Revolusi Oyot Brigata Curva Sud

Catatan Singkat BCS Sinau Bareng “Sepakbola, Cinta & Dedikasi”, Sleman 5 April 2018

Malam ini sangat spesial dan fenomenal bagi teman-teman Brigata Curva Sud (BCS) yang tak lain adalah suporter dan pendukung PSS Sleman. Seluruh anak-anak muda ini nglumpuk tumplek blek semuanya bersama para pemain, pelatih, manajemen, Bupati Sleman, masyarakat, dan Jamaah Maiyah di lapangan komplek Pemda Sleman untuk Sinau Bareng. Lapangan penuh oleh mereka.

BCS sengaja menggelar Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dengan maksud ngangsu kawruh dan memohon bimbingan kepada Mbah Nun agar BCS bisa semakin kompak, solid, penuh persaudaraan sesama supporter, dan memohon doa agar PSS sukses dalam Liga 2 yang akan segera dilakoninya.

Sejak tiba di pendopo Bupati, terasa sekali bagaimana rekan-rekan pengurus BCS dengan takdhim menyampaikan siapa dan apa kegiatan BCS kepada Mbah Nun, dan memohon nasihat-nasihat kepada Beliau layaknya nak-anak muda yang senantiasa membutuhkan pengayoman orang tua. Dan itu, pemandangan yang indah di tengah tak semua anak muda punya kesadaran yang sama, malahan lebih banyak yang rentan kepada yang situasi yang mengawetkan mereka untuk tak kunjung matang.

Untuk semuanya itu, Mbah Nun memberikan pengantar pada awal Sinau Bareng ini dengan mengajak semua warga BCS dan seluruh tim PSS untuk melakukan revolusi, yakni sesuatu yang sifatnya mendasar. Mbah Nun menyebutnya Revolusi Substansi atau Revolusi Oyot. Melakukan apa saja berangkat dari akar, bukan dahan dan ranting.

Dalam praktiknya pas main di lapangan, revolusi ini akan membuat pemain ketika mau nendang bola itu sudah matang sejak dalam pikiran. Artinya para pemain sejak awal sudah terlatih mempersiapkan feeling, meskipun sudah ada persiapan-persiapan dari pelatih. Konteks yang lebih mendasar lagi adalah para pemain dan supporter serta relawan dengan revolusi yang dimulai malam ini mampu menemukan titik yang akurat terhadap masa depan. Revolusi ini karenanya lebih merupakan revolusi ke dalam.

Ngomongin supporter memang kerap yang terbayang dalam benak adalah kerengan atau tawur. Mbah Nun bilang, kita ini gampang berantem, dan itu tidak hanya dalam urusan sepakbola, tapi juga dalam pilkada atau berantem hanya gara-gara hal sepele. Agaknya, kata Mbah Nun, memang ada yang salah dalam diri kita, dan karena itu jalannya haruslah sinau bareng, seperti malam ini.

Untuk itu juga, Mbah Nun ajak semuanya kembali menjawab pertanyaan mendasar yang mungkin selama ini tak sempat direnungkan lagi. Pertanyaan itu adalah di manakah sebenarnya posisi sepakbola dalam hidup kita. Jawaban atas pertanyaan ini harapannya bisa membuat kita menempatkan sepakbola sebagai sumber energi untuk bebrayan, untuk persaudaraan, untuk kegembiraan, serta untuk kelegaan dalam hidup. Sehingga, kita tidak gampang kerengan.

Kalau sudah begitu, kata Mbah Nun menantang, “Masak BCS tidak akan berpikir untuk selalu menjadi teladan bagi supporter se-Indonesia.” Jika revolusi ke dalam sudah dilakukan, jika cara melihat sesuatu sudah benar, Mbah Nun yakin, PSS akan benar-benar bangkit. Lalu, hakikat Sinau Bareng itu sendiri adalah meletakkan diri kita, diri BCS, diri PSS, diri siapapun kita, sebagai diri Indonesia. Yaitu, untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia.

Di panggung, Mbah Nun, Bupati Sleman Sri Purnomo, Pak Dandim Sleman, sesepuh dan pengurus BCS, para pemain PSS dan pelatihnya, semuanya duduk bersama menjadi satu di tengah seluruh supporter dan masyarakat yang menyulap pemandangan lapangan ini sejauh mata mengedarkan pandangan mata yang tampak adalah lautan wajah-wajah manusia, wajah-wajah generasi milenial, yang penuh kesungguhan untuk Sinau Bareng dan menjalin persaudaraan, ketulusan, dan kegembiraan. Mbah Nun sebagai orang tua memandu dan mengayomi jalannya Sinau Bareng malam ini.

Dengan rasa bangga kepada BCS, usai memberikan pengantar, Mbah Nun setahap demi setahap membawa mereka makin menggumpal dalam rasa keindonesiaan dan kebersamaan dengan mengajak mereka menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan memberi kesempatan mereka bersama-sama menyanyikan theme song PSS. Mbah Nun doakan BCS dapat menjadi wadah bagi anak-anak muda Sleman untuk bersaudara dan tolong-menolong.

Ada testimoni menarik dari pelatih PSS yaitu Herry Kiswanto saat diberi kesempatan menyampaikan pesan, bahwa sepanjang dia mengurusi sepakbola dari dulu, baru kali ini dia lihat acara yang berhubungan dengan sepakbola yang luar biasa seperti malam ini. Dari acara Sinau Bareng dengan Cak Nun ini, Pelatih Herry Kiswanto yakin bahwa BCS akan mampu memberikan yang terbaik bagi PSS. Mbah Nun menyampaikan apresiasinya kepada Pelatih Herry seraya mengingat bahwa kalau nonton bola dulu salah satu yang Mbah Nun perhatikan adalah Herry Kiswanto. Saat Herry bermain bersama PSSI itu adalah era ketika sepakbola Indonesia masih cukup disegani. Mbah Nun senang tanpa sengaja malam ini online dan tersambung dengan Herry Kiswanto dan berdoa semoga pertemuan itu diperhatikan oleh Allah.

Bekal untuk Revolusi Substansial telah disampaikan Mbah Nun, dan sekarang seluruh warga BCS dijalin hatinya satu sama lain dan dengan semuanya melalui keindahan nyanyi bareng lagu-lagu Indonesia dari era ke era. Mereka semuanya bergembira, happy, menumpahkan suara dan gairah mudanya, dalam kebersamaan yang otentik. Suara mereka keluar dari kedalaman, kedalaman sejatinya manusia muda Indonesia. Lewat Sinau Bareng ini mereka dikondisikan oleh Mbah Nun untuk benar-benar bangkit menuju masa depan yang lebih baik, lebih berprestasi. (hm)

Malam ini sangat spesial dan fenomenal bagi teman-teman Brigata Curva Sud (BCS) yang tak lain adalah suporter dan pendukung PSS Sleman. Seluruh anak-anak muda ini nglumpuk tumplek blek semuanya bersama para pemain, pelatih, manajemen, Bupati Sleman, masyarakat, dan Jamaah Maiyah di lapangan komplek…