Reformasi NKRI, 16

Tanggal 20 Mei 1998. Sesudah Komite Reformasi gagal bekerja, dan kemudian berdirilah Orde Baru seri-2 yang lebih parah, dengan “ribuan Suharto” merajalela–Cak Nun setengah memaksa  Cak Nur untuk bikin garis nasional yang prinsipnya adalah “Jangan biarkan Habibie menjadi Presiden dengan check kosong”. Minimal ada semacam ikatan ke depan untuk mengais sisa keselamatan bangsa. 

Maka Cak Nun berlima bikin pernyataan “Habibie Presiden Transisional”. Bukan Presiden permanen. Pukul 10 malam Cak Nun mengetik konsep yang ditanda-tangani oleh lima orang itu, teman-teman mengundang wartawan dalam dan luar Negeri untuk konferensi pers di Jl Indramayu 16 Menteng Jakarta pukul 11 malam. 

Cak Nun bertugas memberi pengantar lisan bahwa besok pagi Pak Harto akan mengumumkan pengunduran dirinya, kemudian Cak Nur akan membacakan pernyataan resmi tentang “Habibie Presiden Transisional”. Tiba-tiba Cak Nur langsung berdiri membacakannya, dan diakhiri dengan Tertanda: Nurcholish Madjid, Amien Rais.

Kelak andaikan bertemu di sorga, Cak Nun akan sempatkan bertanya kenapa kok tertanda beliau berdua, bukan lima orang yang menandatanganinya.