Sepakbola, Filosofi, dan Semau-mau Ilahi Rabbi

Piala dunia 2018 telah memasuki babak final. Banyak sekali kejutan terjadi di sana. Satu per satu negara kontestan unggulan gugur di babak penyisihan grup. Yang paling mengejutkan tentu gagalnya sang juara bertahan Jerman menembus babak 16 besar. Parahnya lagi, mereka (Jerman) dipecundangi oleh tim asal Asia Korea Selatan dengan skor 2-0. Ibarat boy band melawan prajurit perang. Ya njomplang. Di atas kertas jelas Der Panser punya kans besar untuk memenangkan laga. Namun fakta di lapangan bisa berkata lain. Sepakbola bukan matematika. Dan di situlah serunya sepakbola. Selalu menghadirkan drama dan cerita.

Drama piala dunia 2018 masih berlanjut. Setelah Toni Kroos dkk ‘pulang kampung’, sederet pemain bintang kelas dunia akhirnya turut menyusul. Dimulai dari pemain terbaik dunia 5 kali Lionel Messi (Argentina), mega bintang Portugal Cristiano Ronaldo, Sergio Ramos (Spanyol), dan terakhir striker kontroversial Luiz Suarez (Uruguay). Mereka semua terpaksa angkat koper dari Russia.

Babak 16 besar PD 2018 ini, juga menyuguhkan kisah tersendiri. Di mana banyak diwarnai dengan drama adu pinalti. Paling tidak ada tiga pertandingan yang pemenangnya ditentukan lewat adu tos-tosan. Ada laga Rusia vs Spanyol. Kroasia lawan Denmark, dan terakhir Inggris berhadapan Kolombia. Nama negara kontestan pertamalah yang beruntung masuk ke babak quarter final (Rusia, Kroasia, Inggris).

Selain menyajikan drama, sepakbola juga tak lepas dari ‘mukjizat’. Mukjizat apa? Salah satu buktinya ialah momen krusial babak adu pinalti antara tim The Three Lion Inggris kontra tim Amerika latin Kolombia. 

Atmosfer stadion menegang saat memasuki detik terakhir babak adu pinalti. Pemain, pelatih, official dan seluruh supporter dag dig dug harap cemas menyaksikan penembak terakhir pemain Kolombia Carlos Bacca yang akan mengeksekusi sepakan 12 pas. Dan “mukjizat” itu terjadi. Bola sepakan Bacca meluncur lurus ke arah gawang Inggris yang dikawal Jordan Pickford. Keras dan terarah. Refleks, Pickford pun menjatuhkan badannya ke arah kanan. Tangan kanan dan kaki Pickford sudah tidak menjangkau untuk menghadang laju bola. Ajaibnya, tangan kiri Pickford masih bisa mengangkat dan men-tip bola liar tersebut. Alhasil bola berubah arah melayang ke atas mistar gawang. Jordan Pickford menjelma pahlawan bagi timnas Inggris, setelah algojo terakhir Eric Dyer berhasil menceploskan bola ke gawang kiper Kolombia. Tim asuhan Gareth Southgate mantap melenggang ke babak 8 besar. 

***

Aksi heroik Jordan Pickford saat menghalau pinalti Bacca seperti halnya mendapat ‘mukjizat’. Alasannya? Karena kejadian tersebut seakan terjadi di luar batas kemampuan manusia. (Coba lihat lagi cuplikannya di Youtube). 

Ketika itu Pickford sebetulnya sudah salah langkah. Ia terbang ke sisi kanan gawang, padahal bola tendangan Bacca menuju tengah gawang. Pertanyaannya, siapa yang menginisiatifi Pickford agar ia segera mengangkat tangan kirinya ke atas? Siapa pula yang menggerakkan tangan kiri Pickford sehingga masih dapat menghalau bola tersebut? Dan siapakah yang mengatur momentum, antara gerakan tangan kiri Pickford dengan laju bola sehingga keduanya bisa berbenturan bersamaan? Beda sepersekian detik saja tangan kiri Pickford dengan laju bola, maka bola akan masuk ke gawang. Dan hal itu bisa mengubah segalanya. Momentum dan ketepatan peristiwa gerak tangan dan laju bola itulah yang dimaksud dengan ‘mukjizat’.

Tuhan pun “Bersepakbola”

Bicara mukjizat berarti bicara Tuhan. Sebab mukjizat datangnya dari Tuhan. Mukjizat adalah kejadian/peristiwa yang terjadi di luar nalar dan mampu manusia normal. Secara Islam, yang berhak mendapat mukjizat dari Allah hanyalah orang pilihan macam Nabi dan Rasul. Selainnya tidak. Maka yang di maksud mukjizat di atas tentu dalam konteks yang berbeda. Memakai tanda petik.

Dalam keadaan genting, terjepit, dan krusial, terkadang Tuhan menunjukkan ‘mukjizat’-Nya. Kapan saja, di mana saja, dan berlaku bagi siapa saja. Mungkin peristiwa Pickford memblok tendangan pinalti tersebut, mengindikasikan Tuhan sedang baik hati. Sehingga meloloskan Inggris ke fase berikutnya.

Dengan kata lain, Tuhan pun sebenarnya sedang ‘bersepakbola’. Tuhan Maha Tahu apa yang terjadi sebelum dan sesudah pertandingan. Tuhan Tahu bagaimana nanti jalannya 90 menit pertandingan. Tuhan Tahu tim mana nanti yang kalah, dan yang menang. Tuhan Tahu proses terciptanya gol demi gol. Tuhan Tahu terjadinya penyelamatan yang di lakukan oleh sang penjaga gawang. Pada intinya, semua skenario hasil pertandingan ada di Tangan-Nya. 

Memindai ulasan di atas, maka sepakbola tidak bisa lepas dari hak prerogatif Tuhan. Tuhan ada di setiap pertandingan sepakbola. Tuhan ada di atas rumput lapangan hijau. Tuhan ada di peluit sang wasit. Tuhan ada di masing-masing kaki, tangan dan kepala pemain. Tuhan ada di instruksi seorang pelatih (coach). Tuhan ada di nyanyian dan dukungan para penonton. Tuhan ‘bersemayam’ di dalam si kulit bundar. 

Maka dalam bermain sepakbola tidak mungkin tidak melibatkan Tuhan. Berdoa, kerja keras dan sikap menerima apapun hasil pertandingan menjadi satu cara kita berinteraksi dengan Tuhan. Mbah Nun kerap menegaskan bahwa; ranah manusia ialah berharap dan berusaha (semoga). Sedangkan hasil mutlak wilayah Tuhan. 

Filosofi Sepakbola

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari sepakbola. Sepakbola bukan sekadar olahraga. Sepakbola bukan adu taktik semata. Sepakbola juga bukan sebatas hiburan belaka. Lebih dari itu. Sepakbola mengandung filosofi. Filosofi yang sangat relevan dengan realita kehidupan kita di dunia ini. 

Hidup di dunia tak ubahnya sebuah permainan. Seperti halnya permainan sepakbola. Di mana setiap pemain atau tim memiliki tujuan akhir yang sama yakni mencetak gol demi satu kata, kemenangan! Tentu perlu strategi jitu dari sang pelatih, skill individu pemain yang mumpuni serta kerjasama tim yang solid.

Dalam mengolah si kulit bundar, kita tidak bermain sendirian. Ada rekan yang saling bahu membahu untuk memudahkan kita melesakkan bola ke gawang. Kalau ada rekan/kawan sudah pasti ada lawan. Untuk memburu sebuah gol memang bukan perkara mudah. Sebab usaha kita akan dihalang-halangi oleh lawan kita yang jumlahnya sama dan punya tujuan yang sama pula. Maka dari itu tidak ada cara lain selain mengerahkan segenap kemampuan kita guna merengkuh kemenangan di akhir pertandingan.

Dalam kehidupan nyata, kita juga punya kawan dan lawan. Kawan kita adalah orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang yang setia dan sedia untuk membantu kita. Bisa keluarga, teman, kerabat, saudara atau rekan kerja. Sedangkan yang menjadi lawan kita ialah hawa nafsu dalam diri atau segala hal yang bisa menjatuhkan dan merugikan diri kita sendiri.

Meski kita telah berusaha dengan cara yang baik untuk mencetak gol, namun tak menutup kemungkinan orang lain atau lawan kita lah yang akan berlaku curang menjegal kaki kita. Hal ini jika dalam sepakbola dinamakan pelanggaran (foul). Dan yang melanggar akan dihadiahi sanksi berupa kartu kuning oleh wasit. Apabila nanti masih melakukan pelanggaran lagi maka si pelanggar bakal di ganjar kartu kuning kedua yang otomatis menjadi kartu merah. Itu artinya si pelanggar dipersilakan keluar dari lapangan (sent off). Kalau diibaratkan, kartu merah adalah simbol “dosa besar”. Suatu tindakan yang haram dilakukan dalam pemainan sepakbola.

Pun dalam hidup ini. Meski kita telah bersikap baik kepada siapapun, kapan pun, dan di manapun. Tak jarang pula banyak dari mereka (lawan, pesaing, kompetitor) yang berupaya untuk menjegal, mencederai bahkan ingin mencelakakan kita. Namun jangan marah dan gegabah. Tetaplah menjadi pemain/orang yang baik dan sportif. Kita tidak perlu membalas kecurangan atau pelanggaran yang dilakukan lawan. Sebab sudah ada “wasit”, sang pengawas pertandingan. Dia yang bertugas mengawasi gerak-gerik kita. Dan wasit pula yang berhak penuh untuk memutuskan suatu perkara (vonis). Biarlah sang “wasit” yang akan memberi kartu peringatan kepada si pelanggar atau mereka yang bertindak curang. Kewajiban kita sebagai pemain (manusia) ialah bermain cantik, sportif, dan kerja keras bersama tim sebaik mungkin. Selalu menjunjung tinggi fair play dalam kondisi apapun.

Andai kita terjatuh dijegal lawan, tidak usah bereaksi berlebihan. Karena aksi dan reaksi dalam sepakbola adalah sama. Sama-sama mendapat teguran/peringatan dari sang pengadil lapangan. Bangkit saja dan kembali berjiba untuk menuntaskan misi merengkuh hasil manis di ujung laga.

Sepakbola tak lain adalah cermin kehidupan nyata. Ada pemain, pelatih, staff, wasit, hakim garis, tim medis, official, barisan supporter dll. Ada tim kawan dan lawan. 

Kalau dalam permainan sepakbola sang pengadilnya bernama wasit. Maka dalam ‘permainan’ dunia ini yang bertindak sebagai juru adil yakni Allah Swt. Allah-lah sang “wasit” kehidupan. Dia yang terus menerus mengamati dan mengawasi segala tindak tanduk kita. Baik buruk, hitam-putih laku kita tak ada satu pun yang luput dari mripat pandang-Nya. 

***

Melihat Mbah Nun kemarin mendampingi timnas U-19 bertanding pada gelaran Piala AFF 2018 di Sidoarjo, kami turut bungah dan sumringah. Dengan adanya beliau paling tidak membekali para anak asuh coach Indra Sjafri tersebut dalam memahami konsep ilmu sepakbola dan filosofinya. Bahwa dalam sebuah pertandingan, urusan menang-kalah bukan tujuan utama. Yang terpenting adalah seberapa besar kita berjuang di atas lapangan. Kemenangan hanya akibat, atau dampak dari sebuah peristiwa usaha dan doa. 

Apapun hasil yang di raih oleh Egy Maulana dkk patut kita acungi jempol. Kegagalan mereka lolos ke partai final Piala AFF 2018 kemarin semoga tidak mengecilkan hati mereka. Hatinya mesti HATI GARUDA. Tetap semangat,  berdiri tegak, jantan dan siap menerkam tantangan dihari depan.

***

Membaca Tetes hari ini (Jumat, 13-7-18) saya tersedak. Sangat nggegirisi. Sampai ke ulu hati.

Ku buang ke besok pagi
Semua puisi yang telah kutulis ini
Sebab tamu derita kali ini
Benar-benar tak bisa kupahami
Aku tidur karena tak mengerti
Bagaimana menjawab semua ini
Aku terlempar dan terkatung-katung
Di padang tak bertepi
Terbang tanpa bobot
Ke langit misteri kuasa Ilahi
Aku berduka tak terperi
Aku menderita untuk Nevi
Bagaimana ia tempuh detik demi detik
Menjalani kelumpuhan hati mulai saat ini
Bukan soal Bu Eni Untari
Ia sudah menjelma Bidadari surgawi
Tetapi akan meledak atau lumpuhkah musik kami
Di perjalanan Maiyah ke sana kemari
Hatiku sengsara untuk Indra Sjafri
Sekadar takjil satu gol
Sesudah ribuan jenis puasa kami jalani
Sesudah bangsa kami terpuruk tak henti
Sekadar setetes air harga diri
Di depan wajah bangsa penghina kami
Ya Allah, Engkau jawab dengan teka-teki
Inna shalati wa nusuki ma mahyaya wa mamati
Semau-mau-Mu wahai Ilahi Robbi

Idulfithri 1439-H

Sebagai saudara, tak ada lain yang bisa kami lakukan selain menghadiahi doa Al-Fatihah teruntuk Garuda Muda, Coach Indra Sjafri dan Almarhumah Ibu Eni Untari.

Semau-mau-Mu Ilahi Rabbi, kami total pasrahkan diri.

Gemolong, 13 Juli 2018

Piala dunia 2018 telah memasuki babak final. Banyak sekali kejutan terjadi di sana. Satu per satu negara kontestan unggulan gugur di babak penyisihan grup. Yang paling mengejutkan tentu gagalnya sang juara bertahan Jerman menembus babak 16 besar. Parahnya lagi, mereka (Jerman) dipecundangi oleh tim…