Prasmanan Ilmu untuk Generasi Pribumi Digital

Reportase Sinau Bareng CNKK di Dusun Santren, Muntilan, 7 September 2018

Bukaan Zaman Baru, Tiada Pertarungan Ideologi Pada Wong Cilik

Zaman memang tengah mengalami perubahan radikal dan sudah konsekuensi logisnya bahwa akan ada beberapa hal yang akan layu. Yang layu jangan diabaikan jangan dihinakan, biar dengan sendirinya menjadi kompos penyubur tetumbuhan baru yang segar. Generasi muda Ds Santren ini, adalah percampuran santri-santri NU dan Muhammadiyah. Kita tahu dua ormas keagamaan ini, sifatnya saling melengkapi, dua ormas ini dulu juga bediri pada era kolonial kan?

Tapi generasi mudanya jelas lahir pada era yang jauh berbeda. Saya sempat iseng melihat-lihat pedagang-pedagang yang meramaikan sekitar. Semarak rasanya. Seorang pedagang sedang berorasi sendiri di tengah beberapa (calon?) pembeli, dia cerita bahwa kemarin waktu Maiyahan di Lamongan beliau berangkat, pun sekarang juga sudah di sini. Entah sebenarnya sedang bahas apa.

Lainnya, ada penyewaan Odong-odong (?!) dan ada penjual atribut-atribut majelis-majelis shalawatan. Saya baru tahu, ada gantungan kunci kulit imitasi yang bergambar wajah Mbah Nun. Gantungan kunci lain saya lihat bergambar wajah-wajah yang cukup familiar seperti Habib Mundzir al Musawwa, Habib Syekh, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Saya berhenti cukup lama di lapak ini, mencoba cari gantungan kunci bergambar wajah Mbah Ahmad Dahlan, maunya untuk oleh-oleh pada mertua saya yang sejak mudanya hingga sekarang adalah pegiat Muhammadiyah. Sayangnya, saya tidak dapat. Atau memang tidak ada? Entah.

Saya teringat bapak mertua saya dan bapak saya sendiri, ketika Mbah Nun mengajak pada bahasan presisi dan proporsional dalam memandang. Sampel yang diutarakan oleh Mbah Nun misal, apakah syair-syair shalawatan Imam Busyiri adalah ciptaan NU? Kan jelas bukan karena usianya jauh lebih dulu. Begitupun tradisi tahlilan dan beberapa jenis lainnya. Namun ada kecendrungan sekarang beberapa hal ini dianggap milik golongan tertentu.

Kenapa hal ini membuat saya teringat mertua saya? Karena mertua saya seorang sesepuh Muhammadiyah di desa, namun juga seorang kaum yang tugasnya mimpin kenduren, tahlilan, yasinan dan sejenisnya. Kalau mau lebih ekstrem, saat saya mudik kemarin, saya dapati bapak saya malah sedang giat gabung sama khatib-khatib eks HTI di Sulawesi. Namun rupanya di sana, justru mereka sangat kultural, lebih sering shalawatan bahkan pada acara-acara yasinan, ma’barasanji (istilah orang kami, sepertinya diambil dari “Barzanji”) dan acara lain yang jadi rujukan justru mereka yang seringnya dilekatkan sebagai kaum garis keras anti budaya lokal.

Dulu, yang sangat tidak merestui suara bedug adalah Mbah Hasyim, dan yang sangat menyenangi suara bedug justru Mbah Ahmad Dahlan. Mbah Nun sempat menyampaikan ini. Kalau kita mau baca sejarahnya memang, dulu justru yang agak eksklusif dan kurang ramah budaya malah kaum tarekat. Itu mungkin agak berkebalikan dari yang kita mengerti sekarang. Wajar karena zaman pasti berganti dan kesadaran pun begitu.

Artinya bisa dilihat juga dan merunut kembali ke soal pola pikir manusia Nusantara. Sebenarnya tidak begitu ada pertarungan ideologi yang terjadi di kalangan bawah, apalagi yang jauh dari pusatnya (sementara ini) di pulau Jawa. Manusia kita senang srawung dengan manusia lain, tanpa melihat embel-embel latar belakangngnya. Peta diskursus menjadi seolah adalah peta perang ideologi hanya pada elit agamawan dan intelektual.