Politik Kecil-kecilan Ala Kita

Menyorong Rembulan, Menturo, Jombang. Hari kedua, puncak acara. Mas Helmi dari Progress berdialog dengan dr. Eddot. Ini berkenaan dengan cara kesehatan Mbah Nun. Kalau tidak salah peristiwa ini sudah saya potret dalam sebuah reportase. Jadi mungkin di sini tidak akan mendetail soal kejadian. Saya ingin menggarisbawahi sebuah kalimat yang diucapkan oleh Mas Helmi, yang beliau riwayatkan dari Mbah Nun, kalimat singkat berbunyi “Politik kecil-kecilan”. Atau lengkapnya begini kata Mbah Nun pada Mas Helmi, “Orang sekarang kok tidak punya kemampuan untuk politik kecil-kecilan.”

Penangkapan saya pada kalimat ini mungkin sangat keluar dari konteks aslinya, namun antusiasme muncul juga. Rasanya seperti menemukan kalimat yang kesadarannya sudah ada di otak tapi lidah belum bisa menyusun bahasa. Ini kalimat yang saya cari ketika melihat terlalu banyak perebatan dan perseteruan. Lihat di wall medsos antara mereka yang pro-khilafah dengan anti-khilafah, antara yang kubu pro capres ini maupun pro capres situ, antara yang pro sunnah maupun yang pro bidengah dan lain sejenisnya. Tentu juga ada kubu yang mengajak untuk memasabodohkan semua itu, tapi itu juga kubu sendiri. Melihat semua itu dan terngiang “Orang kok ndak punya kemampuan politik kecil-kecilan sih” buat saya pribadi terjelaskan semuanya, kenapa orang berdebat, bertengkar, bersikukuh, saling jegal, saling siasat menjatuhkan dan lain sebagainya.

Katakanlah begini. Banyak sekali bentuk pertikaian yang kita lihat terutama di media sosial, berasal dari kecemasan terhadap hal-hal yang dianggap besar. Lantas orang berupaya tampil juga besar, lebih besar dan terus besar. Untuk menghadang Islam yang dianggap garis keras, maka bentuk, serukan, sebarkan, populerkan Islam yang dianggap Nusantarais. Kita sedang tergila-gila dengan kebesaran, dan dalam seni akting, gerak tubuh besar atau istilahnya proyeksi adalah semakin jauh dari realis. Proyeksi dibutuhkan di panggung agar emosi tersampaikan, tapi terlampau membesarkan gerak akan menjadi surrealis. Nah, hidup di negeri ini sedang sangat surreal sekarang ini.

Dengan imajinasi “politik kecil-kecilan” ini, saya jadi bisa membayangkan, kalau tiba-tiba negeri ini dikuasai oleh rezim yang tidak menghendaki dan melarang ziarah kubur. Cemas? Ndak dong, nakal saja sedikit. Cari celah bandelin regulasinya, kalau semua makam orang keramat diratakan dengan tanah? Ya bikin saja makam sendiri. Terdengar simplistic, tapi daripada bercemas-cemas ria, khawatir dan memerangi sesuatu yang entah apa juga kita tidak begitu paham, memilih merdeka rasanya lebih masuk akal. Merdeka dengan politik kecil-kecilan itu. Saya sempat agak salah dengar kalimat itu menjadi “pecicilan dalam hidup” nampaknya tidak begitu salah juga.

Mungkin secara psikologi sosialnya, kita perlu paham bahwa hasrat untuk “membesar” ini adalah reaksi setelah bertahun-tahun kita diyakinkan bahwa kita adalah manusia yang kerdil, kecil, teralienasi, subaltern, dan tak berharga. Kita lupa bahwa pihak yang meyakini(kan) seperti itu, punya ukuran sendiri mengenai apa itu kebesaran dan kemegahan. Sayangnya, seperti juga di mana-mana bangsa yang terlanjur lama meyakini kekerdilannya, lantas kita berupaya “membesar” sebagaimana ukuran besarnya pihak yang sejak dari pertama kali mengutarakan hal itu.

Karaeng Pattinggaloang di Kerajaan Gowa-Tallo (Makasssar) adalah Patih kerajaan yang sangat update soal sains dan ilmu pengetahuan Eropa. Hampir semua salinan karya ilmiah, beliau punya. Begitupun peta-peta dunia karya pelaut-pelaut. Suatu ketika Karaeng Pattinggaloang menyadari bahwa semua peta yang dibuat oleh orang Eropa, sentral dunianya selalu Eropa. Maka Karaeng Pattinggaloang membuat peta sendiri di mana sentral dunianya adalah Pulau Sulawesi!

Di satu sisi kita bisa bilang ini perlawanan budaya. Namun kalau kita buka lapisannya lagi maka bisa begini: Sejak kapan pelaut Bugis-Makassar butuh peta seperti petanya orang Eropa itu? Maka di dalam perlawanan ini, sudah ada narasi kalahnya juga. Karaeng Pattinggaloang ini pada masanya nanti adalah alasan utama mengapa Syekh Yusuf Al-Makassari menolak untuk menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahirannya.

Kita sedang seperti itu sekarang ini. Kita berhasrat tampil di hadapan budaya yang mendominasi pikiran hingga alam bawah sadar kita. Dalam hal ini kita sedang membuat peta di mana kita sentralnya, tapi dengan teknik pemetaan yang sudah kadung dibuat ukuran dan skalanya oleh budaya dominan. Kita sedang pengin betul aktor lokal kita tampil di Hollywood. Sedang ingin tampil membicarakan perdamian di konferensi internasional walaupun semua yang hadir di konferensi itu rasanya sudah tahu bahwa perdamaian itu penting. Sedang ingin betul punya kemegahan seperti kemegahan sana. Selalu ingin go international mengharumkan nama bangsa dan segala blablabla lainnya.

Kita merespons dan merespons ukuran. Kita berusaha agar Islam bisa digathukkan dengan term-term modern dari pluralism, liberalisme dan lainnya. Kita belum melangkah pada kebanggaan ukuran kita yang terlanjur dianggap “kecil”.

Dalam sebuah acara di PP Muhammadiyah, Mbah Nun sempat berkata: “Kita tidak sedang merespons atau menjawab stigma politik!”. Bagi saya, ini adalah revolusi kecil-kecilan. Tapi jangan-jangan kecilnya kita, justru adalah kebesaran yang belum mampu dilihat oleh dominasi mata pandang dunia. Ya siapa tahu sih begitu.