Rakus

Emha Ainun Nadjib

Aku manusia rakus. Seluruh kekayaan bumi kuanggap bukan milik Tuhan, melainkan fasilitas alam untuk kerakusanku.

Aku mau kekayaan Sembilan Naga kuambil alih. Tapi itu konyol dan dungu: aku hanya perlu makan dua piring sehari, tidur cukup dengan satu kasur. 

Keserakahan tidak terletak di jabatan dan kekayaan, melainkan berupa kanker ganas di dalam kalbu.

Aku orang yang sangat rakus, tetapi kerakusan tidak bisa diaplikasi, kecuali membakar hidupku dengan api dari dalam jiwaku sendiri. 

Maka kuputuskan menjadi ‘abdan ‘abdiyya saja menjadi rakyat kecil dan orang biasa yang hidup cukup dengan satu pekerjaan: mengabdi, menyayangi, mengamankan dan menggembirakan.

Buku dan Merchandise