Pertemuan Pertama dan Pesan Terakhir Maestro Seruling KiaiKanjeng

Sabtu sore, kami mendapat kiriman foto dari grup WA jamaah Maiyah yang mengabarkan bahwa Pak Is, sang empu seruling KiaiKanjeng sedang dirawat di rumah sakit dan sedang dalam kondisi kritis. Malam minggu bertepatan dengan agenda rutin shalawatan teman–teman di Majenang, sebelum memulai kegiatan shalawat seperti biasa, malam itu kami mengkhususkan mengirim doa untuk Pak Is, dengan harapan beliau mendapat kesembuhan dan diangkat penyakitnya.

Minggu pagi, sekitar pukul 05.00, grup WA sudah masuk ratusan chat. Semua pesan berisi do’a dan bela sungkawa atas kepergian Pak Is.  Mendengar kabar beliau sudah berpulang, seketika mata berkaca-kaca. Saya langsung japri adik saya, yang ternyata dia juga merasakan hal yang sama. Ya… saya dan adik saya Fatwa ialah penggemar Pak Is. Kami berdua ngobrol di chat, membicarakan pengalaman pertama kali bertemu dengan beliau.

Waktu itu, ada acara ngaji bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di alun-alun Purbalinga. Saya dan Fatwa yang waktu itu baru saja dari Yogya, langsung ke Purbalinga sebelum pulang ke Majenang. Ketika acara hendak dimulai, personel KiaiKanjeng keluar dari pendopo alun-alun. Menempati kursi yang disediakan panitia sebelum nantinya kepanggung. Tapi tidak dengan Pak Is, beliau justru memisahkan diri, pergi ke belakang panggung untuk rokokan.

Kami yang dari awal memperhatikan beliau langsung menghampiri, bertegur sapa dan ngobrol ke sana kemari di tepian alun-alun tepat di belakang panggung acara. Kami yang bocah merasa pekewuh ngobrol dengan beliau. Tapi Pak Is begitu terbuka, cerita banyak hal tentang pengalaman bersama KiaiKanjeng, pengalaman beliau ketika bersama grup dangdut Roma Irama,  juga pengalaman beliau sebagai orang yang disegani di kampungnya.

Terakhir sebelum beranjak ke panggung, beliau berpesan kepada kami.

Le… pokoke koe pada sinau sing bener, lih Maiyahan sing temenan. Percaya ming gusti Allah, Kanjeng Nabi karo ming kata-katane Cak Nun. Ngesuk sing bakal mimpin karo ngrubah Indonesia ya koe-koe pada. Pokoke sing pada serius lih sinau. Aku gelem ngane ngene juga modale karna temanan lih sinau.”

Nak, pokoknya pada Sinau yang benar, Maiyahan yang sungguh-sungguh. Percaya hanya kepada Gusti Allah, Kanjeng Nabi dan kata-katanya Cak Nun. Besok yang bakal memimpin dan mengubah Indonesia ya kalian semua. Pokoknya semua pada serius kalo Sinau. Aku mau begini ini juga modalnya karena Sinau sungguh-sungguh.

Sebelum beliau ke panggung, kami serahkan sebatang rokok ukuran jumbo, panjang 20 cm diameter 5 cm. Rokok racikan dari Mbah kami di Kebumen, rokok dengan tembakau, cengkeh, dan menyan yang diracik khusus. Rokok sebagai tanda kenang–kenangan kami bisa bersapa dengan beliau. Beliau menyambut dengan senyum dan peluk hangat, kemudian beranjak ke panggung.

Terimakasih Pak Is, engkau berbadan kecil tapi jiwamu besar. Selamat jalan Pak Is, kami tak yakin jika engkau tidak di surga bersama sang kekasih Muhammad Saw.