Rencanakanlah Keluarga Kita

Liputan Sinau Bareng CNKK di Alun-alun Satya Negara Sukoharjo, 30 Oktober 2018

Dua hari ini kita semua tengah diingatkan akan betapa kita sangat membutuhkan keselamatan. Keselamatan dari Allah. Kita turut prihatin, sedih, berduka, dan mendoakan kepada seluruh korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 dua hari lalu. Kita benar-benat sangat membutuhkan keselamatan dari-Nya dalam hidup ini.

Jika boleh menarik makna lebih luas, malam ini pun Sinau Bareng di Alun-Alun Sukoharjo yang diselenggarakan oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Sukoharjo dapat kita rasakan juga sebagai dalam rangka menggapai keselamatan hidup, yakni keselamatan dalam berkeluarga, yang ukuran keselamatannya adalah tolok ukur menurut ukuran nilai-nilai Allah.

Untuk kesekian kalinya BKKBN meminta Mbah Nun dan KiaiKanjeng membekali ilmu bagi BKKBN sendiri maupun seluruh masyarakat ihwal bagaimana memahami hakikat keluarga, sejak dari merencanakan hingga menapaki hari-hari dalam perjalanan berkeluarga, hingga ujungnya adalah keselamatan keluarga itu sendiri. Setiap anggota keluarga tidak terjerembab dalam perbuatan yang buruk dan merusak kehidupan. Bahasa Mbah Nun cukup jelas dalam mengantarkan, “Berkeluarga yang benar-benar sesuai dengan takdir Allah.”

Itulah sebabnya, tema ditetapkan yaitu Membangun Pendidikan Keluarga. Di dalam topik ini, selaras dengan program BKKBN, terdapat pembahasan tentang apa itu keluarga, apa itu keluarga berencana, apa yang dipahami BKKBN tentang keluarga berencana dan bagaimana pemahaman masyarakat selama ini itu sendiri.

Tapi sebelum ke situ, semua hadirin diajak dulu mengikatkan diri dan memastikan hal-hal mendasar, seperti juga pada setiap Sinau Bareng, yaitu “jangan sampai kita punya urusan/konflik dengan Allah” dan bahwa kita cinta Indonesia. Bersama-sama, ada Pak Bupati Sukoharjo, perwakilan BKKBN, Ketua DPRD, Dandim, perwakilan Forkompinda, Polres, dll, termasuk satu kelompok shalawatan Polwan di atas panggung, semua menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Sembari menanti liputan lebih lengkap, boleh dicatat dulu bahwa yang menjadi consern BKKBN adalah keluarga dalam arti keluarga “kecil” yaitu suami/ayah, istri/ibu, dan anak-anaknya. Di tangan Mbah Nun, keluarga ini nanti akan dibentangkan lebih universal dan mendasar-mendasar. Bahwa keluarga bukan hanya satuan inti atau terkecil dalam struktur masyarakat, tapi bahwa setiap anggota badan kita pun berkeluarga, bahwa keluarga oleh Mbah Nun dipandang sebagai konsep dasar Allah dalam menciptakan makhluk-Nya.

Sampai catatan singkat-pendamping ini ditulis, banyak tebaran kalimat-kalimat Mbah Nun yang memberikan tusukan-langsung ke inti yang dikandung pada suatu gagasan dalam rentang topik malam ini. Misalnya, keluarga berencana, titik tekannya pada kata berencana. Jadi, kita diajak merencanakan bagaimana kita keluarga, di antaranya dengan pendidikan dan pembelajaran. Sinau Bareng ini adalah contoh konkretnya. Belajarnya enak pula. Lihat saja ekspresi jamaah dan masyarakat yang memenuhi alun-alun ini. Penuh perhatian, gembira, berbagi bersama, jenak, “massa” tapi bukan massa dalam pengertian lama yang selama ini terbentuk, tetapi sesuatu fenomenologi yang baru. Sinau Bareng malam ini mengelaborasi hal ihwal merencanakan keluarga dengan ilmu-ilmu baru yang salau satu jangkauannya jauh sampai ke anak-cucu.

Buku Cak Nun