Sepeda, Meja Rias, Lemari, dan Kambing

Ketika Bunda Halimah meminta Yuli untuk mengajar di TPQ rasanya itu adalah kejelian Bunda Halimah dalam menempatkan seseorang dengan segala potensinya pada fungsi dan peran yang tepat dalam formasi kebutuhan masyarakat. Terbukti penempatan itu membuahkan perkembangan demi perkembangan. Anak-anak tak hanya belajar ngaji Qur`an, melainkan juga shalawatan hingga menjadi satu kelompok yang menggembirakan.

Tak hanya itu, seperti sekilas tergambarkan pada tulisan Yuli Astutik Melestari Shalawatan di Menturo, akhirnya tercipta pula kelompok shalawatan Ibu-Ibu. Bagusnya lagi, kelompok ibu-ibu ini diberi nama: Ar-Rohmah Wal Barokah. Nama ini mengandung maksud, yaitu memuliakan para orang tua yang berjasa dan “terus mengabadilanjutkan” jariyah sosial beliau-beliau. Ar-Rohmah itu singkatan dari Roh dan Mah. Roh adalah singkatan dari Rohmah yang adalah nama ibunya Bunda Halimah. Sedangkan Mah adalah singkatan dari nama Bunda Halimah itu sendiri. Sedangkan Barokah adalah doa supaya mendapatkan barokah Allah selalu.

Kelompok ibu-ibu ini tak hanya tampil saat pengajian Padhangmbulan atau kegiatan di lingkungan pondok Padhangmbulan seperti di SMK Global,  tetapi sering pula pada akhirnya mengisi di berbagai undangan acara di Menturo dan sekitarnya. Alhasil, mereka menyumbangkan kontribusi bagi tetap terjaga dan berlangsungnya tradisi yang baik dan bermakna. Kalau usai acara ada sesuatu yang bisa dibawa pulang, mereka kumpulkan oleh-olehnya jadi kas dan digunakan untuk menolong anggota yang sakit. Demikianlah mereka memutar manfaat-manfaat yang diperoleh.

Sekarang sejenak kita layangkan lagi pandangan kepada perempuan yang diamanahi Bunda Halimah tersebut dan yang menerimanya dengan baik: Yuli Astutik. Perempuan ini lahir di desa Balongwono Trowulan Mojokerto pada 3 Desember 1977. Darah keindahan pada dirinya sudah mengalir sejak kanak-kanak. Kali pertama belajar Qiro’ah atau seni baca Al-Quran mulai ditekuninya pada saat dia ngaji di TPQ yaitu ketika menginjak kelas 3 SD. Guru yang mengajarinya bernama Pak Nur Ali dari Sorogo Jogoroto Jombang. Kemudian ikut lomba MTQ dan meraih juara satu tingkat SD. Lanjutannya, setiap ada acara Yuli selalu diminta oleh Guru buat qiro’ah, bahkan pernah sampai ke luar kota seperti Lamongan. Waktu itu sangu-nya 3000 rupiah. Kecil-kecil sudah beroleh amplop! Hehe.

Ketika menapak remaja, perjalanan membawa Yuli untuk lebih banyak berkecimpung di jagat dangdut. Dia sering mengikuti lomba-lomba karaoke di desa-desa, misalnya pas even Pitulasan Agustus, dan langganan meraih juara. Saking kerapnya, sampai-sampai dia pernah didaftarkan pakai nama lain. Orang pun tentu tahu: lho itu kan Yuli. Maklum sudah ngetop dia saat itu. Bahkan pada waktu duduk di kelas 3 SMP, Yuli sudah ikut lomba karaoke di Radio Merkuri dan Wijaya FM Surabaya. Di radio Merkuri ini, sebagai teknis persyaratan, peserta disuruh mengirim rekamannya dulu di kaset, dan rekaman Yuli dikira bukan karaoke, lantaran bagusnya.

Sejarah terus berjalan. Yuli memasuki usia SMA. Dia mengambil pendidikan di Madrasah Aliyah Mamba’ul Ulum Jogoroto. Di sini, dia tak lagi menggeluti karaoke dangdut, melainkan core-nya lebih banyak qashidahan. Yuli mulai bergabung di beberapa grup qashidah seperti Al-Ashr (Jombang), Mustika Ria dan Hasta Nada (keduanya Mojokerto). Di grup-grup itu, Yuli membawakan lagu-lagu Qashidah dan tak jarang juga lagu-lagu Melayu, sesekali dangdut yang kalem-kalem.

Di Hasta Nada misalnya lebih banyak shalawatan seperti Alfu Salam dan Ya Allah Ya Adhim. Di Al-Ashr lebih banyak qashidah seperti Wahdana, Pancaran Iman, dan lagu-lagu dari album Soraya. Di Mustika Ria campuran juga:  shalawatan seperti Shalawat Badar maupun qashidah seperti lagu Pengantin Baru. Lewat grup-grup ini boleh dikata Yuli mulai memasuki dunia “profesional.”

Pada 1996, MTQ Nasional diselenggarakan di Jombang. Cak Nas (adiknya Mbah Nun), saat itu mungkin panitia atau dimintai tolong panitia, meminta salah satu grup musik untuk mengisi di pembukaan MTQ Nasional tersebut. Si pemilik orkes musik ini pun mengajak Yuli pada acara prestisius ini. Nama orkes musik ini men-zaman now sebelum zaman now tiba: EMMA (Embrio Mentoro Asli). Grup ini memang asli dari Menturo. Agaknya sang pemilik orkes selalu update sehingga mendengar reputasi Yuli sebagai pelantun Qashidah dan karenanya pilihan dijatuhkan padanya.

Tak ada yang menyangka, pada perkembangannya, rupanya pilihan dijatuhkan nggak cuma untuk urusan lantun-melantunkan lagu. Karena ternyata kemudian Yuli dipilih dan dipinang menjadi istrinya. Jadi, lelaki pemilik orkes itu ya yang sekarang jadi suaminya itu. Yang sekarang menjabat sebagai Kadus. Mereka menikah pada 1998. Kenapa jadi belok ke urusan cinta!

Mari kembali kita ke tema utama. Sewaktu SMP itu, pas sering ikut lomba karaoke, otomatis Yuli membawa pulang banyak hadiah. Bahkan pernah dapat hadiah dua ekor kambing. Satu waktu lomba di Botok Palu Trowulan dan satunya lagi di Jogoroto. Trophy dan uang sudah pasti. Pernah pula hadiahnya berupa: sepeda, meja rias, dan lemari. Cara ngirit buat ngisi rumah bukan?

Lanjut dan lanjut, barangkali pada titik ini yang segera lebih penting untuk kita catat adalah: kelak ketika dia diperjalankan dan masuk di KiaiKanjeng, seluruh potensi musikal dia, apakah nyanyi qashidah, dangdut, melayu, dan juga kemampuan qiroah maupun shalawatannya semua terakomodasi mendapatkan tempat dalam ekologi musik dan sosial yang sama sekali berbeda dibanding tempat-tempat sebelumnya di mana dia pernah berkiprah.

Mantingan, 26 Januari 2018

Ketika Bunda Halimah meminta Yuli untuk mengajar di TPQ rasanya itu adalah kejelian Bunda Halimah dalam menempatkan seseorang dengan segala potensinya pada…