PSHT Johor Bahru Malaysia Undang Mbah Nun

Catatan Sinau Bareng PSHT Johor Bahru Malaysia, 1 Mei 2018

Semalam Mbah Nun mohon izin tak bisa hadir di Padhangmbulan karena sudah berada di Johor Malaysia. Teman-teman organisasi silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Johor Bahru Malaysia mengundang Mbah Nun untuk Sinau Bareng pada Selasa 1 Mei 2018 siang ini.

Melalui Singapura, siang kemarin Senin 30 April 2018, Mbah Nun tiba di Johor.  Di Bandara Changi Singapura, pesawat tiba 20 menit lebih awal. Di sini rekan kita Gandhie dan Mas Reiza yang berangkat dari Kuala Lumpur berkendaraan darat (sejauh 300 km dan hanya butuh waktu 2 jam) sudah standby menunggu kedatangan Mbah Nun yang ditemani Mas Jamal.

Singapura-Johor hanya 30 km tapi harus ditempuh 2 jam karena mobil harus antre di 2 pos imigrasi: Woodland Checkpoint Singapura dan Imigrasi Bangunan Iskandar Johor.

Tiba di Johor langsung ke hotel yang mandiri cari sendiri agar tidak merepotkan panitia. Hotel Puteri Pacific Johor Bahru. Sambil menunggu room siap, makan siang di warung kaki lima prasmanan di depan hotel dengan menu masakan Melayu yang mirip masakan Minang.

Usai makan siang, kembali ke hotel, dan teman-teman panitia datang untuk berbincang-bincang sebentar menyambut Mbah Nun dan mengutarakan alasan mereka mengapa mengundang Mbah Nun.

Pertama, karena di mata mereka Mbah Nun bisa diterima semua golongan karena PSHT ini anggotanya lintas etnis (seluruh Indonesia) dan agama. Kedua, mereka ingin belajar bagaimana menjadi manusia. Ini sejalan dengan falsafah PSHT yang mendidik menjadi manusia berbudi pekerti luhur, tahu benar tahu salah, dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Bagi mereka, belajar menjadi manusia itu saja dulu sebelum melangkah ke yang lain-lain.

Jeda sore hingga magrib dimanfaatkan untuk istirahat. Kemudian, pukul 20.00 malam dijemput panitia untuk makan malam di restoran milik orang Indonesia yang menetap dan menjadi WN Malaysia di Johor Bahru. Juga bersama Pak Moerdjoko dari PSHT pusat di Madiun yang juga diundang oleh mereka.

Usai makan malam bertolak ke basecamp teman-teman PSHT di Kampung Melayu Majidi. Di sini obrolan yang berlangsung adalah brainstorming untuk acara siang nanti (hari ini). Mbah Nun tetap mengutamakan bahwa acara siang nanti intinya berangkat dari pertanyaan kebutuhan para hadirin. Tidak mengutamakan penyampaian materi terlebih dulu dari Mbah Nun.

Di basecamp semalam itu, Mbah Nun juga merespons apa yang disampaikan Pak Moerdjoko mengenai Indonesia yang sedang dijajah tidak secara fisik, tapi cara berpikir, sehingga tidak perlu dipecah belah sebab akan pecah dengan sendirinya. Karena itu, sudah pas PSHT belajar menjadi manusia dulu sebelum lebih jauh dan detail belajar apa yang disebut sebagai beragama.

Kepada Pak Moerdjoko dan teman-teman PSHT, Mbah Nun mengemukakan adanya kesamaan dan keselarasan PSHT dengan Maiyah, yakni paseduluran. Terlebih PSHT yang kepanjangannya adalah Persaudaraan Setia Hati Terate. Mbah Nun sangat memperhatikan mengapa kok dinamai Setia Hati. Menurut Mbah Nun, PSHT sudah benar karena banyak orang hari ini tidak membangun kesetiaan. Adapun teratai yang merupakan lambang PSHT adalah tumbuhan yang mengambang di air dengan ringan. Maka PSHT harus menegaskan bahwa hidupnya hendaknya meringankan lingkungan sekitar, dan tidak malah memberatkan.

Pukul 23.00, Mbah Nun dan teman-teman kembali hotel untuk istirahat.

Oh ya, di Kota Johor masih terdapat bangunan-bangunan lama. Kota yang pusatnya sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi tertata dengan cukup baik: jalan, trotoar, dan penerangannya. Kota perbatasan dengan Singapura yang disambungkan oleh jembatan sebagai batas negara. (jj/hm)