Sejenak Manaraturrahmah di Rumah Haji Halim

Catatan Perjalanan Manaraturrahmah, 9 April 2018

Saya lanjutkan catatan perjalanan ini. Sementara KiaiKanjeng dari Bandara Internasional Makassar dan makan malam di rumah makan Hj. Anny, langsung melanjutkan perjalanan menuju Tinambung dan Mamuju dengan menggunakan bis, Mbah Nun bermalam dulu di Makassar. Ini sekadar cara KiaiKanjeng menghemat Mbah Nun saja, walau Beliau selalu siap saja menempuh perjalanan apapun. Seringnya, Mbah Nun selalu tak pernah tampak lelah dibanding kami-kami.

Baru menjelang siang tadi Beliau terbang ke Mamuju. Tiba di Mamuju, Mbah Nun langsung diajak bertandang ke rumah Haji Halim. Di sini, KiaiKanjeng dan Mbah Nun bertemu lagi, dalam jamuan makan siang.

Sebelum saya teruskan, saya merasakan bahwa memang hawa manaroturrahmah benar-benar menyelimuti. Di dalam frasa manaraturrahmah terselip makna tinggi yang menyifati manaroh atau menara. Bis yang membawa kami kali ini juga tinggi, dan besar. Itu lho bis yang kalau dari luar terlihat seperti bis tingkat. Jadi kursinya tinggi. Semacam isyarat bahwa perjalanan Mbah Nun dan KiaiKanjeng ini membawa kesadaran penuh akan kasih sayang Allah.

Alhamdulillah perjalanan darat bersama bis besar yang menamakan diri Primadona itu berjalan lancar, sebagian besar menyisir pinggir pantai laut selat Makassar, dan menjelang daerah Mamuju memasuki medan perbukitan.

Masuk Mamuju yang adalah ibukota Provinsi Sulawesi Barat, bis bergerak menuju Anjungan Pantai Manakarra, tempat Sinau Bareng nanti malam. Manakarra adalah nama salah satu dari empat belas kerajaan di Mandar zaman dahulu (tujuh di pesisir laut dan tujuh di pegunungan). Pantai Manakkara yang memapar pemandangan kita pada laut adalah salah satu icon kota Mamuju. Di sini, KiaiKanjeng menurunkan terlebih dahulu alat-alat untuk segera di-set.

Setelah itu, Aslam dan beberapa teman yang mengawal rombongan membawa kami ke rumah Pak Haji Halim tadi. Rumahnya juga manaroh banget, yaitu di lantai tiga kami dipersilakan duduk dan menikmati makan siang. Mbah Nun telah lebih dulu tiba di situ dan sudah ngobrol-ngobrol dengan tuan rumah, om Tamalele, dan lain-lainnya. Haji Halim sendiri adalah salah satu eksponen lama Teater Flamboyan Tinambung yang hijrah ke Mamuju untuk merintis usaha, dan terbilang cukup sukses.

Pada kesempatan makan siang ini, Mbah Nun menyampaikan beberapa hal yang selalu dirasakannya setiap kali datang ke Mandar. “Saya selalu tak pernah benar-benar merasa lega kalau ke Mandar, karena yang saya punya adalah rasa berhutang dan rasa bersalah. Saya khawatir jangan-jangan anak-anakku di Mandar ini berharap banyak pada saya sesuatu yang mungkin saya tidak memproses menuju ke situ, sesuatu yang saya tidak memilihnya dalam hidup ini.”

Namun Mbah Nun juga mengatakan setiap kali ke Mandar selalu tampak jelas bahwa anugerah dan kasih sayang Allah tak pernah putus-putus. Rupa-rupa hidangan ikan laut yang lezat adalah bukti dari semua itu. Maka, di penghujung perjamuan itu, semua yang hadir diajak untuk membaca dua surat yaitu Al-Quraish dan Al-Insyiroh.

Hidup kita akan disamperi rasa takut, dan kalau dipelajari betul bagaimana dunia berlangsung saat ini, rasa takut itu akan benar-benar terasa dan mewujud dalam kecemasan-kecemasan. Karenanya rasa takut itu sesungguhnya sudah ada bagi yang paham akan keadaan, tetapi Mbah Nun menegaskan kalau kita benar-benar mau mengikatkan diri pada Robb pemilik Ka’bah (Robba hadzal bait), maka rasa takut dan lapar itu akan dihapus oleh Allah dengan dipenuhinya “lapar”/kebutuhan kita dengan hal-hal yang menopang eksistensi kita, termasuk makan dan minum.

Ini Mbah Nun benar-benar tekankan karena keadaan kita secara nasional dan global memang logikanya membawa pada rasa takut dan lapar yaitu kondisi di mana kita akan mengalami banyak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan, sebagian karena sumber-sumber daya kita telah terkuasai bukan oleh diri kita. Mbah Nun jabarkan setiap kalimat dalam ayat-ayat di kedua surat itu, terutama pada ayat jaminan sungguh-sungguh dari Allah bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Dua kali Allah tegaskan di surat Alam Nasyroh tersebut. Bagi saya, penjelasan Mbah ini lagi-lagi menegaskan makna manaraturrahmah, yaitu tingginya kasih sayang Allah betapapun mengatasi semua keadaan yang sulit yang kita hadapi. Penjelasan yang lebih detail dari yang saya dengarkan beberapa hari sebelum berangkat ke Mandar ini.

Dengan terlebih dahulu membaca dua shalawat yang dipandu Mbak Nia dan Mbak Yuli, akhirnya kami bersama-sama membaca Li-ila fi Quroisy dan Alam Nasyroh dalam kekhusyukan dan penuh pengharapan. Saya saksikan Pak Haji Halim sangat khidmat dan penuh syukur juga, karena mendapatkan kebahagiaan kedatangan Mbah Nun. Saat diminta memberikan sambutan, Pak Haji Halim tak sanggup. Kedua matanya memerah, menahan haru.

Usai ramah tamah dan makan siang ini, kami pamit untuk menuju hotel M’City agar bisa istirahat sejenak, sebelum nanti berjumpa masyarakat luas di Anjungan Pantai Manakarra.

Mamuju, 9 April 2018

Saya lanjutkan catatan perjalanan ini. Sementara KiaiKanjeng dari Bandara Internasional Makassar dan makan malam di rumah makan Hj. Anny, langsung melanjutkan perjalanan menuju Tinambung dan Mamuju dengan menggunakan bis, Mbah Nun bermalam dulu di Makassar. Ini sekadar cara KiaiKanjeng menghemat…