Samagaha Pikir

Mukadimah Jamparing Asih Februari 2018

“Apakah ada yang ingin ditanyakan anak-anak?”, tanya seorang pengajar kepada siswa-siswinya. Kelas sejenak hening, beberapa siswa SMU itu hanya menyoroti seorang pengajar yang berdiri di depan kelas dengan baju dinas berwarna coklat. Pengajar tersebut mempersilahkan kembali kepada siswanya barangkali ada sesuatu yang ingin ditanyakan setelah ia memberikan serangkaian materi tentang fenomena alam. Namun siswa-siswi tersebut nampak bertambah keasyikannya menatap si pengajar yang sedang menodongkan tangan kanannya.

Pengajar yang sedikit terlihat tua itu mengeritkan dahinya, kenapa tidak ada respons atas pertanyaanya tersebut? Dia malah menyaksikan siswa-siswa bangku pojokan belakang yang sedang sibuk merapikan buku. Ada juga yang sibuk memasuk-masukkan perlengkapan sekolahnya ke dalam tas. Dalam hati si pengajar bergumam, “Ada apa ini sebenarnya? Apakah siswa-siswa ini sudah faham? Apakah mereka sudah lebih tau dari aku? Apakah mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa? Apa yang ada dalam pikiran siswa-siswa ini?”

Pengajar berbaju coklat tersebut tiba-tiba diserang dengan beberapa pertanyaan yang menusuk hatinya, serta mengoyak-ngoyak pikirannya. Dalam hujaman pertanyaan atas dirinya tiba-tiba seorang siswa mengangkat tangannya?

“Silakan Parta, apa yang ingin kamu tanyakan?”, ucap pengajar tersebut.

Ketika Parta akan berucap tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi dengan nyaringnya tanda kegiatan belajar telah berakhir.

“Baik Parta, maaf sekali waktu sudah habis. Simpan pertanyaanmu dan kita bertemu minggu depan”, sahut si pengajar sambil bergegas dan dengan cepat ia meninggalkan kelas sambil pamit dan mengucapkan salam.

Siswa-siswa beteriak dengan girangnya, ekspresi kegagapan yang sebelumnya ditampilkan di hadapan pengajar ketika sedang kegiatan belajar berbalik menjadi teriakan-teriakan seperti budak yang dimerdekakan saat itu juga. Namun seorang siswa yang bernama Parta hanya termenung seperti ada sesuatu yang menganggu pikirannya. siswa-siswa pun berhamburan meninggalkan kelas dengan ribut, Parta masih terduduk saat itu, ketika kelas perlahan tenang ia barulah meninggalkan kelas dengan tertunduk membawa beban di kepala dan juga hatinya.

Di perjalanan pulang menuju rumah Parta mencoba mengingat kembali apa yang tadi dikelas ia dapatkan di saat pengajarnya bercerita tentang fenomena alam. Salah satu yang ia ingat adalah ketika pengajarnya di kelas berkata bahwa akhir ini kita sedang menyaksikan kemarahan Tuhan. Banyak bencana alam di mana-mana, sungai meluap banjir, tanah tiada hentinya bergemuruh gempa, dan itu semua adalah bukti bahwa Tuhan sedang marah.

Parta bingung, dalam hati kecilnya ia berbicara loh kok Tuhan pemarah ya? Bukannya Ia Maha Pengasih dan juga Maha Pemurah? Kenapa bisa marah juga? Apakah pengajarku itu bercanda? Kalau Tuhan marah berarti adakah kesalahan yang sangat fatal dilakukan oleh manusia? Sejak kapan manusia melakukan sesuatu kesalahan hingga Tuhan marah? Apakah marahnya sekarang aja? Atau dari dulu? Apakah nanti bakal marah lagi? Parta yakin Tuhan tidak marah, jadi apakah Tuhan  memberikan teguran, peringatan atau hukuman?

Parta tidak ingin mengunakan kata-kata tersebut untuk menghindari kejadian alam dan menjadikan alat untuk mengambinghitamkan Tuhan, atau setidaknya GR bahwa Tuhan sedang menguji (padahal mengazabnya). Kalau kita rajin menebangi hutan sembarangan, jangan kemudian bilang Tuhan menguji kita–manakala banjir bandang datang menerjang.

***

Ketika di angkot akan pulang ke rumah, Parta menyaksikan beberapa ibu-ibu sedang asyik membicarakan bahwa nanti malam akan ada fenomena alam yang spektakuler katanya. Yaitu akan ada sebuah femomena langka yang terjadi setiap seratus tahunan sekali, kejadian itu bernama Super Blue Blood Moon. Katanya bulan akan berwarna merah, biru, putih dan terang menyala. Ini hal yang menakjubkan. Penampakan bulan tersebut diakibatkan karena gerhana bulan, di mana posisi matahari, bumi dan bulan dalam keadaan sejajar.

Parta menjadi teringat dengan kejadian gerhana matahari beberapa tahun yang lalu. Semua orang seperti biasa terlarut dalam euforia fenomena alam tersebut. Semua orang ingin menyaksikan tampilan gerhana matahari tersebut. Ada yang pergi ke tempat Nobar Gerhana, ada yang menuju tempat studi astronomi, ada yang tidak beranjak dari televisi yang menyaksikan siaran langsung proses gerhana.

Begitu banyak masyarakat yang antusias ingin menyaksikan kejadian ini. Parta ingat sehabis pulang ‘shalat gerhana’ dan bertemu dengan kakek tua yang berdiam diri di masjid tidak seperti kebanyakan orang yang seolah tidak ingin ketinggalan menyaksikan fenomena tersebut.

Parta masih mengingat ucapan kakek tua yang bernama Abah Idi ketika ditanya kenapa kakek tidak ingin melihat fenomena yang jarang terjadi itu.  Abah Idi pernah berkata bahwa gerhana atau yang di daerahnya disebut Samagaha, menurutnya jangan dirasakan secara visual saja.

Meski ini fenomena yang langka kita harus ingat siapa Yang Maha Membuat fenomena tersebut? Apa tujuan Sang Maha Kuasa menciptakan sebuah fenomena samagaha? Bagi dirinya jika gerhana matahari terjadi karena posisi cahaya matahari menuju bumi terhalang bulan karena garis edarnya berada pada posisi sejajar sesungguhnya ini pun terjadi pada diri manusia.

Telah terjadi Samagaha Pikir. Karena akhir-akhir ini pemikiran manusia banyak terhalang oleh sesuatu yang membuat dirinya tergelapkan. Samagaha hanya terjadi beberapa menit saja. Tapi ‘samagaha pikir’ bisa berlanjut terus sebelum dirinya melepaskan diri dari zona tergelapkan yang dapat menghalanginya menerima cahaya ilmu untuk sebuah pemikiran yang terang.

Begitupun dengan gerhana bulan, banyak orang yang mengidolakan bulan berwarna terang-benderang, menurut Abah Idi kita harus ingat di mana sumber cahaya yang membuat bulan menjadi terang benderang? Jangan menghadap hanya kepada bulan saja, karena kecantikan bulan hanya berangsung beberapa menit. Samagaha bulan hanya terjadi beberapa menit saja tetapi ‘samagaha pikir’ bisa terus terjadi sebelum manusia ingat kembali kepada siapa Sang Pemberi Pemikiran yang terang. Siapa Yang Maha Kaya akan sebuah cahaya tersebut?

Mendengar beberapa perkataan yang diberikan oleh Abah Idi, Parta tertunduk dan merenung apakah selama ini telah terjadi ‘samagaha pikir’ dalam dirinya? Parta tidak menjawab ketika dirinya ditanya oleh Abah Idi apa samagaha itu bagi dirinya? Apa samagaha itu bagi orang lain?

Apa ‘samagaha pikir’ itu seperti apa yang dikatakan Abah Idi? Apa Samagaha Pikir bagi orang lain? Apakah ada yang lebih menarik dari fenomena samagaha ini?

Jika ada sesuatu yang sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut mengenai Samagaha Pikir ini, mari bersama-sama kita melingkar di Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih hari Jumat 23 Januari 2017 pukul 19.30 WIB di Pondok Pesantren Anak Jalanan At-Tamur Cibiru Hilir.