Santo yang Mendaur

Reportase Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 26 Maret 2018

Dalam mukadimah awal sesi dua yang disampaikan Gus Aziz Nasihin, bahwasanya mahluk hidup di dunia ini setiap hari mengalami pertumbuhan, entah itu manusia, hewan, tumbuhan, maupun bakteri. Meskipun pertumbuhannya sangat kecil, entah itu satu mili, setengah mili, ataupun sepersepuluh mili, tetap saja itu tumbuh. Kalau dalam pelajaran Biologi zaman saya SMP dulu itu, yang dimaksud Gus Aziz tadi namanya Daur Hidup atau Siklus Hidup (life cycles). Daur yang dalam bahasa Arab berarti lingkaran (circle) atau putaran (cycle).

Teringat zaman SMP dulu waktu masih unyu-unyu, seorang guru Biologi dalam pelajaran praktik laboratorium meminta muridnya untuk menaruh beberapa biji kacang hijau yang ditaruh di atas kapas basah dalam sebuah wadah bening (semacam mangkuk bening tembus pandang). Kemudian murid-murid mengamati dan mencatat dalam sebuah jurnal.

Seminggu kemudian, ketemu lagi dalam praktik laboratorium Biologi, mengamati lagi biji-biji kacang ijo yang sama dan… wow! Telah terjadi perbedaan wujud dengan biji kacang ijo seminggu yang lalu, beberapa biji kacang ijo yang sekarang keluar akar-akar kecil dan muncul tunas-tunas daun mungil. Mungkin peristiwa itu hal biasa bagi orang dewasa, tapi menakjubkan bagi saya yang saat itu baru berusia 13 tahun, yang belum mengenal wanita, tahta, apalagi harta… halah! Dalam hal ini pernyatan Gus Aziz tadi tentang Daur Hidup, Siklus Hidup, Putaran Hidup, tadi tak terbantah dan sangat empiris.

Dalam pengantar awal Pak Munir Asad menambahkan, semua mahluk hidup di dunia ini tidak bisa lepas dari siang dan malam. Ketika siang ada sinar matahari, tumbuhan berproses untuk menumbuhkan dirinya dan ketika malam hari ibaratnya digunakan untuk internalisasi, seperti tumbuhan yang mengeluarkan oksigen dan beristirahat.

“Karena peristiwa di alam semesta ini merupakan bagian dari pelajaran yang diberikan oleh Gusti Allah, maka manusia yang tidak luput dari siang dan malam hendaknya juga untuk selalu tumbuh berkembang. Bahwa hari ini harus bisa lebih baik dari hari kemarin”, ujar Pak Munir.

Di dalam Maiyah siang malam adalah satu kesatuan, seperti halnya dunia dan akhirat adalah sebuah kesatuan. Entah bagaimana ceritanya dalam dunia modern ini terjadi pemisahan antara siang dan malam, sehingga terjadi ketidakseimbangan cara pandang antara materi dan ruhani, ketika orang bekerja dipikirnya itu sekedar peristiwa duniawi saja. Ada juga orang yang menitikberatkan hanya pada “ibadahnya” lalu kendor dalam bekerjanya.

Untuk menarik garis materi-ruhani, dunia-akhirat, sebagai sebuah kesatuan tersebut, saya ingat perkataan Mbah Nun dahulu kala dalam sebuah Mocopat Syafaat yang entah tahun berapa saya lupa, bahwasanya materi bisa diruhanikan. Materi sebagai wasilah atau sarana, sedangkan ghoyah-nya itu ahirat. Maka itu ketika bekerja diniatkan untuk mengabdi kepada Gusti Allah.

“Ketika sudah meletakkan niatmu pada tempatnya dan sudah memegang alat yang entah bentuknya itu sebagai ahli dagang, petani, atau tukang kayu, itu semua sama saja. Itu adalah alat dari sebuah amanah yang harus diemban sesuai proporsinya masing-masing.” Tandas Pak Munir.

Siang Malam Tak Berdaur yang menjadi tema acara malam itu, dalam perspektif saya seolah-olah Gusti Allah hadir secara langsung. Bagaimana tidak? Karena forum maiyahan Suluk Surakartan edisi 26, yang bertempat di Rumah Maiyah Surakarta, diberi contoh langsung oleh Gusti Allah.

Hadirnya seseorang yang bernama Santo Setiyawan yang baru pertama kali hadir dalam maiyahan Suluk Surakartan malam itu. Santo dalam bahasa Italia yang artinya orang suci, yang dirahmati. Santo Setiyawan dirahmati sejak lahir sebagai tuna netra, paling tidak dia itu lebih suci dari saya yang dirahmati alat pandang yang sehat ini namun (kadang-kadang) menggunakannya untuk menonton hal-hal mudarat di handphone, contohnya membaca statusmu yang lagi galau itu di media sosial… uhuk.

Santo yang juga dianugerahi kemampuan bermain alat musik keyboard dan kemampuan mengkomposisi lagu, dalam sharing-nya tersebut, dia menjadi mualaf ketika pada suatu hari dirinya mendapat job order dari seorang artis ibukota yang tidak perlu saya sebut namanya, untuk mengomposisi “lagu religi” tentang Ayat Kursi.

Awalnya dia biasa saja ketika mendengarkan tentang Ayat Kursi yang dibacakan tersebut, karena masih berbentuk bahasa Arab. Namun dalam job order-nya adalah dia diminta untuk mengomposisi lagu Ayat Kursi tersebut sekaligus dengan lirik yang berbahasa Indonesia. Untuk itu, dari sinilah perkenalannya dengan terjemahan Ayat Kursi. Dia mencari tahu tentang arti Ayat Kursi lewat mbah Google, tapi ketika terjemahan tersebut diserahkan ke supervisor produksi lagu, ternyata masih kurang akurat dan diminta untuk mencari lagi, sedangkan saat itu dia sudah dikejar deadline.

Teringatlah dia kepada temannya di luar kota sana, yang menurutnya tahu tentang agama. Lalu dia menghubunginya via telepon dan bertanya tentang terjemahan ayat tersebut dan minta segera dikirimkan kepadanya karena saat itu sudah panik dikejar deadline. Setelah dilaporkan ke supervisor-nya dan di-acc, akhirnya dia mendapatkan terjemahan yang akurat. Mulailah dia mengomposisi lagu tersebut sambil menangis. Dia sendiri juga tidak tahu menangisi apa, pokoknya rasanya ingin menangis ketika mengetahui terjemahan Ayat Kursi tersebut. “Biasanya saya take record lagu itu 3 jam selesai, tapi untuk lagu ini saya sampai 8 jam baru selesai. Karena banyak menangisnya”, cerita Santo.

Seperti halnya tumbuhan, ketika mendapat sedikit sinar cahaya maka berproses menumbuhkan dirinya untuk menuju ke sumber cahaya.  Tumbuhan saja tumbuh, mosok manusia tidak?

Begitu juga Santo, setelah peristiwa Ayat Kursi tersebut, meskipun tidak mudah, dia akhirnya berproses menuju sumber cahaya. Dia bercerita banyak hal tentang pengalaman-pengalaman pribadinya yang mawut dan menurut saya sangat berat sekali. Tapi dia tetap yakin dengan apa yang dipilihnya dan apa yang dilakoninya. Santo terus belajar, terus mendaur keyakinannya, terus berproses, dan yakin seyakin-yakinnya hingga seperti saat ini. Tapi ini belum garis finish tentu saja, karena dalam mendaur itu dibutuhkan keistiqamahan.

“Jujur, saya sendiri juga tidak tahu kok bisa-bisanya seperti ini. Pokoknya ada keyakinan dalam diri ini, setelah menjadi seperti ini kalau saya nanti mati ada yang nampani”, ungkap Santo.

Pakdhe Herman memberi wacana tentang perbedaan nemu dan golek (mencari). Menurut Pakdhe Herman, kalau orang golek (mencari) itu kenikmatannya lebih terasa ketimbang orangnemu. Beliau memberi contoh dengan analogi orang yang golek (mencari) belimbing dengan cara mènèk (manjat) pohon belimbing, rasanya tentu akan lebih memuaskan dibanding nemu belimbing jatuh.

“Malam ini malam yang istimewa, bisa jadi Allah nduwe karep, yang saya sendiri tidak tahu maksud-Nya seperti apa. Menurut saya, yang pertama, bisa jadi Allah memberi contoh kepada kita ketika melihat mas Santo ini, untuk malu dengan diri kita sendiri. Yang kedua, bisa jadi Allah menyuruh kita untuk belajar, untuk tadabbur lewat kenyataan-kenyataan (pengalaman hidup) malam ini. Yang ketiga, mudah-mudahan ini menambah kecerdasan-kecerdasan batin dan menambah kesegaran-kesegaran kita dalam beragama”, ungkap Pakdhe Herman.

Malam itu memang malam istimewa, kita mendaur bersama dan Allah hadir dalam tajalli-Nya. Bahkan menurut saya setiap maiyahan Jumat keempat adalah malam yang istimewa, karena kita akan menemukan sesuatu yang baru, hal-hal baru, yang bisa ditadabburi sesuai kadarnya masing-masing. Maka itu rugilah kalau tidak hadir. Saya bisa mengatakan rugi karena saya yang menulis reportasenya, hehehe… (Agung Pranawa)

Dalam mukadimah awal sesi dua yang disampaikan Gus Aziz Nasihin, bahwasanya mahluk hidup di dunia ini setiap hari mengalami pertumbuhan, entah itu manusia, hewan, tumbuhan, maupun bakteri. Meskipun pertumbuhannya sangat kecil, entah itu satu mili, setengah mili, ataupun sepersepuluh mili, tetap saja…