Sayyang Pattu`du` Buat “Anak” Mamak Cammana

Catatan Perjalanan Manaraturrahmah, 10 April 2018

Perjalanan ini sangatlah padat. Seluruh item agenda dan acara sudah selesai. Bahkan dinihari buta tadi kami sudah pamitan kepada teman-teman Mandar untuk pulang ke Jawa. Bis itu, si Primadona, melaju cepat tapi terukur, membawa kami menuju Makassar, membuat kami tertidur sepanjang perjalanan. Dan pagi ini, sejenak kami mampir di Pangkep. Di rumah orang Mandar yang tinggal di sini. Barulah saya ada waktu buat meneruskan menulis catatan perjalanan Manaraturrahmah. Maafkan. 

Saya mau njujuk ke cara Mamak Cammana menyambut kedatangan Mbah Nun siang kemarin. Beda sama silaturahmi sebelum-sebelumnya, kali ini sebuah kejutan penuh makna telah disiapkan. Mbah Nun disambut Kuda yang bernama Sayyang Pattu’du’ yang harus dinaikinya dan tapak demi tapak kuda ini akan mengantarkannya sampai tepat di depan rumah Mamak Cammana. Foto-fotonya Anda tentu sudah lihat. 

Secara harfiah Sayyang Pattu`du` berarti kuda yang menari. Dia menari karena merespons suara tetabuhan rebana yang dimainkan orang atau anak-anak yang mengiringi langkahnya. Menurut tradisi di Mandar, Sayyang Pattu`du` ini diadakan untuk menandai anak yang baru khatam ngaji Al-Qur`an. Si anak yang sudah selesai belajar membaca Al-Qur`an 30 juz buat pertama kalinya ini diminta naik kuda itu dan keliling kampung diiringi tetabuhan itu. Dirayakan dan disyukuri bersama. 

Untuk Sayyang Pattu`du` yang dinaiki Mbah Nun menuju rumah Mamak Cammana ini yang memimpin tetabuhan adalah Pak Munajab, yaitu adik kandung Mamak Cammana sendiri disertai empat anak kecil usia SD yang berjoget dan sekaligus ikut nabuh juga. Empat anak ini dilatih dengan baik agar penyambutan ini khidmat dan sakral. 

Saat melihat Mbah Nun naik kuda itu, saya sendiri langsung teringat bagaimana Beliau pernah menjelas-luaskan makna Khataman setiap mengantarkan KiaiKanjeng membawakan nomor do’a Khotmil Qur`an dalam Sinau Bareng. Hakikat khataman adalah ketika kita telah tuntas dan sungguh-sungguh dalam menjalani sesuatu, entah ujian, masa-masa, atau jenis perjalanan hidup apapun. Adalah ketika kita telah maksimal dan optimal dalam mengalami putaran-putaran dalam kehidupan ini. Jadinya konek antara tradisi menyambut khataman menurut tradisi Mandar ini dengan penjelasan makna Khataman yang saya terima dari Mbah Nun. 

Mamak Cammana mungkin melihat bahwa Mbah Nun adalah seseorang yang telah khatam banyak hal di berbagai bidang dan lapangan kehidupan di dalam dirinya maupun di tengah masyarakat. Telah berjalan dan menjelajah ke mana-mana, dan telah khatamnya itu sedemikian rupa sehingga membaca hidup mampu sampai ke yang inti dan dasar. Mamak Cammana tentu tidak mengatakan eksplisit begitu. Saya menafsirkannya. 

Juga, Sayyang Pattu`du` ini sangat terasa sebagai ungkapan simbolik orangtua kepada anaknya. Pun Mamak Cammana kepada Mbah Nun. Mamak Cammana bercerita kepada saya bahwa ketika pertama kali ketemu Mbah Nun, yang dikatakan Mbah Nun kepada Mamak Cammana adalah, “Sudah lama saya mencari seorang Mamak, seorang Ibu, di Mandar ini, dan Mamak Cammana rupanya orang yang saya cari selama ini.”

Begitulah Mamak Cammana pun merasakan dan memperlakukan Mbah Nun sebagai anaknya. Penuh kasih sayang, dan selalu dirindukan kedatangannya. Iseng saya bertanya kepada salah satu anak asuhnya Mamak, pernah nggak nglihat ekspresi kalau Mamak Cammana sedang galau karena kangen kepada Mbah Nun. Ia bilang, Mamak Cammana memang kalau bercerita kepada kami tentang Mbah Nun selalu menggambarkannya seperti anaknya sendiri, dan kalau sedang kangen, Mamak selalu menangis. 

Kuda itu berjalan sejarak sekitar 150 meter dari rumah Mamak Cammana, menempuh waktu 7 menit lamanya. Sesekali kuda itu meringkik pelan, kedua kaki depannya terangkat sedikit, seakan hendak mempelantingkan Mbah Nun ke belakang. Tetapi kepala kuda itu dielusnya, lalu tenang dan berjalan lagi. Dari bawah, sang kusir menuntun kuda itu. Seseorang lagi memegang payung yang berlapis kain batik yang memayungi Mbah Nun di atas kuda itu, dan beberapa yang lain lagi menjaga dari belakang. 

Saya tak sempat menanyakan kepada kusir itu, yang lebih mengerti perilaku kuda, tentang kira-kira apa yang dirasakan oleh si kuda saat dinaiki Mbah Nun. Tetapi sebelum Mbah Nun datang, sedikit dia bercerita kepada saya bahwa kuda miliknya, juga kuda-kuda milik orang lain, sudah didoain Mamak Cammana. Memang Mamak Cammana di sini sehari-hari selalu didatangi banyak orang untuk minta didoakan. Untuk keselamatan, keberkahan, kesembuhan, maupun keperluan lain. Termasuk mendoakan kuda supaya tidak rewel, sehat, dan baik dalam membantu penghidupan manusia. 

Sambutan Sayyang Pattu`du` ini akhirnya melambangkan kasih sayang yang tinggi yang terjalin dari Mamak Cammana kepada anak terkasihnya Muhammad Ainun Nadjib, pun sebaliknya. Kasih sayang yang manarah, yang menjulang tinggi. Yang kita pun akan kecipratan kalau saja mau belajar banyak dari jalinan kasih sayang Mamak Cammana kepada Mbah Nun. 

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, 11 April 2018

Perjalanan ini sangatlah padat. Seluruh item agenda dan acara sudah selesai. Bahkan dinihari buta tadi kami sudah pamitan kepada teman-teman Mandar untuk pulang ke Jawa. Bis itu, si Primadona, melaju cepat tapi terukur, membawa kami menuju Makassar, membuat kami tertidur sepanjang perjalanan. Dan…