Sang Penawar Puasa

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (6)

Ketiga, KiaiKanjeng itu hanya bermodal kesetiaan. Tengoklah hampir seluruh personelnya bukan orang yang sejak awal menggeluti bidang musik. Apalagi untuk sampai punya cita-cita, sekolah formal, atau training khusus menjadi sebuah grup band papan atas dan terkenal. Bahkan mereka yang pekerjaan utamanya sebagai guru, pemain teater, musisi jalanan, santri, bahkan preman pasar, tetap menekuni dan menjalani peran sosial itu sehari-hari sepulang pentas dari manapun.

Dengan jadwal pentas yang sekarang sepadat itu, mungkin rata-rata bisa lebih dari 20 kali dalam sebulan, dan non-stop sejak cikal bakal berdirinya di tahun 1980-an bersama Musik Puisi Emha Ainun Nadjib dan Karawitan Dinasti. Hingga sekarang, tak satu pun yang kemudian memilih untuk bersolo karier, melebarkan sayap bisnis, atau membentuk anakan grup baru untuk merespons pangsa pasar yang baru. Mereka menjalani tirakat puasa untuk setia pada nilai-nilai yang mempertemukan masing-masing mereka di dalam sebuah ikatan cinta dan kemesraan sosial-budaya.

Ketiga prinsip tersebut, kalau mengutip tiga dialektika keseimbangan hidup yang sering sekali Cak Nun utarakan di forum-forum Maiyahan, adalah manifestari dari kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Menjalani kesahajaan adalah mengikuti kebenaran yang Tuhan takdirkan. Menekuni norma hidup yang “biasa saja”. Dan orang-orang yang menjalani puasa adalah menjalankan kebenaran bahwa yang benar dari hidup itu adalah puasa, menahan, meningkatkan posisi tawar di hadapan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Maka bulan puasa seharusnya menjadi bulan efisiensi. Bukan penghambur-hamburan atau pemborosan. Bulan melunasi utang bukan menambah kredit pinjaman. Bulan yang sangat biasa karena itu sekadar padepokan latihan untuk menjalani sebelas bulan yang lain.

Kemudian, agar puasa itu bernilai kebaikan, ia harus berangkat dari kemandirian dan kedaulatan pribadi. Bukan karena paksaan, motif dan pamrih terselubung, atau karena iming-iming hadiah. Baiknya orang puasa adalah menghormati orang yang tidak berpuasa dengan memberi mereka makan. Karena yang sedang berpuasa tidak butuh makan sehingga jatah yag biasanya dia dapatkan dapat diberikan ke orang yang lebih membutuhkan.

Orang yang berpuasa default-nya bertambah baik untuk menuju custom di level berikutnya. Bukan sebaliknya, orang yang berpuasa malah minta dihormati, dilayani, dan disibukkan dengan menimbun aneka rupa makanan jauh melebihi kebutuhan sebagaimana hari-hari biasanya ia tidak puasa.

Yang paling inti dan men-cungkupi-i, esensi tertinggi dari puasa adalah ketika ia mampu mengajarkan cinta dan keindahan. Bukankah orang yang sering kelaparan dan disuruh puasa itu biasa. Atau orang yang suka jeroan disuruh makan rempelo ati goreng, itu juga sunatullah saja kadar kemauannya dan tidak ada istimewanya. Yang luar biasa adalah, ada orang yang sangat hobi makan, punya restoran di mana-mana, dan uang banyak. Teman-temannya tidak ada yang berpuasa. Bahkan merasa sering tidak kuat berpuasa karena pekerjaannya setiap hari memasak makanan dari pagi sampe sore. Tetapi dia mau dengan sekuat tenaga membuktikan cintanya. Ikhlas berpuasa, setia dengan semua ketentuannya. Maka orang seperti itulah yang sepertinya lebih layak mendapat ijazah puasa dan posisi tawar lebih tinggi di hadapan Tuhan, manusia, dan alam semesta.

Tahun ini, Tuhan memberi saya kesempatan untuk belajar lagi berpuasa di kota yang tak pernah terdengar adzan. Apalagi tadarus, shalawat, sirine imsak. Dan ketika saya menjajal shalat berjamaah di salah satu masjid komunitas Muslim Turki malah dimarahi jamaah lain karena tidak memakai alas kaki.

Untuk bulan puasa tahun ini, waktu shubuhnya pun jam 3.00. Maghrib jam 21.30. Dan isya sudah hampir lewat tengah malam. Serta bonus musim panas yang kering lumayan menambah beban haus di siang hari. Nampaknya inilah kesempatan untuk berlatih lagi puasa yang benar, yang baik, dan yang lebih indah. Dan satu lagi, karena setelah sekian tahun secara rutin puasa yang saya lakukan adalah puasa dhohir menahan lapar dan haus, barangkali saya juga harus mulai mendalami dimensi puasa zaman now yang perlu diperluas dan lebih relevan. Yaitu menahan diri dari mengkonsumsi berlebih menu media sosial. Untuk menetralisir kolesterol informasi, hipertensi tweets, ketagihan update status, nafsu selfie, keranjingan upload foto, dan keasyikan scroll up-scroll down. Apalagi sampai kecanduan sharing berita hoax dan mengimani trending topic.

Yang jelas, meskipun saya sependapat dengan ceramah pak kyai yang menafsirkan ayat tentang perintah puasa dengan berpendapat bahwa tujuan utama puasa adalah agar orang yang menjalankannya menjadi bertakwa. Jangan lupa, saya juga harus mikir bahwa takwalah yang menjadi syarat awal seseorang untuk berpuasa. Dan sebagai sarana menaikkan posisi tawar seseorang ke maqomam mahmudah.

Karena sahabat-sahabat bule saya sangat mempercayai bahwa puasa itu scientifically proven dan medically explained benar dan baik. Namun ketika dimensi cinta, iman, dan takwa yang harus menjadi dasar untuk melaksanakannya, saya coba diskusikan ke mereka. Maka sepotong hot dog dan segelas wine atau bir lebih masuk akal menjadi teman ngobrol di siang bolong yang cerah dan panas. Karena mereka hanya memiliki paradigma bahwa Hidup itu Harus Pintar Ngegas, tapi tak mau menerima ideologi bahwa Hidup itu juga Harus Pintar Ngerem.

Buku Cak Nun