Sang Penawar Puasa

Secuil Catatan Otoetnografi Pejalan Maiyah (6)

Jika puasa diartikan sebagai sebuah cara atau metode menahan sesuatu yang seharusnya bisa atau boleh saja dilakukan, atau akan terasa baik, menyenangkan, dan memuaskan jika dilakukan. Namun ditahan sedemikian rupa dalam periode tertentu untuk menghasilkan manfaat lain yang lebih baik. Maka padanan puasa dalam berbagai bidang kehidupan dengan dua istilah di atas menjadi sangat penting.

Pembalap sekelas Valentino Rossi atau Marc Marquez misalnya. Mereka rela menahan seluruh keinginan untuk sekolah dan menjalani hidup “normal” seperti halnya anak-anak dan remaja pada umumnya demi latihan dan terus-menerus latihan ngegas dan ngerem di sirkuit balapan. Sampai saat ini, meskipun mereka sudah menjadi bintang. Dan kita tahu, dengan menekuni pekerjaan yang hanya ngegas dan ngerem saja seumur hidupnya, berpindah negara hampir setiap minggu juga mayoritas waktunya habis untuk latihan. Sekarang keduanya adalah pembalap dengan gaji tertinggi di dunia. Bahkan gaji seorang Marquez di usianya yang baru 25 tahun sudah mencapai lebih dari 150 miliar rupiah per tahun.

Lalu pelajaran puasa apa yang bisa diambil dari perjalanan dan sepak terjang KiaiKanjeng yang menjadi satu-satunya grup musik asal Indonesia yang paling banyak tampil dan diundang untuk performance ke luar negeri (bukan disponsori pihak Indonesia untuk tampil di luar negeri)? Tidak hanya menyuguhkan pertunjukan aransemen musik, tetapi juga menyumbangkan ide-ide tentang religious tolerance dan universal humanism. Hingga digelari Maestro dari para pemusik klasik di Roma, Italia (namun tidak pernah ada media yang sudi meliput dan men-trendingtopic-kan).

Juga pencapaiannya memecahkan rekor grup musik dengan jumlah dan intensitas manggung terbanyak di Indonesia. Bahkan mungkin di dunia. Yang tidak hanya menawarkan lagu, tawa, dan canda. Tetapi menjadi penawar gulana rakyat kecil sampai ke pelosok desa dan gunung-gunung (namun tak pernah sekalipun tercatat di buku rekor Indonesia, apalagi Guiness World of Record yang masyhur itu).

Pertama, KiaiKanjeng itu mengajarkan kesahajaan. Lihatlah setiap pementasan mereka. Baik dengan audience para pejabat dan kelompok manusia kelas satu penguasa negeri di ibu kota dan pamong praja di daerah-daerah. Atau para kroco pilek, bonex, dan tukang tagih hutang bank plecit di dusun-dusun. Mereka menolak untuk “dipanggungkan” lengkap dengan pagar atau brigade pasukan pengaman yang menghalagi mereka untuk berdialog dan berinteraksi langsug dengan “rakyat jelata” pengundangnya.

Mereka juga tak pandai macak, berdandan, tak memiliki penata busana (bahkan sering seragam pentas dibuatkan panitia). Tak ada make up crew dan koleksi sepatu. Tak membentuk fans club, apalagi artist management yang mengurus profesionalitas. Karena mereka tidak melihat bermusik itu sebagai profesi. Mereka tampil apa anane namun selalu ana apane. Dengan gondes-nya (gondrong ndeso), tatonya, sarungnya, sandal jepitnya. Rokok kreteknya, ndeso-nya, dari dulu, tongkrongan mereka ya begitu itu. Sampai beberapa personil sudah ada yang ditimbali oleh yang empunya hidup.

Kedua, Kiaikanjeng itu menawarkan kemandirian, bukan ketergantungan. Aransemen lagu, improvisai irama, pengambilan nada, sampai proses rekaman dan ritual pertunjukan. Go or No go-nya KiaiKanjeng bukan didasarkan pada kontrak dengan label musik komersial yang menargetkan penjualan album, genre musik, atau segmen penikmat musik tertentu. Dengan kedaulatan itu, mereka bisa sak karepe dewe menuruti maunya si pemain musik pas nemu kejadian apa atau maunya penonton pas butuh apa.

Ia juga manahan diri untuk memasang tarif, mencari sponsor, membuat promosi, dan menggunakan seluruh rumus baku industri musik. Bahkan sebagian besar rekaman manggungnya sengaja disedekahkan ke stasiun-statiun televisi lokal (meskipun belakangan ada yang menggunakannya untuk mencari tambahan rezeki tanpa permisi). Sehingga posisi tawarnya manjadi sangat tinggi.

Ia bukan musik religi tetapi sangat religius. Bukan musik tradisional tetapi mengusung tradisi dan gemar merangkul folksongs. Bukan musik jazz tetapi sangat jazzy. Bukan musik pop tetapi up to date. Bukan musik dangdut tetapi cengkoknya sangat medok. Bukan musik rock tetapi sangat progresif. Bukan musik klasik tetapi mendapat standing ovation dari para pemusik klasik kelas dunia atas tafsirnya sendiri dalam mengolah nada. Bukan musik gospel tetapi jumlah vokalisnya banyak.

Bahkan bukan musik hip hop. Tapi coba dengarkan nada dan iramanya dengan seksama. Kalau sampai ia tidak membuat kepala dan kakimu ber-hip dan hop, maka itu bukti bahwa telingamu kurang diajak piknik. Atau paling tidak pernah menikmati lagunnya Jogja Hip Hop Foundation yang kreatif itu. Ia bukan bagian dari itu semua. Tapi semuanya menjadi bagian dari kemandirian mereka mencari, menyapa, dan mengapresiasi semua yang ada.

Buku Cak Nun