hadir di Rumah Maiyah. Ndak perlu juga memang. Wah terdengar agak anti nasionalis ya saya. Padahal dianggap begitu juga boleh. Kan hubbul wathon minal iman? Kan wathoniah ikatan kepada tanah air dan bukan sekadar administrasi negara? Iya ndak sih? Sudahlah, saya sebenarnya hanya mau…