Santri NU Ya Santri Muhammadiyah

Liputan Sinau Bareng CNKK di Dusun Santren, Muntilan, 7 September 2018

Tepat pukul 20.00 WIB, sepasang MC yang nampak semi-formal naik dan menyapa jamaah serta hadirin-hadirat. Malam ini, tanggal 7 September 2018 M, tanah di sekitar Ds Santren, Muntilan masih sedikit basah. Hujan mengguyur pada sore hari tadi.

Nama Ds Santren, terdengar cocok dengan tradisi santri yang erat di sekitar lokasi. Saat MC membacakan pihak-pihak yang terkait dan susunan acara, beberapa Kiai NU setempat, juga terdapat nama-nama pengurus Muhammadiyah. Semua ini, dan tentu bersama yang mewakili instansi keamanan seperti Bapak Kapolres juga kemudian hadir bersama di atas panggung. Panitia memilih tema yang samgat bersemangat: “Kreatif atau Lapar”

Santren, itu maksudnya santri? Santri memang bukan hanya milik NU. Ada santri Muhammadiyah juga dan itu nampak dalam suasana Sinau Bareng kali ini. Setelah beberapa pembukaan formal, MC menyilakan KiaiKanjeng menempati posisi di panggung. Mas Islami dan Mas Imam menyapa dan mengajak jamaah bershalawat dan bergembira musikal bersama.

Pada dusun yang agak mblusuk di bagian tengah pulau Jawa ini, sapuan nada-nada melayu menyapa, syair Arab mengikut. Udara sedikit lembab. Penjaja-penjaja jajanan meramaikan suasana. Om Ma’ruf yang biasa jualan merchandise tampak memakai peci taliban. Kang Fauzi belum terdeteksi menempati posisi di mana. Om Ma’ruf dan Kang Fauzi adalah yang biasanya menjual merchandise CNKK.

Saat Mbah Nun dipersilakan berada di panggung, Mbah Nun mengajak kita semua untuk mau belajar berpikir proporsional. Salah satu contoh misal, Mbah Nun mengajak mengingat bahwa syair-syair Imam Busyiri walau ditradisikan oleh NU, namun dia bukan kreasi NU karena usia syair itu lebih tua dari organisasi NU.

Sedikit menggoda Mbah Nun mengajukan tanya, “Ampuh mana NU sama Muhammadiyah? Bener mana NU sama Muhammadiyah?” Tentu setiap orang menjawab sesuai kecenderungannya masing-masing, namun lebih banyak yang terhening.

Tak membiarkan lama hadirin terdiam (walau terdengar samar seorang pemuda bersorak militan “ENN OOOEEE…”) Mbah Nun melanjutkan, “Benar ndak pertanyaan semacam itu? Tepat ndak? Apakah kita ini lomba benar-benaran? Lomba ampuh-ampuhan?” Rasanya ini memang penting dibahas, karena belakangan kita cenderung senang terjebak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kurang pas juga kandungan muatan batinnya.

Dalam sepuluh-lima belas menit awal acara, Mbah Nun telah mengajak hadirin untuk mengaktifkan pikiran dan batin masing-masing. Ini baru pembukaan. Saya menyaksikan berbagai hal ini, sambil menyantap soto dan kopi hitam panas di belakang.

Suasana kembali dicairkan dan dihangatkan dengan KiaiKanjeng melantunkan tiga sajian musikal yang dimaksudkan untuk mewakili tiga golongan: NU dengan Yalal Wathon, Muhammadiyah dengan Sang Surya, dan… Golongan Abangan seperti saya merasa terwakili dengan Caping Gunung.

Buku Cak Nun