Reformasi NKRI, 15

20 Mei 1998 disebut oleh Cak Nun tidak hanya Hari Jegal Nasional tapi juga Hari Dengki Nasional. Komite Reformasi yang sudah mengkonsep reformasi topdown, memangkas seluruh jajaran kepemimpinan Nasional, dijegal oleh tokoh utama Reformasi siang pukul 14.00 20 Mei 1998 itu sehingga mati sebelum bersemi.

Cak Nurkholish Madjid bukan seorang politisi, sehingga punya hati, dan hatinya terluka, ia mundur dari otoritas Ketua Komite Reformasi. Sementara Pak Harto patah arang. Andaikan dia tahu idiom Qur’an itu, pantas ia ucapkan: “Salamun ‘alaikum la nabtaghil jahilin”, aku ucapkan selamat tinggal, aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang-orang bodoh”.

Reformasi berakhir tanpa pernah tumbuh. Presiden dan Kabinet baru dilantik oleh subversi sebagian pemain-pemain Orba. Para “Reformis” palsu numpang di “truk” Pemerintahan baru itu dengan mendesak dan “menyandera” Habibie untuk menjadi Menteri.

Cak Nun mendengar sendiri di tengah pertemuan mereka memperbincangkan uang pensiun andaikan menjadi Menteri hanya beberapa bulan — sehingga Cak Nun langsung berdiri dan keluar dari pertemuan itu untuk mengambil keputusan “Keliling bikin Gerakan Shalawatan”. Mereka juga dengki “kok anak kecil itu yang berhasil ngomongin Suharto untuk turun dari jabatannya”.

Hari itu Pak Harto memohon Cak Nun “menjadi Imam saya”.