Puasa Bukan Kehebatan

Hampir setiap yang menjalankan puasa menyangka bahwa menahan diri dari konsumsi kuliner dari Subuh hingga Maghrib itu keberhasilan, prestasi, kehebatan atau semacam jasa. Padahal Shiyamu Ramadlan itu sama dengan hidung bernafas, menghisap dan menghembuskan udara. Sama dengan darah mengalir, jantung bergerak, atau urat-urat saraf bergetar. Hanya saja level, kelas dan kualitasnya lebih tinggi dibanding hukum alam biologi jasad manusia.

Hampir setiap yang menjalankan puasa menyangka bahwa menahan diri dari konsumsi kuliner dari Subuh hingga Maghrib itu keberhasilan, prestasi, kehebatan atau semacam jasa. Padahal Shiyamu Ramadlan itu sama dengan hidung bernafas, menghisap dan menghembuskan udara. Sama dengan darah mengalir, jantung…