Prasmanan Ilmu untuk Generasi Pribumi Digital

Reportase Sinau Bareng CNKK di Dusun Santren, Muntilan, 7 September 2018

Tentu bahasan dalam Sinau Bareng selalu meluas dan mendalam. Walau juga sering ada bahasan yang menjadi kloso sebagai pijakan konteksnya. Kalau kembali pada carap kerja otak generasi pribumi digital, memang cara belajar yang prasmanan seperti ini mereka lebih senangi. Dan kalau ditanya kenapa generasi muda kita paling duluan dan selalu berada pada 10 besar top gamers online (sejak era DOTA, atau mungkin sebelumnya)?

Jawaban sederhananya mungkin, karena aslinya manusia Nusantara juga terbiasa berpikir seperti ini. Berpikir dengan pola yang tidak bangunan dingin beku logika akademis. Manusia Nusantara ini terbiasa mencercapi sensasi indra secara berbarengan dan sangat beragam. Warna dedaunan, aroma laut, tanah basah atau lembab seperti di lokasi Sinau Bareng malam ini, gemericik air, ada kali di sekitar desa ini (ada daerah yang namanya Ds Sabrang dekat sini), angin yang ain di lautan atau bahkan kadang membadai beku di pegunungan.

Sama juga seperti Al-Qur`an yang bahasannya tampak meloncat-loncat satu ayat ke ayat lain. Jadi, Nusantara dididik oleh alam, Islam dididik oleh premis utama kesadaran keilmuan. Ndilalah, dua hal tumbu ketemu tutup seperti itu bertemu di era sekarang. Ketika orang coba mengideologiskan Islam dan Nusantara dengan dikawinkan istilahnya, jelas itu tidak terterima. Ideologisasi justru seringkali mengkhianati esensinya.

Cukup Al-Qur`an, Selainnya Sekadar Tambahan Data dan Novel-Novel Picisan

Dalam prasmanan keilmuan, kadang kita juga tidak bisa menebak mana yang akan diserap oleh generasi ini sebagai ilmu yang akan mereka cari, dan mana yang akan mereka abaikan. Mbah Nun sempat bercerita santai misalnya mengenai bahwa seumur-umur, buku karya manusia yang Mbah Nun serius membacanya hanya tiga. Yakni Nogo Sosro Sabuk Inten, beberapa jilid Kho Ping Hoo dan Winnetou atau paling tambahan beberapa novel-novel picisan.

Pada era dulu, memang banyak sekali novel-novel ringan yang beredar. Beberapa mungkin sudah terlupakan (S Mara GD., Mira W., Pandir Kelana, Abdullah Harahap, Motinggo Boesje dll masih pada ingat?). Kadang kita cenderung mau mengingat bacaan-bacaan yang bombastis dan hingar-bingar perlawanan, padahal semangat zaman biasanya justru dibentuk oleh yang ringan-ringan semacam ini.

Ini konteksnya Mbah Nun sedang menyampaikan bahwa, selama ini yang beliau jadikan rujukan hanya Al-Qur`an dan bermodal i’tiqad baik belajar serta kewaspadaan taqwa. Tapi ketika tiga jenis buku ini disebut oleh Mbah Nun, saya perhatikan kok beberapa pemuda tampak tertarik, beberapa kepala tegak dari layar hape, mata menyimak dan merekam.

Kita tidak tahu pencarian apa kemudian yang akan mereka lakukan, tapi mereka pasti mencari sesuatu. Saya yakin dan percaya sekali, sebab mata mereka adalah mata pendekar yang sedang siap menjejakkan kaki ke tanah dan meloncat untuk melenting-lenting di antara pucuk-pucuk pencarian di rimba persilatan digital.

“Saya tidak bisa tidak optimis, karena di berbagai tempat saya ketemu anak-anak muda yang seperti ini”. Tentu maksudnya Mbah Nun bukan pemuda yang main Mobile Legend sepanjang hari kan? Atau, pemuda-pemuda ini juga? Yang pasti memang, acara ini diprakarsai oleh pemuda-pemuda Ds Santren sendiri. Generasi muda yang menjembarkan jiwanya untuk belajar dari sesepuhnya namun punya keluasan sendiri dan maqom-maqom pencarian sendiri.