Prasmanan Ilmu untuk Generasi Pribumi Digital

Reportase Sinau Bareng CNKK di Dusun Santren, Muntilan, 7 September 2018

Main Mobile Legend di Sinau Bareng

Konon, generasi pribumi digital ini yang kita kenal dengan sebutan generasi zaman now, agak sulit untuk menerapkan (diterapkan) cara-cara pembelajaran yang umumnya dipraktekkan oleh generasi-generasi imigran digital. Otak mereka tumbuh dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Penyajian keilmuan dan cara belajar yang mesti duduk konsentrasi mendengar menjadi mustami’ apalagi dengan bahasan per fakultatif akan sulit mereka terima.

Otak mereka tumbuh dengan cara yang kita tidak duga-duga. Generasi pribumi digital cenderung memilih cara-cara belajar dengan memilih prasmanan dan mengambil sudut pandang terhadap bahan pelajaran dari sisi efisiensi dan urgensi mereka sendiri. Baiknya kita kesampingkan dulu penilaian bahwa apakah ini baik atau buruk, setiap zaman punya tantangan sendiri-sendiri.

Saya menyadari dan teringat bahasan imigran dan pribumi digital ini, lagi-lagi tatkala berada pada gelaran Sinau Bareng. Kali ini di Ds Santren, Muntilan. Saya coba jalan-jalan melihat lokasi sekitar Sinau Bareng ini, beberapa kali di beberapa sudut saya dapati gerombolan pemuda terpekur pada layar hape dengan wajah yang terlihat tegang. Eh ternyata sedang main Mobile Legend (ML).

Game online yang sedang populer itu, saya tidak main jadi kurang mengerti dinamika di dalamnya. Satu kali cukup menarik bagi saya, ketika memperhatikan bocah-bocah ini konsen bermain (nge-WAR?). Memang acapkali kita dapati orang bermain ML sambil mulutnya komat-kamit mengomando teman satu timnya kan? Namun saat melihat bocah-bocah di bagian sudut yang agak gelap, saya dapati mulut mereka justru komat-kamit mengomentari bahasan-bahasan elaborasi di panggung yang sedang dibabar oleh Mbah Nun.

Seperti Mbah Nun sedang membahas apa mereka komentari, tapi juga sambil wajahnya ke layar hape. Kadang komentar juga tercampur. Itu formulanya kalau saya coba rekonstruksi dalam ingatan menjadi: Mbah Nun membabar bahasan, mereka “Ha njih leres, leres niku Mbah! Top!”. Bahasan masih berlanjut, mereka “Maju, majuuu… Wooii”. Sesekali terdengar suara khas “Your enemy has been destroyed”. Volumenya sepertinya mereka minimkan supaya tidak terlalu menarik perhatian.

Ada benarnya juga kata Marc Prensky yang mencetuskan istilah ini (Native and Immigrant Digital), bahwa generasi pribumi digital ini jauh dari bodoh. Mereka adalah generasi yang bisa menghapal dengan tepat dan presisi nama-nama Pokemon beserta jalur nasab, kekuatan, serta kelemahannya.

Ada berapa nama monster dalam Pokemon? Sebanyak tokoh dalam pewayangan? Mereka generasi yang cara komunikasinya misalnya, mereka dalam sekejap bisa memutuskan mau memakai emoticon apa untuk menggambarkan pola emosi seperti apa, dan sudah tau di mana letak emoticon itu pada list-nya (dan bisa saja tidak benar-benar merasa seperti emot itu).

Artinya, ini generasi yang bisa belajar apa saja, berapa banyak saja data asal caranya tepat. Tentu ada kelemahannya. Kecenderungan untuk meremehkan pengetahuan yang mereka anggap tidak mereka butuhkan, stamina yang semakin kurang dalam konsentrasi, dan berbagai hal. Setiap generasi punya kelebihan dan kekurangan. Tugas sesepuh adalah menemukan presisi yang pas setiap zaman.

Mungkin karena itu Mbah Nun juga sempat mengutarkan bahwa dibutuhkan adanya Dewan Sesepuh di wilayah-wilayah setingkat desa, semacam MPR kecil-kecilan. Karena selama ini generasi-generasi lahir, tumbuh dan berkembang tanpa bimbingan. Bahkan negara. Mbah Nun sejak mula acara mengajak hadirin untuk berpikir proporsional dan presisi.