Semoga Kita Tetap dan Selalu Manusia

Reportase Pementasan "Kelahiran (Semoga Manusia)", Societet TBY 22 April 2018

Tampaknya panitia acara juga tersedot sangat dalam pada sajian di panggung sehingga ketika acara selesai, sedikit terlambat mempersilakan digelarnya public review. Ini tradisi lama dalam teater Yogya, yang juga sempat hilang dan digalakkan kembali sejak pentas “MANTRA”. Pada sesi ini, setiap penonton boleh bertanya, protes atau menggugat.

Ini tradisi baik yang bisa menjaga kualitas pementasan namun juga tidak makrifat aneh-aneh, ndakik-ndakik dengan alasan bahwa yang paham hanya yang bercita rasa seni tinggi. Kasus seperti ini banyak belakangan. Enteng saja seniman kalau penonton tidak paham terus bilang memang pentasnya sulit dipahami awam. Tak ada tanggung jawab. Mengawamkan dan mengafirkan memang serupa, beda kubu saja.

Para sesepuh kesenian juga nampak hadir di jajaran penonton. Pak Untung Basuki, Bu Ami Simatupang dan banyak lagi. Pak Tertib Suratmo dan Pak Fajar Suharno juga ikut ke panggung dipersilakan oleh Mbah Nun sendiri dalam sesi public review. Untuk urusan teknis, Mbah Nun mempersilakan dikomentari olehMas Lelur yang memang akademisi di kampus kesenian.

Mas Lelur menyoroti bahwa, “Sekarang yang namanya wartawan seni dan budaya sudah meninggal. Sudah tidak ada”. Ini kemudian dielaborasi, berkaitan juga pada menurunnya tingkat apresiasi kesenian. Memang sekarang jarang jurnalis yang punya kemampuan menilai atau mengetahui seluk-beluk pementasan.

Persoalannya, untuk bisa me-review pertunjukkan dibutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bisa nulis. Minimal pernah bekerja di panggung, itu adalah bekal baik. Pernah berpeluh-peluh mengerjakan setting, mengkonsep lighting, menata suara dan musik atau pernah disutradai dan menyutradarai.

Butuh perhatian detail, mana set dan properti yang mati dan beku karena kesalahan eksekusi, mana yang memang sengaja dimatikan. Yang bikin mati siapa? Lighting? Tim artistik sendiri? Atau aktor? Dari naskah atau permintaan sutradara? Bagaimana musik? Suasana apa yang dibangun? Bagaimana komposisi panggung? Komposisi warna? Tempo, nada dan irama gerak? Per individu aktor? Dan sebagai kumpulan aktor di atas panggung? Kualitas akting bagaimana? Mana aktor yang berakting sebagai orang yang tidak bisa akting? Beda sama tidak bisa akting beneran. Ketubuhan dan kemampuan mengolah panggung, mengolah chemistry? Kostum? Make up? Belum lagi kalau aroma dilibatkan.

Banyak sekali hal yang mesti diperhatikan, detail-detail. Sementara adegan akan terus berjalan maka perhatian penuh pada tiap sepersekian detik dibutuhkan. Hilangnya wartawan kesenian (seperti yang dikatakan Mas Lelur) adakah bermakna juga hilangnya kemampuan kita menikmati dan memperhatikan hal-hal kecil. Terkikisnya kemampuan untuk melembut, silmi yang kaffah.

Tapi mungkin tidak hilang beneran, ada kok yang berusaha mempertahankan. Hanya saja pada media mainstream (yang industri maupun yang merasa idealis) tidak terlalu kelihatan.

Mbah Nun menyarankan agar “KELAHIRAN diteruskan pada proses-proses berikutnya. Ya bolehlah sedikit filosofis di sini, tapi maksudnya semangat pada pentas”KELAHIRAN” ini baiknya digarap dan dibawakan lagi dengan konsep yang lebih matang. Disempurnakan kekurangan-kekurangan teknisnya, dan dibawakan oleh pemain dari lintas generasi.

Betullah, kita tidak boleh berhenti mengalami “KELAHIRAN”. Dan di tengah situasi ekososbudpol dunia dan NKRI yang menggerus otentisitas, semoga kita tetap dan selalu adalah manusia. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun