Rembug Duduluran

Mukadimah Lingkar Daulat Malaya Mei 2018

Tiada tuhan kecuali Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya kami tergolong orang-orang dholim.

Ya Allah, kurang dholim apalagi kami? Ketika berjejer kejadian yang meniadakan kemanusiaan, kami malah asyik terjebak dalam siapa benar siapa salah. Apakah kita telah lupa bahwa kebenaran hanya milik Allah? Tidak. Kita tidak lupa. Hanya kesadaran kita yang terlalu berpatok panca indera sehingga tak mampu keluar dari kubangan kesementaraan.

Ya Allah, bukankah Kau ciptakan alam semesta ini berdasar cinta? Sehingga Nur Muhammad-lah yang pertama Kau ciptakan. Lantas mengapa kami, manusia, tak kunjung bisa keluar dari kegelapan nafsu?

Memang perbedaan adalah keniscayaan. Namun perbedaan macam apa yang melahirkan penistaan, penghakiman sepihak, pembelaan membabibuta, peniadaan diri-Mu dalam seluk beluk proses perjalanan hidup kami? Nama-Mu memang selalu bergema, ditempatkan dalam singgasana yang “dirasa” termulia di kalbu masing-masing kami. Namun bila yang muncul malah perdebatan yang tak pernah usai, pertentangan yang semakin menajam dan keinginan untuk menyakiti yang semakin tinggi, masih layakkah kami mengharap ridlo-Mu?

Ya Allah, bangsa kami terkenal sebagai bangsa yang ramah. Bangsa yang paling banyak tersenyum. Namun bila indikator keramahan hanya diukur dari senyum, maka kami berpotensi menjadi bangsa yang paling kejam. Karena senyum bisa menjadi sumber luka. Apalah arti menampakan barisan gigi, bila dibaliknya tersembunyi hati yang siap membenci.

Bangsa kami memang bangsa yang ramah, tapi seringkali tak tepat menempatkan keramahannya. Pada orang asing selalu kita ramah-ramah, namun kepada saudara dan tetangga tak jarang kita marah-marah. Ya Allah, kami memang orang dholim. Orang yang belum mampu untuk tahu diri. Kalau pun tahu, itu hanya sebatas ada mau. Semata harta dan tahta itulah mau kami. Coba kita lihat sumber seluruh pertentangan kita, lepaskah dari dimensi harta dan tahta? Bilapun ada yang mau lepas, hujan nyinyir sesegera mungkin menerpa tubuhnya.

Mengutip lirik lagu “Keluarga Cemara” yang dinyanyikan Ibu Novia Kolopaking, “Harta yang paling berharga adalah keluarga”. Kami itu keluarga, keluarga seiman, sesuku, sebangsa dan setanah air, lebih jauhnya lagi kami itu keluarga sesama manusia, sesama mahluk ciptaan Allah SWT. Bila kesadaran keluarga telah tertanam dimasing-masing diri, masihkah ingin mengorbankan harta yang paling berharga ini hanya demi harta yang semu?

Kami itu bersaudara, tapi nuansa persaudaraan kami tenggelam oleh kompetisi menang-kalah benar-salah. Kamilah pengejar rasa menang, hingga tanpa sadar kekalahan pun dihisap-hisap serasa menang. Hanya karena kami puas melihat saudara sendiri kelojotan dibawah tatapan mata sendiri. Kami itu mabuk rasa. Kami itu membutakan rasa. Harta, tahta dan syahwat yang mengalir dari perut kebawah itulah rasa sejati kami.

Ya Alloh, kami memang dholim. Pekerjaan kami hanyalah memutus-mutus tali silaturahmi. Menjilat remah-remah sampah kehidupan. Mengagung-agung pengaruh, wibawa dan kuasa. Hingga tanpa sadar kami semua saling bunuh nurani.

Kami memang dholim Ya Robb, namun saat ini tak ada lagi yang bisa menolong kami. Tak ada sesiapa lagi yang bisa menyatukan kami, kecuali Engkau Ya Allah. Setelah sekian lama kami menyelingkuhi-Mu, perkenankanlah kami kembali.

Tiada tuhan kecuali Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya kami tergolong orang-orang dholim. Ya Allah, kurang dholim apalagi kami? Ketika berjejer kejadian yang meniadakan kemanusiaan, kami malah asyik terjebak dalam siapa benar siapa salah. Apakah kita telah lupa bahwa kebenaran hanya milik Allah?