Puasa Ibunda

Mukadimah MaSuISaNi Mei 2018

Puasa secara bahasa berarti menahan. Suatu momentum di mana ada sebuah pembelajaran dan pembiasaan bagi diri manusia untuk menjernihkan kembali dirinya dari keadaan yang sering “melampiaskan”, sehingga output-nya manusia mampu untuk mengendalikan. 

Mari kita mengambil jarak dari keramaian, mencari ketenangan dalam ramainya kesunyian. Silahkan bertanya pada dirikita sendiri, apa yang telah kita lakukan?Sudah benarkah apa yang kita patok sebagai tujuan? Sudahkah kita, sebagai wakil Tuhan bisa untuk mengelola apa saja yang telah Ia titipkan? Mari kita renungkan dan temukan jawaban, sebagai bekal dan evaluasi bagi diri kita sendiri tanpa harus orang lain kita kambinghitamkan. 

Puasa merupakan pekerjaan sehari-hari, di tengah zaman yang senantiasa berlandaskan untuk terus melampiaskan hasrat-hasrat syahwat yang tanpa kita sadari selalu kita tumpahkan. Bayangkan jika kita tidak memiliki kebiasaan “puasa”, tentu kita ingin memiliki apapun saja yang kita inginkan.

Tidak akan ada habisnya keinginan, jika kita tak mampu untuk menahan. Izinkan kami untuk mengartikan bahwa momentum puasa ini merupakan pembelajaran bagi manusia untuk dapat mengendalikan, kemudian saat kita telah mampu mengendalikan unsur keduniawian pada diri kita, tercapailah maqam kholifah. Maqam di mana manusia mampu mengorientasikan dunia kepada akhirat. Artinya, segala tindak tanduk perilakunya bukan untuk memperoleh kepuasan, melainkan keridloan Tuhan. 

Karena dalam penciptaannya, kita manusia dan iblis diberi sedikit kewenangan untuk “berdemokrasi” atas apa yang hendak kita lakukan. Sedangkan malaikat, tumbuhan, hewan dan benda-benda yang Tuhan ciptakan tidak di berihak “demokrasi” itu. Mereka semua tunduk dan patuh atas apa yang diperintahkan oleh Tuhan. 

Teringat sebuah pesan, “manusia bisa menjadi baik melebihi malaikat, dan dapat menjadi buruk melebihi iblis”. Mengapa demikian? Karena menurut saya manusia itu sendiri kalau dalam ruang lingkup “ijtihad” orang Jawa (kejawen) terdapat istilah sedulur papat limo pancer, dalam pemaknaannya dapat diartikan bahwa manusia dibekali teman untuk menghadapi kehidupan di dunia, 2 malaikat dan 2 setan. Dan pancernya adalah diri kita sendiri (ingsun) di mana terletak singgasana bagi Tuhan atas diri manusia itu sendiri yaitu nurani. Nurani inilah yang merupakan software penguhubung diri kita sebagai manusia (ingsun) dengan tuan rumah kehidupan yakni Tuhan. Sehingga, manusia berkesempatan untuk bisa melakukan perjumpaan dengan Tuhan atau dalam istilah kejawennya sering disebut manunggaling kawulo lan Gusti. 

Maka, langkah awal untuk dapat berjumpa ataupun menyatu dengan Tuhan, manusia dibimbing dan diajarkan untuk bisa mengendalikan dirinya sendiri, dibantu dengan sang katalisator kehidupan dan kakak tertua kita, yaitu iblis. 

Hanya saja, puasa zaman now sedikit berbeda orientasinya dengan puasa zaman old. Zaman dahulu, melakukan puasa kebanyakan untuk mencari sangkan paran ing dumadi manusia itu sendiri, sedangkan zaman sekarang ini kita puasa jika kita tidak mempunyai uang untuk melampiaskan dan menumpahkan keinginan. Jadi, puasa tidak hanya pada momentum tertentu seperti pada saat bulan Ramadlan saja. Namun, puasa merupakan kegiatan yang seharusnya setiap saat kita amalkan dalam dimensi yang berbeda. 

Maksudnya, dalam keseharian dan kebiasaan kita yang dikepung dan dihegemoni oleh pandangan pelampiasaan nafsu dan menumpahkan seluruh orientasi hidup hanya untuk suatu yang semu, kita dapat menerapkan nilai-nilai puasa ini untuk menahan dan mengambil jarak dari kemewahan dunia yang tersaji di hadapan kita. 

Kita mampu mengelola dan memilah ke mana orientasi kita dalam mengelola apa yang kita punya, apakah pemenuhan nafsu atau mengakhiratkan dunia? Berdaulatlah pada dirimu sendiri, mari kita hitung dan renungkan kemana kita akan pergi? Semoga kita mampu mendengarkan suara yang sejati. Amin yaa robbal ‘alamin… 

Ibunda merupakan kata aplikatif dari seorang perempuan yang telah memiliki keturunan. Sedangkan, kata perempuan itu sendiri berasal dari kata empu yang ditambahi dengan awalan ‘per’ dan imbuhan akhiran ‘an’. Jadi, ibunda adalah perilaku kewelasasihan bagi anak turunan di mana ia memiliki kasih sayang dan daya pengasuhan yang melekat pada diri seorang perempuan. 

Pertanyaannya, apakah hanya perempuan saja yang memiliki daya asuh itu? Tampaknya tidak. Karena, setiap manusia memiliki kecenderungan sifat yakni maskulin dan feminim. Pada dasarnya, sebagian besar laki-laki memiliki kecenderungan sifat maskulin yang tinggi dari pada sifat feminim. Maka, yang tampak adalah laki-laki haruslah terlihat gagah, keras dan tegas.

Sedangkan pada diri perempuan sebaliknya, sifat feminimnya yang dominan sehingga menampakkan perempuan terlihat anggun, penyayang dan memiliki perasan yang sensitif. Tapi, tidak usah kita perdebatkan antara laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. 

Puasa ibunda bisa dimaknai proses penjernihan diri, mengambil jarak dari segala hal keduniawian yang tersaji, kemudian mengendalikan diri sesuai dengan bimbingan Ilahi. Sehingga memunculkan cinta dan kasih sayang yang ada di dalam diri, untuk dipancarkan dan dipantulkan lagi oleh orang-orang di sekitarnya. (Hari)

Puasa secara bahasa berarti menahan. Suatu momentum di mana ada sebuah pembelajaran dan pembiasaan bagi diri manusia untuk menjernihkan kembali dirinya dari keadaan yang sering “melampiaskan”, sehingga output-nya manusia mampu untuk mengendalikan.  Mari kita mengambil jarak dari keramaian, mencari…