Sadarilah, Bumi Adalah Saudara Tua Manusia

Reportase Majelis Masyarakat Maiyah Kenduri Cinta, 12 Oktober 2018

“Alhamdulilllah, semalem mendapatkan banyak ilmu, banyak teman, dan beberapa cangkir kopi. Maiyah memang membuatku hati gembira”, tulis Ajano dalam akun twitternya diakhiri tagar #KCOkt.

Salah satu yang dirasakan orang Maiyah ketika berkumpul dalam majelis ilmu Maiyah ini adalah suasana kegembiraan. Berkerumunnya orang-orang di Maiyahan bukan sekadar berkumpul. Mereka datang membawa rasa kangen mendalam, sehingga suasana yang terasa dalam setiap Maiyahan adalah suasana penuh kegembiraan karena bertemu dengan orang-orang yang sama-sama memendam kerinduan untuk berjumpa kembali.

Kebahagiaan berjumpa di Maiyahan tidak mungkin bisa dimaterikan. Cobalah tanyakan kepada beberapa orang Maiyah untuk menjelaskan apa kebahagiaan yang dirasakan ketika Maiyahan, niscaya akan didapati variasi jawaban yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dengan sumbu kebahagiaan ini, nuansa yang kemudian terwujud adalah setiap jamaah Maiyah dengan penuh kesabaran menyimak informasi apapun saja yang disampaikan, karena secara merdeka setiap orang yang datang ke Maiyahan akan memfilter mana informasi yang akan mereka simpan dan mana informasi yang akan mereka anggap lalu saja.

Seperti semalam di Kenduri Cinta, ketika dibacakan dua buah tulisan yang ditulis oleh Pak Pipit Ruchiyat Kartawijaya. Dua tulisan itu membahas isu politik terkini di Indonesia terkait Pilpres 2019. Pak Pipit, dengan cara pandang buku primbon, menghitung secara rinci seperti apa kekuatan dan kelemahan masing-masing kandidat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden di Indonesia yang akan bertarung di Pilpres 2019 nanti. Bukan tanpa sebab, dua tulisan itu ditulis oleh Pak Pipit atas dasar keresahan yang begitu mendalam, karena yang terjadi saat ini masing-masing kandidat justru mengkampanyekan diri mereka secara personal.

Di lain pihak, masyarakat dibuat bingung, karena tidak semua visi dan misi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden selaras dengan visi dan misi partai politik yang mengusungnya. Tentu saja akibatnya menjadi sangat rancu, karena tidak ketemu titik tengahnya. Masing-masing partai politik mengusung kandidat hanya atas dasar tujuan untuk berkuasa, bukan dalam rangka mengakomodasi terwujudnya visi dan misi mereka.

Beginilah memang suasana yang selalu tampak di setiap Maiyahan, tidak hanya di Kenduri Cinta saja. Meskipun sebuah tema besar sudah disiapkan, namun berlangsungnya diskusi selalu dinamis. Meloncat kesana-kemari, dengan bahasan ilmu yang sangat luas, tidak terkurung pada satu fakultas saja. Inilah universitas Maiyah.

Di sesi awal semalam, penggiat Kenduri Cinta memancing interaksi para jamaah yang hadir. Dalam bulan-bulan terakhir di Kenduri Cinta, bahkan waktu belum menunjukkan pukul 9 malam saja area Plaza Taman Ismail Marzuki sudah sangat ramai. Penggiat Kenduri Cinta memanfaatkan situasi ini dengan mengajak jamaah yang hadir turut serta merespons tema yang diangkat. Hasilnya, begitu banyak wacana muncul. Kemerdekaan berpikir yang lahir atas kejernihan nurani setiap orang Maiyah begitu terasa. Tidak ada sekat, siapapun saja silakan berbicara atas dasar keilmuan yang mereka kuasai atau atas dasar pengalaman yang mereka alami.

Jika Anda adalah jamaah maiyah yang baru mengalami Maiyahan di satu titik simpul Maiyah saja, cobalah sesekali Anda melakukan “safari Maiyah”, mengunjungi simpul-simpul Maiyah yang lain, sehingga Anda merasakan atmosfer yang berbeda dari satu simpul Maiyah dengan simpul Maiyah yang lainnya.

Kyai Muzammil semalam juga hadir di Kenduri Cinta, turut menyampaikan beberapa hal. Merespons fenomena alam yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, menurut Kyai Muzammil kejadian alam tersebut sesungguhnya merupakan cerminan dari dalam diri manusia itu sendiri. Gempa itu sebenarnya bukan hanya dialami oleh bumi saja. Menurut Kyai Muzammil manusia pun setiap hari mengalami gempa dalam dirinya sendiri. Setiap hari, setiap manusia menghadapi persoalan-persoalan yang pelik dengan kadar yang berbeda. Ia sepakat bahwa bumi merupakan saudara tua manusia, yang seharusnya kembali dibangun dalam alam bawah sadar manusia adalah kembali menyapa alam semesta, sehingga manusia tidak lagi kehilangan kewaspadaan terhadap gejala-gejala alam.

Buku Cak Nun