Pusparagam Dimensi Pemikiran Cak Nun

Memadatkan identitas Muhammad Ainun Nadjib—selanjutnya disebut Mbah Nun—merupakan usaha simplifikatif yang acap disematkan khalayak umum. Dari budayawan, penyair, penulis, hingga pekerja sosial, setidaknya, dilakukan jamak orang selama kurun waktu lima dekade terakhir. Fragmentarisasi demikian didasarkan atas rekam jejaknya di jagat sosial-kemasyarakatan.

Remah-remah identitas yang cenderung tercerabut dari akarnya sebagai manusia otonom itu kemudian dikumpulkan Susmasno Hadi. Melalui tesis pascasarjana yang dibukukan bertajuk Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran (2017), Sumasno mengonstruksi keutuhan pemikiran Mbah Nun. Ia berpijak pada benang merah ontologi, epistemologi, dan aksiologi berikut studi literer karya dan kiprah Mbah Nun guna menyibak “jalan sunyi”-nya.

Buku ini mendedah Mbah Nun dalam perspektif teks dan konteks. Sumasno mafhum betapa kedua aspek struktural dari dimensi kebahasaan itu niscaya akan bersemuka dengan aras-aras periodik apa, bagaimana, dan di mana Mbah Nun melakukan pengembaraan kehidupan. Yang terucap dan yang tetulis, dengan kata lain, saling beririsian sehingga lapisan perjalanan Mbah Nun akan terjelaskan total.

Sumasno menyadari bahwa kerja ilmiahnya meniscayakan sebuah kerangka tekstual bernama biografi. Sekalipun sepanjang uraian tertulisnya ia seakan-akan menghindari penjelasan yang sekadar berputar pada “apa yang tampak” sebagaimana biografi konvensional. Ia memilih jalan eksploratif dengan pendalaman fenomenologis di balik tabir “apa yang tampak” itu. Sumasno, karenanya, menawarkan biografi pemikiran yang mendedah narasi-narasi yang subtil dan elementer.

Biografi pemikiran ini disusun sebanyak 221 halaman. Sumasno mengambil posisi untuk mengeksplanasikan faset-faset perjalanan Mbah Nun di bagian awal agar sidang pembaca mampu mengimajinasikan di mana dan bagaimana sebuah pemikiran berkembang secara dialektis. Dimulai dari periode Jombang, Malioboro, Dinasti, Lautan Jilbab, ICMI-Politik, Pak Kanjeng, Padangmbulan, Reformasi, hingga Maiyah, Sumasno secara jeli menelusuri perjalanan Mbah Nun.

Penjelajahan Mbah Nun dari tempat ke tempat, masa ke masa, dan momen ke momen itu secara implisit berdampak pada bangunan pemahamannya. Tentu Mbah Nun bukan tipe orang yang abai terhadap peristiwa monumental. Ia tak luput meliterasikan pengalaman kemanusiaannya itu secara rapi dan komprehensif. Kecenderungan demikian memudahkan Sumasno melacaknya melalui buah pena. Baik lewat esai, cerpen, puisi, reportase, maupun naskah drama karyanya dan ulasan mengenainya.

“Karya-karya Emha di sini dapat dikategorisasikan dalam empat jenis teks karya, yaitu esai, puisi, cerpen, dan naskah drama. Kategorisasi karya ini dapat memperjelas antara karya penulisan (tekstual) dan karya non-kepenulisan yang dihasilkan Emha” (hlm. 108).

Vakansi jagat teks Mbah Nun yang dilakukan Sumasno menyiratkan suatu pandangan hidup dan nilai yang ajek. Konsistensi tersebut dipertautkan oleh spirit “perjuangan nilai” mengenai sikapnya yang nonkooperatif dengan segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Kecenderungan demikian dilakukan Mbah Nun dengan “…sikap-sikap kultural Emha [yang] lentur, dalam arti respons-respons dan berbagai aktivitasnya yang cair-mengalir dan progresif mengikuti perubahan zamannya…” (hlm. 112).

Persemukaan Mbah Nun terhadap rakyat kecil hampir dilaluinya sepanjang hidup. Ia berposisi sebagai individu yang ringan tangan karena tak tega melihat ketidakadilan merajalela. Masyarakat lintas kelas ia bantu dengan bentuk dan sikap yang kontekstual. Inspirasi ini kemudian membentuk idiom, analogi, dan idiosinkrasi tulisan Mbah Nun yang kerap berangkat dari situasi empiris di lapangan. Pada titik ini tulisan Mbah Nun diterima dan dipahami banyak orang tanpa mengenal sekat-sekat baku.

Sumasno mengumpulkan tatal-tatal pandangan filsafat Mbah Nun yang tersirat di dalam bejibun karya kreatifnya. Seperti diketahui khalayak umum, Mbah Nun merupakan tipe penulis yang tak mengonstruksi gagasan universalisme keilmuannya dalam satu buku khusus. Ia cenderung menyebarkan nilai-nilai filsafat di semua karya tanpa terkecuali. Hampir, bahkan tak ada, satu karya kreatifnya yang absen dari kekosongan nilai filsafat.

Atas dasar itu Sumasno mengikat percikan-percikan filsafat yang distimulus Mbah Nun berdasarkan jagat teks yang secara produktif ditulisnya. Di luar teks, Sumasno juga menelisik “…kandungan filsafati dalam pemikiran Emha berupa diskografi seperti rekaman-rekaman lagu, musik, renungan, pembacaan puisi, juga narasi ceramah-ceramah yang begitu banyaknya” (hlm. 116). Semua itu disusun Sumasno secara sistematis agar “…butir-butir itu jadi gumpalan cahaya yang memberikan sorot kemanfaatan inspiratif…”

Fragmen-fragmen filsafat Mbah Nun dijelaskan Sumasno meliputi tiga perspektif. Pertama, dimensi ontologi yang meliputi kosmologi, filsafat manusia, eksistensialisme, dan metafisika cinta (hlm. 113-129). Kedua, dimensi epistemologi yang mendudukan tiga ranah: kesadaran dan pengetahuan, kebenaran, serta analogi (hlm. 131-139). Ketiga, dimensi aksiologi yang berusaha menyibak persoalan etika, estetika-seni, dan filsafat pendidikan (hlm. 143-152). Kesemuanya itu dipertautkan oleh rumus Segitiga Cinta yang mengikat kesadaran posisi antara Allah, Muhammad, dan manusia.

Praksis nilai filsafat yang diintroduksikan Mbah Nun mengguratkan pemikiran kebudayaan. Di sini Sumasno mengakui kesulitan untuk merekonstruksi dimensi budaya yang menjadi diskursus Mbah Nun selama melakukan “kerja sosial” di ranah mana pun. “…membahas keluasan pemikiran Emha tentang kebudayaan—sebagaimana luasnya pengertian atau konsep mengenai kebudayaan—adalah usaha yang berat dan sulit” (hlm. 161). Preferensi ini Sumasno jadikan pertimbangan lebih lanjut untuk mengambil jalan tengah. Ia melimitasi pokok kajian pada tiga hal, yakni sastra, seni, dan budaya.

Soal referensi kebudayaan, Sumasno merujuk karya Mbah Nun tahun 1995 berjudul Terus Mencoba Budaya Tanding. Buku ini menghimpun 30 esai mengenai kontemplasi pemikiran kritis atas “fenomena kebudayaan aktual” pada periode 1980-1990-an. Salah satu gagasan tematik yang Mbah Nun sikapi dan mengundang polemik antara lain ihwal konsep sastra independen. Puncak dari perseteruan kritis antarseniman dan sastrawan ini dikatakan Sumasno memuncak dalam wacana sastra kontekstual. Kumpulan tulisan tersebut dikumpulkan Ariel Heryanto yang dibubuhi judul Perdebatan Sastra Kontekstual (1985).

Sikap aksiologis Mbah Nun mengenai sastra diuraikan Sumasno: “…sastra harus bebas dan mampu melepaskan diri dari ketergantungan terhadap sosial-politik. Inilah dasar dari konsep sastra independen Emha” (hlm. 164). Pijakan yang dikuatkan Mbah Nun lewat tulisan-tulisan kritisnya itu memadat pada 1984 menjadi wacana sastra pembebasan. Sebagai contoh, manakala Mbah Nun menyoal sastra (puisi), ia sekadar menempatkannya sebagai media atau metode perjuangan. Orientasi puisi, menurut Mbah Nun, lebih pada nilai esensial atau dimensi aksiologis.

Kerja Sumasno yang dimanifestasikan di dalam buku ini patut diberi tempat sebagaimana semestinya. Terutama di arena akademis yang mewajibkan acuan metodologis sebagai navigasi mayor guna mendapatkan kerangka ilmiah. Lintasan pemikiran Mbah Nun yang relatif panjang serta rumit itu disajikan Sumasno secara apik karena menggunakan bahasa yang renyah dan populer.

Terlepas dari penggunaan istilah teknis yang jamak digunakan Sumasno—apalagi tak didukung oleh glosarium mini sebagai bantuan untuk meneroka term partikular—buku ini relevan bagi sidang pembaca yang ingin menyelami ceruk pemikiran Mbah Nun secara kronologis. Seperti penutup yang ditulis Sumasno, “…humanisme lentur Emha relevan untuk dibicarakan, dengan cinta yang manusiawi” (hlm. 200), buku ini menawarkan kesemestaan nilai yang tak tepermanai.