Rahmatan Lil’Alamin yang Tidak “Jargonistic”

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan 26 Juli 2018 (Bagian 1)

Nama lengkapnya Muhammad Farikhul Muttaqin. Usianya masih cukup mudah, 20 tahun. Mbah Nun memperkenalkan Fakhri di depan jamaah Padhangmbulan. Apa pasal? Lantunan suara Fakhri saat membaca ayat Al-Qur’an terkesan tidak kakean neko. Surat Al-Fatihah, An-Naas, Al-Falaq, Al-Ikhlas yang dibaca secara tartil, bersama dengan jamaah, mengantarkan suasana malam itu semakin mengendap.

Kehadiran Fakhri di Padhangmbulan meneguhkan kenyataan bahwa Maiyah dihadiri tidak saja oleh bonek mania, ahlul qohwah (tukang ngopi), para gimbal atau anak-anak muda dengan berbagai macam latar belakang. Maiyah merefleksikan kenyataan rahmatan lil’alamin: semua diterima, semua diwadahi, semua dihargai dan diapresiasi sesuai kapasitas mereka masing-masing.

Fakhri merupakan representasi anak muda berpotensi yang hadir di Padhangmbulan dan disambut dengan tangan terbuka.

Rahmatan lil‘alamin—idiom yang sangat sering terucap, mulai dari cangkruan lesehan warung kopi hingga forum-forum seminar akademik dan tablig akbar. Padhangmbulan mengucapkan rahmatan lil‘alamin dengan cara yang berbeda. Menampung dan mengapresiasi segala warna asa, rupa dan latar belakang jamaah merupakan bentuk pengucapan yang tidak “jargonistic”. Kita merasakan dan mengalami keragaman itu dalam harmoni kebersamaan yang saling mengamankan dan menyelamatkan.

Pluralisme, Bhineka Tunggal Ika, rahmatan lil‘alamin bukan wacana atau slogan—Padhangmbulan mengejawantahkannya melalui kebersamaan dan kemesraan. Tidak ada yang ditolak dan disingkirkan.

“Kalau ber-Bhineka Tunggal Ika tidak mengedepankan kelompok-kelompok,” ujar Mbah Nun. “Katanya bersama-sama, tapi kenyataannya sendiri-sendiri.”

Dialog Mbah Nun dengan Fakhri berlangsung penuh kesegaran. Dari pertanyaan dan jawaban yang sederhana: berapa usiamu, ayah ibu tinggal di mana, atau sehari-hari bekerja sebagai apa—kita disuguhi bukan saja informasi tentang latar kehidupan Fakhri. Melalui dialog yang diselingi gelak tawa jamaah, Mbah Nun melakukan conditioning cara berpikir dan bersikap bahwa bahan dasar untuk bergembira ternyata melimpah ruah.

Persoalannya, apakah naluri sel-sel yang tertanam dalam kesadaran kita telah dibuka oleh Allah ataukah justru tertutup oleh sejumlah parameter yang kita sangka bisa membahagiakan? Kalau pikiran telah terbuka, naluri terbuka, kesadaran terbuka, dalam situasi apapun kita akan siap menampung cahaya kebahagiaan.

Walaa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun. Tidak cemas, artinya hati terasa jembar; tidak bersedih, artinya hati selalu bergembira. Hati yang bersama Allah akan terasa luas sehingga menghadapi situasi hidup kayak apapun hati tetap bergembira.

Bab ilmu kebahagiaan ini bisa cukup panjang untuk dieksplorasi, diperluas dan didalami. Orang kerap salah sangka terhadap kebahagiaan. Mereka berburu ini dan itu, berambisi menjadi Gubernur dan Presiden, membela mati-matian yang tidak seyogianya perlu mati-matian dibela, untuk memperoleh apa yang mereka sangka sebagai bahagia. Jika itu yang terjadi, bersiaplah kecelek.

Dari kehadiran anak muda bernama Fakhri—dan durasi pengajian Padhangmbulan baru berlangsung beberapa puluh menit—pintu-pintu ilmu telah terbuka. Kita memasukinya dengan mata pandang baru untuk bekal menjalani hidup hari ini dan esok hari.

Sekarang kita bergeser ke Aji Soka, grup musik shalawat dari Bojonegoro yang malam itu menyuguhkan alunan musik yang cukup apik. Sekumpulan anak muda ini memainkan musik dan lagu KiaiKanjeng. Mbah Nun mengapresiasi tangan-tangan yang memainkan alat musik itu seraya mendoakan semoga mereka masuk surga.

“Pokoknya, berurusan dengan Allah itu yang manut dan ikhlas. Sedangkan terhadap manusia kita berhusnudhon. Sawang sinawang. Rendah hati dan andhap asor,” pesan Mbah Nun. Tentu saja pesan tersebut kita pahami lengkap bersama konteksnya. Misalnya, tidak merasa lebih baik, lebih mulia, lebih terhormat dari orang lain. Kita diberi fadlilah yang orang lain tidak memilikinya. Demikian pula sebaliknya. Sak legi-legine gula gak iso dadi asin . Semanis-manisnya gula tidak bisa jadi asin. Atau sekuat-kuatnya harimau tetap tidak bisa terbang.

Analogi tersebut dapat diaplikasikan ke berbagai konteks situasi, terutama bagaimana kita memandang diri sendiri dan memperlakukan orang lain. Harimau tidak perlu memandang dirinya lebih hebat karena ia lebih kuat dari burung. Atau burung memandang rendah harimau karena tidak dapat terbang seperti dirinya.

Apik-apikan, hebat-hebatan, kuat-kuatan lalu masing-masing pihak mengandalkan setiap kelebihan itu untuk merasa dirinya lebih mulia dan terhormat dari pihak telah menjadi selera kebanyakan orang zaman now. Bukan cuma lucu—sikap tersebut merefleksikan ketiadaan pemahaman diri yang berakibat pada saling hina dan saling mengungguli satu sama lain.

Yang pasti, rahmatan lil‘alamin tidak kompatibel dengan cuaca kehidupan yang setiap individunya gagal paham terhadap kedaulatan diri mereka.[]