Qiyam dan Indzar dari Padhangmbulan, Tak Lekang Digerus Zaman

Berada tepat di jantung gerakan Reformasi tidak menjadikan beliau kemaruk, memanfaatkan aji mumpung, bergerak dalam eskalasi lipatan untuk melenggang ke altar kekuasaan yang angkuh. Padahal beliau sangat mungkin melakukan hal itu, mengingat beliau sendiri adalah pawang yang merapal jurus gak pathèken.

Sebelum lakon goro-goro meletus, beliau telah melakukan qiyam bahkan untuk diri sendiri, sebelum menyampaikannya kepada sesama wong cilik dan penguasa. Qiyam yang meneguhkan niat dan sikap perjuangan kepada siapa sejatinya ia berpihak. Qiyam yang disampaikan pada Maret 1998 itu merefleksikan ketidaktegaan. Beliau menampung rakyat kecil, sesama kaum dlu’afa dan sesama mustadl’afin di semesta lubuk hatinya.

Beliau bukan hanya menghayati kesusahan, penderitaan, kesengsaraan hidup wong cilik layaknya penulis cerpen merasuki karakter tokoh cerita. Bukan sekadar merenungi pertengkaran suami istri karena sekilo beras. Bukan sebatas memainkan sebaris quote untuk menghibur luka hati sesama orang kecil.

Saya yakin beliau adalah wong cilik itu sendiri, rakyat kecil, mustadl’afin. Manusia otentik, bocah angon dari Mentoro. Beliau tidak berpura-pura melakonkan keberpihakan kepada wong cilik karena di dalam hati perasaan beliau bersemayam pula hati perasaan orang-orang kecil. Menjalani hidup apa adanya. Tidak mengenakan jubah kebesaran. Tanpa asesoris kemegahan. Tanpa teknologi branding dan pencitraan. Tanpa ambisi meminang kekuasaan.

Sangat tidak tega hati menyaksikan dehumanisasi dan demartabatisasi yang melibas siapa saja sesama manusia hamba Allah.

Kita Pilih Barokah, Bukan Adzab Allah

Di tengah situasi wingit, pada momentum waktu yang tepat, Maret 1998, Keluarga Padhangmbulan menyatakan: “…Kalau semua yang seharusnya bertanggung jawab atas nasibmu bersikap acuh tak acuh atas kesejahteraan keluargamu, pendidikan anak-anakmu, keselamatan nyawamu dan lempangnya jalan hari depanmu.

Maka, sebelum itu bisa diubah: engkau tetap bangkit, menciptakan kerja dan kemandirian tanpa putus asa, sambil kapan saja sesempatnya mewiridkan Hasbunallah wa ni’mal wakil, engkau puja-puja asmaNya. Ya Waasi’ Ya Fattaah Ya Rozzaaq, dan engkau tirukan istiqamah hidupnya Rasulullah Agung Muhammad Saw: Innani yuth’imuni robbi wa yasyqinii. Sesungguhnya Allahlah yang memberiku makan dan minum.”

Tombo Ati itu menjadi pengantar buku tipis, 24 halaman–buku yang sarat dan padat muatan nilai dan sikap perjuangan. Judulnya, Pesan Sesama Wong Cilik: Kita Pilih Barokah Bukan Adzab Allah, dari Padhangmbulan dan Cak Nun, Maret 1998.

Selain dilatarbelakangi situasi menjelang Reformasi, muatan buku tersebut juga menjadi tonggak bagi cara berpikir, sikap berpikir, serta semua instrumen yang dibutuhkan agar koordinat keseimbangan hidup bebrayan senantiasa terjaga. Formula yang dikandung setiap baris kalimat masih berlaku hingga kini dan akan terus berlangsung hingga Allah sendiri yang menjawabnya.

Bagaimanapun konteks peristiwanya, sikap pendirian beliau tidak pernah luput mengajak kita agar melakukan thaharah, bersuci terus menerus: mereformasi diri sendiri sehingga berpikiran adil, berpandangan jernih, dan memelihara kasih sayang sosial.

Tema kesadaran tersebut berdengung-dengung sampai saat ini, baik di majelis rutin Maiyah, lingkar dan simpul di berbagai kota dan negara. Kita menancapkan tonggak-tonggak, melakukan reformasi internal, menata hati menjernihkan pikiran. Mengapa? Nyatanya, krisis tidak berhenti usai gonjang-ganjing Mei 1998. Kita dikepung oleh situasi turbulance. Manusia seperti gabah den interi: saling tabrak, saling tubruk, saling sikat, saling sikut, nyaris di segala lapisan atmosfer kehidupan—kontinuasi dari rangkaian krisis Mei 1998 yang mogol.

Di tengah itu semua nasib perbaikan hidup tidak bergantung dan digantungkan kepada para pemuka dan pemimpin bangsa. Selama perubahan nyata belum bisa dilaksanakan oleh para pemuka khalifah Allah di antara bangsa ini, maka sikap yang paling mendasar dan mendesak yang harus kita ambil hari ini adalah mengembalikan posisi hidup kita kepada ikrar Allahush-shomad: bahwa Allah-lah pihak satu-satunya penguasa nasi kita, garam dan gula kita, untung rugi dan susah senang kehidupan kita, bergantung pada-Nya, demikian pesan Mbah Nun.

Istiqamah Melaksanakan Qiyam dan Indzar

Mendadak saya teringat Allah Pusat Simpul Maiyah. Mataair yang dicurahkan dari langit untuk direguk, didalami, diselami, di-laku-amal-kan hamba-hamba yang di dalam dirinya terdapat jiwa yang segelombang dengan amr  dan irodah Maha Ruh sumber mataair itu.

Gamblang sudah. Maiyah menuntun kita kembali kepada akar kesadaran bahwa Allah adalah Juragan kita, Akuntan kita. “Allah menyediakan diri menjadi ‘akuntan’ kita, ‘manajer’ kita, bahkan ‘penyampai urusan kita’, sepanjang kita patuhi perjanjian kewajiban kita kepada-Nya,” ungkap Mbah Nun.

Kita tegak karena Allah menegakkan kita. Kita memiliki martabat karena Allah meminjamkan martabat-Nya. Sebagaimana Padhangmbulan telah melakukan qiyam dan indzar sejak beberapa puluh tahun lalu, demikian pula yang dilakukan Maiyah.

Mbah Nun menyatakan, qiyam artinya kita bangun dan menegakkan diri dari segala kondisi yang mengambrukkan mental dan posisi hidup kita. Indzar artinya memberikan peringatan kepada siapa dan apa saja yang menurut Allah layak diberi peringatan, terutama diri kita sendiri.

Kita tengah mengemban amanah qiyam dan indzar di pundak tanggung jawab kita masing-masing. Skala dan ruang lingkupnya pun tidak perlu jauh-jauh dan muluk-muluk. Daya jangkau, daya sebar, daya rengkuhnya menganut prinsip laa yukallifullahu nafsan illaa wus’aha. Sesuai haul, quwwah dan shulthan yang dititipkan Allah kepada kita. Minimalnya, kita dan rumah tangga kita aman dan saling mengamankan, selamat dan saling menyelamatkan.

Tegak bermartabat dengan memartabatkan sesama manusia, ngajeni wong liyan, menyayangi sesama dengan cinta kasih sosial. Mustahil kita ikut royokan balung, karena wa laa tansa nashiibaka minad-dunya adalah pagar yang membatasi kita sehingga tidak merakusi dunia.

Kesadaran terhadap dunia tidak lebih dari “nyruput kopi” di saat kebudayaan modern kehilangan akurasi dan keseimbangan berpikir yang mengampanyekan kerakusan “minum kopi”.

Nyruput, secukupnya saja, asal terasa di lidah dan berefek “pyar” di kepala. Kosa kata yang padanan nuansa semantik dan maknanya tidak ditemukan pada bahasa apapun. Ia dimuati ideologi, filosofi, aqidah bahwa dunia bukan tempat memuaskan dahaga dan lapar.

Sedarurat-daruratnya Indonesia kita tetap optimis menatapnya. Qiyam dan indzar terus berlangsung dalam lingkaran Maiyah yang membersamai Allah dan Rasulullah, menciptakan energi pemarnen: energi batin, energi budaya, energi ekonomi, energi politik, energi pendidikan.

Kepada Mbah Fuad, Mbah Nun, Syekh Nursamad Kamba, Kyai Tohar serta para sesepuh Maiyah lainnya, kami menghanturkan terima kasih atas ketelatenan, kesabaran, dan keistiqamah beliau menemani, mengiringi, membuka pintu-pintu cakrawala kebenaran, kebaikan dan keindahan. Ungkapan terima kasih ini sebagai salah satu bentuk syukur kami kepada Allah dan persembahan salam ta’dhim kepada Rasulullah. []