Pikiranmu Harus Inovatif, Budayamu Harus Kaya

Catatan Sinau Bareng CNKK dalam rangka Dies Natalis ke-30 PENS, 20 Juli 2018

Indah. Begitulah kiranya yang menggambarkan sinau bareng di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya malam itu. Baik keindahan yang bisa ditangkap oleh mata lahir, maupun mata batin. Ya, paling tidak, ini indah versi saya.

Keindahan yang Berlandaskan Kebenaran

Masih sore, tapi tidak sedikit pemuda yang sudah wira-wiri di sekitar Lapangan Merah, lokasi sinau bareng malam itu. Ada yang mengenakan peci khas Maiyah, ada pula wajah-wajah mahasiswa PENS itu sendiri. Para mahasiswa kampus yang tengah mensyukuri tiga puluh tahun usia kampusnya itu tampak sangat antusias. “Mahasiswa sini itu kebanyakan kayak yang Islam syar’i gitu, Mbak. Makanya pada suka kalau ada acara kayak gini.” Tutur Mbak Novi, mahasiswi PENS asal Nganjuk yang duduk di sebelah kanan saya itu. Terjawab sudah penasaran saya. Ternyata tidak ada embel-embel kewajiban yang menggerakkan para mahasiswa itu berbondong-bondong hadir ke sini. Indah, bukan? Dengan suka rela mereka mau melakukan sesuatu yang sama sekali bukan kewajiban mereka.

Keindahan malam itu masih belum berhenti di situ saja. Di sela-sela jamaah yang duduk saling merapat, bapak-bapak penjual jajanan menjajakan dagangannya dengan sangat sopannya. Ada yang mak nyes langsung mengena dan nancap di memori saya. Saat ada adegan uang salah seorang bapak penjual tahu sumedang jatuh. Para jamaah saling sambung-menyambung menyalurkan uang tadi ke bapak penjual yang sudah jauh berada di depan. Eh, malah sama si bapak disodorin tahu sumedang lagi, dikiranya uang tadi uang pembeli yang menginginkan tahu sumedangnya. Nyenengke.

Masih belum bosan saya membicarakan keindahan malam itu. Dua mbak-mbak yang duduk di samping saya ini awalnya tidak tahan dengan asap rokok. Tampak sangat tidak tenang duduk kedua mbak-mbak ini. Usrek. “Sama saja, Mbak.” Jawab mbak sebelah saya, saat saya tawarkan pindah duduk di tempat saya, yang setidaknya sedikit lebih jauh dari mas perokok. Kasihan sebenarnya sama mbak tadi. Saya takut kalau mbak ini langsung jera untuk ikut Maiyahan lagi gara-gara hal semacam ini. Mengingat ini adalah kali pertama mbak Mahasiswi tingkat pertama di PENS itu ikut Maiyahan. Eh tak tahunya, tidak lama setelah itu mbak tadi sudah anteng saja. Seolah sudah tidak ingat lagi dengan yang namanya asap rokok. Entah mbak tadi lupa, atau memang sudah terslimurkan dengan indahnya suasana.

Keindahan juga terpancarkan dari atmosfer kerinduan yang sedikit terbayarkan di malam itu. Mbah Nun dan Bapak Muhammad Nuh, mantan rektor ITS dan Mendiknas, malam itu saling melepas rindu. Mbah Nun mengaku tidak menyangka akan bertemu dan dipersatukan dengan Pak Nuh di panggung itu. “Sudah 10 tahunan, Pak Nuh ini tidak bersinggungan langsung karo arek-arek (Maiyah).” Kurang lebih begitulah yang disampaikan Mbah Nun di malam yang diselimuti atmosfer cinta kasih buah dari rindu yang terus menderu itu.

Mbah Nun mengaku sangat bersyukur malam itu Pak Nuh bisa turut hadir di tengah-tengah jamaah. Menurut Mbah Nun, “Budaya Inovasi dan Inovasi Budaya”, tema yang diangkat malam itu sangat sesuai dengan Pak Nuh. Dan dengan sangat rendah hati, Mbah Nun pun meminta Pak Nuh untuk bersedia turut membeberkan perihal tema malam itu kepada jamaah.

Semesta seolah berkonspirasi. Pemandangan malam itu seolah mengamini dan mendukung apa yang akan disampaikan Mbah Nun dan Pak Nuh. Benar, baik, dan indah. Keindahan-keindahan malam itu bukan sekadar indah yang tak berdasar. Melainkan keindahan pancaran dari kebaikan yang berlandaskan pada kebenaran. Ya, nilai-nilai kebenaran yang dipegang teguh, dan diolah sedemikian luwesnya sehingga muncul menjadi keindahan-keindahan yang menenangkan jiwa.

Pak Nuh menyayangkan sikap kebanyakan dari kita yang hari ini terlalu sibuk berkutat pada kebenaran saja. Kita terlalu mengandalkan logika, hingga seringkali abai akan baik dan indahnya. Padahal, masih menurut Pak Nuh, untuk tidak menjadi manusia sepertiga seperti yang seringkali disinggung Mbah Nun atau kalau meminjam bahasanya Pak Nuh adalah manusia departemental, kita perlu menata pola pikir kita terkait benar, baik, dan indah itu sendiri.

“Pilih yang pinter apa jujur?” Pak Nuh mencoba menyentil jamaah dengan pertanyaan yang sedikit mengecohkan itu. “Yang jujur.” Nyletuk jawaban itu yang entah dari arah mana datangnya. “Lek jujur pol, tapi goblok gampang diapusi.” Kalau ia jujur tingkat maksimum, tapi kurang pintar, ia akan mudah dibohongi.

Masih dengan konteks yang sama, Pak Nuh kembali memberikan umpan contoh lagi. Kalau memilih jodoh, misalnya. “Milih bojo, uayu opo pinter?” Milih yang sangat cantik, apa yang pinter? Kalau milih yang cantik, tapi buta huruf? Nggak pas juga, kan? Jadi kita tidak bisa memisah-misahkan itu semua, kita tidak bisa mengkotak-kotakkan itu semua. Karena semua harus berada dalam satu kesatuan yang utuh. Dalam melihat segala sesuatu, kita harus belajar melihatnya secara menyeluruh.

Berinovasi, Tanda Kalau Hidup

Benar-benar tidak rugi bisa diperjalankan hadir di sinau bareng malam itu. Meskipun waktu yang diberikan lebih singkat dari acara sinau bareng yang sudah-sudah, tapi malam itu berasa sangat dapat quality time-nya. Waktu yang terbatas hanya sampai jam sebelas malam itu pun terasa sangat berkualitas. Banyak materi yang diberikan, kebersamaan sangat terasa, keindahannya sangat mengasyikkan, dan pertanyaan-pertanyaan dari jamaah pun sangat beragam.

Terkait berinovasi, Mbah Nun mengajak jamaah untuk terus selalu bergerak. Baik bergerak akal pikirannya, maupun bergerak jasmaninya. Dalam menerima segala sesuatu pun kita sangat tidak dianjurkan untuk menelannya mentah-mentah begitu saja. Mentang-mentang ada yang bilang malaikat tidak akan masuk rumah kalau ada anjing, patung, sama gambar manusianya, nanti semua jadi pada kepingin memelihara anjing biar malaikat Izra’il tidak masuk mendatanginya. Kan enggak begitu juga.

Di antara sekian banyak penanya, ada yang menanyakan maksud dari tema itu sendiri. Inovasi apa yang dimaksudkan di sini. Mbah Nun mengawali dengan memberikan sedikit gambaran, inovasi itu yang sudah ada diperbaiki menjadi yang lebih baik lagi. Dalam hal ini, Mbah Nun juga mencoba mengaitkannya dengan mujahid dan mujtahid. Kalau mujtahid itu lebih cenderung berkaitan dengan akal pikiran, sedang mujahid itu lebih menyeluruh.

“Semua orang itu inovator, cuma kadarnya berbeda-beda.” Di sini seolah Mbah Nun mengingatkan, asalkan kita masih hidup, kita masih bisa berinovasi. Meskipun tetap harus digarisbawahi, kadar inovasi dan apa saja yang diinovasi setiap kita tidaklah sama. Dan itu tidaklah berdosa.

Ya, selagi masih menjadi bagian dari makhluk hidup, selama itu pula kita harus terus belajar berinovasi. Bukankah bergerak adalah bagian dari ciri-ciri makhluk hidup? Kalau kita berhenti, mandek, tidak melakukan inovasi apa-apa, ketika itu berarti kita telah mati. Meskipun kita masih bernapas, tapi hidup kita tidak hidup. Hidup kita tidak sempurna karena telah menanggalkan bagian dari tanda-tanda hidupnya kita, ‘bergerak’.

“Siapapun yang tidak mengikuti perubahan zaman, tidak mau berubah, selesai.” Pak Nuh mencontohkan produk-produk yang pernah jaya pada masanya, akan tetapi sekarang tak lagi tercium bau jejaknya. Sebelum melangkah lebih jauh, Mbah Nun juga turut mengingatkan, bahwa yang dimaksud di sini, mengikuti zaman itu hanya di awal saja. Setelah itu kita harus bisa menunggangi zaman, kita harus berada di depan, kita harus menjadi fa’il dari perubahan.

“Untuk berubah, itu perlu yang namanya kreativitas.” Dengan penuh kesabaran, Pak Nuh menjelaskan secara detail kepada para jamaah. Untuk bisa kreatif, kita perlu untuk belajar berpikir yang berbeda. Tentunya, yang dimaksud di sini bukan asal beda. Akan tetapi, beda yang membawa kebermanfaatan.

“Orang itu akan bisa kreatif tergantung bagaimana caranya ia berpikir.” Seolah membuka harapan baru, Pak Nuh menegaskan bahwa kemampuan berpikir itu bukan melulu soal warisan genetis. Akan tetapi, ini bisa kita bangun. Menghafal, mengerti, dan bisa menerapkan ini merupakan tahap awal berpikir. “Berpikir orde rendah.” Begitu Pak Nuh menyebutnya. Kalau kita hanya berhenti di situ, kita akan kalah ditinggalkan zaman. Kita perlu meng-upgrade-nya. Kita perlu belajar menganalisa. Tanyakan mengapa. “Kalau kita terbiasa menganalisis, kita akan terbiasa mengevaluasi, terbiasa mencari kelebihan dan kekurangan, akhirnya bisa berinovasi.”

Inti dari berinovasi menurut Pak Nuh ini sama dengan yang telah disampaikan Mbah Nun. “Mempertahankan yang lama yang masih baik, memperbarui dan menambah yang lebih baik.” Dan tidak lupa, semua ini harus tetap didasari dengan be your self. Jadilah dirimu sendiri. Sebagaimana yang seringkali Mbah Nun singgung, kalau kita ayam, jadilah ayam yang baik. Kalau kita bebek, jadilah bebek yang baik. Jangan sampai kita kehilangan keayaman kita, kebebekan kita.

“Di sini (Maiyah), tempat berkumpulnya siapapun, dari latar belakang manapun. Berkumpul di sini untuk meningkatkan kualitas hidup.” Semburat optimis terpancar dari wajah teduh Pak Nuh melihat kerumunan pemuda yang menyemut di lapangan itu. Acara segera dipungkasi. Dan semua harus kembali belajar memuasai rindu. Sementara Mbah Nun izin mohon maaf untuk tidak bisa bersalam-salaman, pesan Mbah Nun pun kembali terngiang-ngiang, “Pikiranmu harus inovatif, budayamu harus kaya.”

Indah. Begitulah kiranya yang menggambarkan sinau bareng di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya malam itu. Baik keindahan yang bisa ditangkap oleh mata lahir, maupun mata batin. Ya, paling tidak, ini indah versi saya. Keindahan yang Berlandaskan Kebenaran Masih sore, tapi tidak sedikit pemuda…