Sebenarnya Perubahan Apa yang Diinginkan?

Setiap pemilu datang, telinga riuh mendengar seruan perubahan. Perubahan seperti apakah yang sebenarnya diinginkan?

Terlebih dahulu kita bahas tentang menang-kalah. Mbah Nun, membahas dalam banyak tulisan tentang menang kalah. Tulisan berjudul “Menang Kalah, Hina Berkah”, Mbah Nun membahas tentang skala kemenangan. Beliau mengajak kita berpikir, yang ingin kita menangkan itu diri kita pribadi atau kepentingan yang lebih besar bernama Indonesia? Beranikah kita bersikap, tidak apa-apa kita kalah asal kekalahan saya ini demi kemenangan yang lebih luas?

Cara memenangkan dapat digunakan untuk menilik tujuan, pembohongan , pembodohan, provokasi, teror adalah cara yang mengidentifikasikan dengan tujuan sempit. Berulangkali disampaikan bahwa hidup ini bukan diakhiri dengan mati. Antara dunia dan akhirat itu bukan sesuatu yang terpisah tetapi berkelanjutan.

Dalam tulisan lain berjudul “Beratnya Menang Lillah” beliau mengajak untuk berpikir pada jalan menuju kemenangan karena susungguhnya kemenangan itu ditentukan oleh Allah. Kemenangan itu ada di tangan Allah sedangkan manusia yang terpenting adalah berada di jalan Allah. Mengapa begitu, karena hanya Allahlah yang tahu itu kemengan atau tidak. Bahkan kalah itu mulia jika itu dicurangi.

Kita kembali ke perubahan, kasus yang sering terjadi–perubahan tidak menyelesaikan masalah karena perubahan yang terjadi hanya perubahan posisi dengan watak, nafsu, dan kerakusan yang sama.

Pertama kita harus memperbaiki niat, niat saja tidak cukup karena banyak yang mulanya niatnya baik tetapi setelah lingkungan mendukung untuk mencuri maka mencuri juga. Setelah niat dibutuhkan daya tahan dan konsistensi, istiqomah.

Yang penting bukan orangnya tetapi akhlaknya. Tidak harus kita, boleh kamu boleh dia, yang terpenting berakhlak baik. Ia yang mengganti adalah orang yang menjalankan nilai. Ia yang mengubah adalah orang yang hanya menjalankan peran perubahan karena sebenarnya dirinya itu tidak penting. Peran yang ia emban itulah yang penting.

Perjuangan demikian memutuhkan daya tahan yang luar biasa maka kita harus memiliki nafas panjang, berlari maraton. Semoga kita terentas dari lingkaran setan perubahan, ganti mengganti yang tidak berarti karena yang diganti hanya manusianya dengan sikap dan sifat yang sama saja. Allah pemimpin kita, Rasulullah teladan kita.

Buku Cak Nun