Prasmanan Ilmu untuk Generasi Pribumi Digital

Reportase Sinau Bareng CNKK di Dusun Santren, Muntilan, 7 September 2018

Takkan Terganti Oleh Mesin

Berbagai macam hal, peristiwa, suasana dan nuansa dalam Sinau Bareng kali ini (dan Maiyah di berbagai tempat) memang memancing imajinasi saya sering melayang ke mana-mana. Akibatnya, ketika harus menuliskan reportase juga agak berkepanjangan. Untuk itu saya perlu minta maaf pada pembaca yang budiman.

Tema acara yang digagas, seperti sudah saya sebutkan pada reportase singkat sebelum ini adalah “Kreatif Atau Lapar”. Tema yang menantang dan menyenangkan. Beda lapar dan kelaparan, tentu kita semua sudah tahu. Itu juga kembali ditegaskan oleh Mbah Nun bahwa pada zaman ini kreativitas sangat perlu, bahkan mau tidak mau kudu kreatif.

Baru saja seminggu lalu, di forum TED ada bahasan soal artificial intelligence oleh Kai-Fu Lee. Dalam prsentasinya dia sebutkan bahwa tak lama lagi, pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis akan segera tergantikan oleh mesin. Bahkan teknis berjalannya kebijakan negara (kalau keputusan belum, tapi melihat kita semakin teknis dalam penataan, ada juga dugaan ke sana) bisa saja pada nantinya diambil perannya oleh mesin. Apalagi kita tahu bentuk negara sudah mulai tidak dianggap relevan sekarang ini. Tinggallah pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, ide dan yang melibatkan emosi perasaan. Seniman, saintis dan CEO disebutnya berada pada tingkat teraman.

Atau, kemudian kita bisa melibatkan emosi dalam setiap apa yang kita kerjakan. Mengelaborasi berbagai hal dan meningkatkan kapasitas belajar. Bahasan di TED sana, sedang dielaborasi dengan artikulasi budaya yang agak berbeda di Sinau Bareng di Ds Santren ini. Dalam hal ini, kita juga bisa bilang Sinau Bareng punya peran pemerataan pengetahuan. Sebab selama ini pengetahuan banyak yang bersifat eksklusif. Terbukanya jalur informasi seperti internet belum menemukan urgensi apa-apa manakala manusia-manusianya tidak punya semangat pencarian dan kreativitas sudut pandang.

Sinau Bareng tidak bisa tergantikan mesin, karena ada dialog dan kemesraan di dalamnya. Ada emosi dalam elaborasi-elaborasi materinya. Bukan sekadar transfer ilmu. Bahkan belajar kitab apapun saja sekarang bisa lewat internet kalau urusannya adalah transfer ilmu. Namun di Sinau Bareng, lihatlah manakala menjelang berakhirnya acara, Mbah Nun karena keesokan hari sejak subuh sudah mesti melenting ke daerah lain, maka para jamaah dan hadirin berbesar hati.

Berbesar hati ini, saya artikan begitu, ketika sesi tanya jawab semua pertanyaan diajukan cepat, efektif dan efisien. Mbah Nun juga menjawab dengan singkat, sesuai takaran kesadaran para penanya, cespleng. Bahasan dari tato, cara memilih pilihan hidup, mendengarkan batin, mimpi ketemu Mbah Nun dan sejenisnya. Ada kebesaran dan keluasan jiwa dan jelas itu tidak bisa digantikan oleh mesin. Karena yang seperti ini sifatnya lebih dekat pada proses penciptaan Tangan Pertama Tuhan.