Ruang Batin “La Khaufun ‘Alaihim wa Laa Hum Yahzanun” ala Wong Cilik

Siapa dan apa sih sebenarnya wong cilik itu? Betapa sering dia dikoar-koarkan dalam setiap kampanye, gerakan politik, mobilisasi massa hingga pembangunan ideologi gerakan? Tapi yang mana sebenarnya wong cilik? Atau jangan-jangan wong cilik memang bukan definisi statis melainkan dinamis, bahwa kadang wong cilik pada satu dimensi justru adalah wong gedhi gumedhi di dimensi lain?

Kalau tidak salah ingat, dalam Das Kapital-nya Karl Marx ada gambaran bagaimana seorang proletar pembela kaum tertindas namun di rumahnya bersikap sangat majikan pada budaknya.

Logika pembelaan yang sering dipakai dalam ranah pergerakan mengandaikan bahwa pembelaan diberikan kepada golongan yang paling dirugikan dalam satu fenomena. Logika pembelaan dan utopia perubahan sosial, dua hal inilah kunci pergerakan dapat eksis selama berdekade-dekade.

Pada ranah sprint dalam fenomena tertentu, hal ini tentu tidak salah. Tapi terlanjurnya, Maiyah memang tidak sedang bermain dalam arena pergulatan yang sama dengan ring tandingnya aktivisme. Nah bila begitu, apa urgensinya Maiyah bagi wong cilik? Sebentar, apakah kita sudah menemukan alamat “wong cilik” itu?

Ketika kita sedang “Menyorong Rembulan” pada Mei 2018 M ini, Mbah Nun sempat menyampaikan sekilas bahwa definisi wong cilik sering diartikan kurang jangkep oleh berbagai pihak. Sedangkan kita tahu di Maiyah kita berusaha untuk terus menjangkepkan pemahaman. Sampai kapan pun mungkin jangkep adalah tujuan, maka maju terus wani tandang ijtihad seliarnya temukan tajdid demi tajdid. Refleksi kembali, muhasabah terus, perbaiki pemahaman yang belum komplit, lengkapi data perhitungan. Eits, kapan kita bergerak?

Wong cilik sudah kelaparan, sudah tergusur, sudah terimbas penindasan demi pelecehan dan kita masih terus menghitung-hitung? Bergerak, bergerak ke mana? Tanpa adanya utopia, dalam ranah gerakan hanya akan disebut sebagai gerakan hampa dan tak bermakna. Masa? Atau jangan-jangan engkau saja yang tak mampu melihat apa yang di balik kehampaan itu?

Atau kupingmu yang tak cukup peka mendengarkan pekik sunyi para pejalan thoriqot tanpa formalitas thoriqot-isme? Ada gemuruh dari derap-derap langkah di jalan sunyi, dia bukan tak bergerak dan tak bersuara. Dia hanya sunyi.

Tapi apakah wong cilik hanya mereka yang tergusur, tertindas, terlecehkan dan teraniaya? Ada satu sudut pandang begini bahwa wong cilik yang mesti dibela juga adalah pihak yang menggusur, menindas, melecehkan dan menganiaya itu juga. Ini tidak mengherankan dengan sudut pandang penembus materi. Bahwa betul, kita memang melakukan pembelaan terhadap mereka yang berkuasa, berada pada pucuk-pucuk ranting relasi kuasa. Baik kuasa modal, sosial, maupun kuasa gender dan berbagai bentuk kekuasaan lainnya. Hanya, cara pembelaannya tentu berbeda dengan membela wong cilik pada dimensi satunya.

Menghukum dengan kasih, melawan dengan cinta dan mendobrak dengan landasan kepedulian. Sudahkah kita miliki? Bahwa kita menghukum maling bukan karena eman barangnya, tapi karena cinta pada si maling bahwa dia mengkhianati kemanusiaannya dan keimanannya, mendurhakai tauhid penghidupannya. Mbah Nun sering sekali rasanya mengajak kita mengelaborasi hal semacam ini bersama. Tinggal ganti kata “maling” dengan kata lain, misal: penggusur, pemerkosa, perebut jabatan, koruptor, pelaku kekerasan dan berbagai bentuknya.

Itu pun bahasan ini masih sering diberhati-hatikan kembali, bahwa “maling” hanya berstatus maling saat dia melakukan aksi maling. Sama seperti ulama adalah definisi seseorang ketika berada pada iklim dan cuaca yang pas pada keilmuannya, pada referensi teori kitab dan pengalaman hidupnya. Seseorang bisa menjadi ulama karena berbagai ilmu fiqih, tasawwuf dan bahasa tapi kalau sudah sedang bermain pada wilayah yang berbeda, dia bisa saja bukan ulama pada keilmuan tersebut. Itu wajar saja, setiap orang punya spesialisasi bidang, walau juga kita perlu belajar bagaimana dialektika ilmu fakultatif dan unversalitas keilmuan.

Kita menoleh ke kaca benggala sejarah sebentar. Perlu diakui sudut pandang sejarah kita lebih banyak dibentuk oleh kaum elite pergerakan. Terutama, bila kita sedikit jeli tampaknya memang ada keterputusan sejarah antara generasi 1900-1920-an dengan generasi 1940. Namun itu kita bahas kapan-kapan. Poinnya, pola pikir aktivisme sudah mendominasi sejak lama dan dengan begitu wacana perlawanan masih selalu bermuara pada heroisme vs antagonisme.

Kita tidak terdidik oleh kahanan untuk berempati pada kaum penjajah, kita hanya diajarkan bahwa Belanda telah menindas kita selama berabad-abad. Pada masa itu bisa dipahami urgensinya, sedang dibutuhkan perlawanan massif dan antagonisme perlu untuk membangkitkan perlawanan. Tapi masa iya sampai pada era ketika perang tidak berlangsung kita masih berpikir dengan mental perang?

Kapan kita mulai untuk menelusuri bahwa kerakusan bangsa Eropa juga adalah akibat dari ketidakberdayaan, kecemasan dan kekalutan penghidupan? Mesakke, mereka tidak bermental silmi Islam. Kapan kita mulai menyusun narasi bahwa perlawanan dibutuhkan justru untuk membela dan sebagai bentuk cinta kasih bagi kaum penjajah? Tapi sebentar, sebelum ke situ kita perlu menarik jarak kembali untuk mengajukan tanya, apa sih pentingnya berpikir macam begini? Toh produk sajiannya akan sama-sama ajakan melawan penjajah dan penindas, bukan?

Baiknya begini, tak jarang perlawanan dengan dukungan gelombang massa dibangun di atas kekhawatiran-kekhawatiran, kecemasan dan kekalutan. Kita tidak bisa memungkiri bahwa akhirnya hal-hal tersebut belakangan ini makin menjadi kontraproduktif bagi kehidupan sesrawungan. Hampir setiap kubu dan golongan yang bertikai membangun perjuangan (bila memang mau diakui sebagai perjuangan) dengan menularkan kecemasan demi kecemasan pada followers kubunya. Kita bisa sebut kubu HTI (yang sudah di-Perpres-kan) vs NU, aswaja vs wahabi, pro capres sana vs capres situ, protoleransi dan antikebhinnekaan dan sebagainya. Banyak kubu yang bertentangan. Banyak wong cilik yang cemas.

Perhatikan narasi yang berkembang, ada yang khawatir karena yakin betul bahwa tenaga kerja asing telah membanjir, ada yang cemas karena merasa negerinya akan ‘di-Suriah-kan’. Di sisi lain narasi bahwa kapitalisme mencengkeram, patriarki merusak, konspirasi global dan banyak lagi narasi kecemasan demi membangkitkan ghiroh perlawanan.

Kecemasan-kecemasan ini ditularkan dengan berbagai cara transmisi pesan. Dari panggung ke panggung ceramah, khutbah, komandan tarekat hingga, elite aktivis. Wong cilik–yang sekali lagi, belum benar-benar kita identifikasi alamatnya itu–pun harus terus menerus menerima pesan penuh kekhawatiran.

Mereka yang khawatir, cenderung akan melakukan gerakan-gerakan fisik demi menenangkan hatinya, memang lumrahnya seperti itu. Toh pada kemudiannya kita lihat, taktik pergerakannya kemudian tak jauh beda antara pihak-pihak yang bercemas-cemas ria ini, contoh paling cetho mungkin antara yang bernyanyi tralala-trililili di tanah suci dengan yang mengibarkan tagar ganti-ganti di saat musim haji. Bedakah dua kubu ini? Semua merasa suci tentu saja. Bolehlah kita husnudhon dulu.

Sementara wong cilik? Sudah ketemu belum? Penenangan hati mereka cari-cari sendiri seketemu-ketemunya, tapi dengan gadget pada masa ini narasi-narasi ditransfer pada ruang-ruang privat. Ceramah-ceramah merembes ke kuping di dalam mobil ber-AC sampai ketika buruh-buruh yang isitrahat kerja, investor hingga pangkas rambut bawah pohon. Zaman semakin menderu, tak ada waktu berpikir. Terima sekenanya, apa yang ada. Maksud hati menemukan ketenangan, malah yang didapati keresahan demi keresahan. Hidup sudah susah, masa nanti masih masuk neraka? Mending main mobile legend saja lah.

Bisakah kita kalkulasikan, dari ribuan tahun peradaban dunia ini berjalan, sejumlah Nabi dan Rasul turun untuk sekadar apa? Mengingatkan kembali pesan tauhid. Kok bisa pesan yang sama terus digaungkan dalam berbagai bentuk dan artikulasi budaya? Kenapa? Kenapa Allah swt merasa perlu terus-menerus mengingatkan akan tauhid? Apakah Allah Swt yang kita syahadati terus memang sangat haus pengakuan sebagai tuhan? Atau, memang ada bahayanya kalau manusia lupa pada jaminan tauhid? Lupa bahwa, ada Allah. Konon, para kekasih Allah adalah mereka yang “laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahdzanun” tapi kok bisa sekarang bahkan orang-orang keramat yang diwali-walikan pun merasa cemas? Cemas negaranya bubar? Cemas tenaga kerja membanjir? Cemas ormasnya terancam? Cemas, cemas, cemas?

Kita belum sampai pada kesimpulan. Tapi mungkin pembaca yang budiman bisa menyaksikan wajah-wajah “wong cilik” yang hadir pada majlis-majlis Maiyahan, Sinau Bareng atau Ngaji Bareng di berbagai tempat. Apakah bisa disebut wajah-wajah seperti ini adalah wajah manusia yang khawatir, cemas dan kalut? Kita bisa menjawab satu sekarang ini, bahwa pada atmosfer dunia semacam ini, kita semua adalah wong cilik. Kita dikepung oleh berbagai ancaman, ketidak pastian dan tiadanya jaminan akan keamanan nyawa, harta dan martabat. Tapi cemas atau tidak, itu pilihan dan dengan memilih untuk tidak terlampau hanyut pada kekhawatiran pilihan-pilihan gerakan kita mungkin akan lebih variatif dan kreatif.

Maka bagi wong cilik ini ternyata mereka butuh satu ramuan yakni ruang dimana mereka bisa mengaktifasi potensi dan menjadi ruang pada sesama wong cilik. Maka lahirlah kekasih-kekasih Allah yang “laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun” dalam mengolah segala persoalan. Kalau dari kecemasan akan keterjajahan saja bisa lahir NKRI, maka waktu akan menjawab peradaban macam apa yang akan lahir dari mental “laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun” ini. Wallahu a’lam.

Buku Cak Nun