Piala[ng] Dunia

Mukadimah Bangbang Wetan Juni 2018

Dunia yang mestinya menjadi sekolah bagi penajaman nilai-nilai kemanusiaan, kian berkembang dan menemukan format barunya sebagai ajang kompetisi serta lahan subur eksploitasi kepentingan-kepentingan. Vested interest yang kapasitasnya dipenuhi oleh pihak-pihak tertentu di segala tingkatan: lokal, domestik, regional, hingga global. Kepentingan itu jugalah yang semakin nyata memiliki andil terbesar dalam tumbuh kembangnya peradaban.

Di antara centang perenang tata kelola dan para aktor serta sutradara yang meramaikan panggung kekinian itu, terdapat satu nama yang ikut memberi warna dan menambah semaraknya repertoar kesejagatan. Yakni pialang. Ia bisa tunggal maupun jamak, temporer atau menetap. Sering kali partisan meski tak jarang berbentuk institusi legal formal. Yang pasti, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, subjek yang sering disebut pula sebagai makelar ini hadir sebagai perantara antara dua atau lebih pihak yang sedang mengadakan proses jual beli. Motifasi, tujuan, dan cara yang ditempuhya hanya satu: keuntungan maksimal hanya untuk dirinya.

Hadir dan terus berlanjutnya pialang, makelar, calo, combe, atau broker pada semua skala ini nampaknya lahir dari dan ditujukan kepada terpenuhinya kebutuhan primer manusia (sandang, pangan, papan) dan penguasaan sumber daya (alam dan manusia) yang menjadi tambang sekaligus katalisatornya.

Berkembang pesat dari makna dasarnya, yang melulu terkait dengan proses jual beli, kita melihat betapa pialang bisa menjadikan semua jenis interaksi sebagai ladang dan lumbung pendapatan. Apapun itu, asalkan memenuhi syarat tersedianya ruang kosong di antara pihak-pihak yang sedang berhubungan, adalah kebun berbuah lebat yang menjanjikan limpahan panen dan perolehan.

Contoh terdekat yang bisa kita diskusikan adalah momen Piala Dunia. Peristiwa keolahragaan sepak bola antarnegara yang menyerap modal sekian triliun kapital dan perhatian berjuta mata penduduk dunia. Contoh berikutnya, tentu saja, pemilihan kepala daerah yang entah bagaimana disebut sebagai pesta demokrasi. Harap diingat, pemilihan pemangku wilayah ini akan diikuti oleh eskalasi suhu dan situasi karena tahun depan–pada tataran negara–Indonesia harus memilih untuk mengganti atau melanjutkan “wakil rakyat” dan “presiden” yang ada. Sengaja bertanda kutip karena tahu sama tahu antara kita.

Rentang pengaruh dan wilayah kerja pialang secara progresif mengalami pemekaran yang signifikan. Meloloskan anak ke sekolah kenamaan, menjadikan kerabat bisa duduk di kursi terpandang, menitipkan bibi atau paman di kelas perawatan lebih tinggi dari hak dan peruntukan, hingga membuat seseorang tenar sebagai artis atau biduan. Tak kalah menarik untuk dibicarakan adalah bagaimana orang-orang atau koloni tertentu menjadi calo bagi posisi surga atau neraka orang dan kelompok lain. Tidak berlebihan bila disebut bahwa bukan hanya kawasan parkir, konstituen dan wilayah kekuasaan yang harus mengalami proses pengkaplingan. Akhirat pun nampaknya tak tersisa lagi untuk mereka yang belum menitipkan beberapa urusan ke tangan sang makelar.

Sedemikian hinakah dia atau mereka yang pernah, sedang, atau mungkin mencita-citakan menjadi pialang? Seperti dosa waris atau kutukan, seolah tak tak ada lagi sisi baik yang tersisa dan layak dibanggakan?

Masih dalam atmosfer Idulfitri yang memberi rasa syukur dan kelapangan, mari kita bahas bersama hal ikhwal Piala[ng] Dunia di halaman Balai Pemuda di ujung Juni, walau Syawal masih pertengahan. Sampaikan pendapat kita dengan leluasa dan tanpa keraguan.

Dunia yang mestinya menjadi sekolah bagi penajaman nilai-nilai kemanusiaan, kian berkembang dan menemukan format barunya sebagai ajang kompetisi serta lahan subur eksploitasi kepentingan-kepentingan. Vested interest yang kapasitasnya dipenuhi oleh pihak-pihak tertentu di segala tingkatan: lokal…