Salam dari Desa

Mukadimah Juguran Syafaat Maret 2018

Desa adalah romantisme akan sebuah kehidupan yang ideal. Lebih dari sekedar itu sebetulnya, desa adalah sebuah bahan referensi. Referensi dari bagaimana kehidupan masih berlangsung secara sederhana. Masih seimbang ekologinya, masih rendah senjang ekonominya, masih lebih seimbang segala sesuatunya.

Tak perlu membuat Badan tertentu untuk sekedar menyelenggarakan Jaminan Sosial bagi masyarakatnya. Siapa yang sakit dijenguk, siapa yang sehat menjenguk. Ahli kesehatan tidak memasang tarif, yang datang berobat juga tidak ngemplang meski tak dipasangi tarif.

Tidak harus seorang warga desa menyukai pisang untuk beralasan ia menanam pisang. Pisang bermanfaat untuk cangkingan pada saat berkunjung, atau untuk mengoleh-olehi orang yang bertamu. Sebagai balasan cangkingan tak harus ada kesetaraan nilai ekonomi benda, pisang dibalas dukuh tidak menjadi soal. Dukuh ditukar kambing tetap ridho bi ridho.

Sementara penganut madhzab modernitas terus nombok membadani sistem jaminan sosial. Orang-orang modern pun hanya berpangku tangan menyaksikan kencangnya inflasi harga oleh-oleh. Maka, tak ada salahnya kita memungut referensi-referensi dari universalitas ilmu dari desa. Ada fakultas ekologi manusia, ekonomi, kesehatan masyarakat dan entah berapa banyak lagi ada sumber pembelajaran di desa.